Sunday, 4 January 2015

Menyisir Ikon Depok


                                                  Mendarat Di  Ikon Depok

Pada  Minggu 16 November 2014 kami ber-6 mengadakan perjalanan menyusuri Depok. Nana, Indra, Ita, Iis, Dian dan saya menikmati akhir pekan dengan suka cita. Meskipun pada awalnya harus bermain petak kumpet dengan petugas jalan tol. Hehehe maklum saja kebiasaan kurang baik, naik dan turun di tengah jalan tol sudah menjadi kebiasaan di daerah sepanjang tol Merak – tangerang. Awal tujuan utama yaitu menuju masjid Kubah Emas. Menjelang keberangkatan kemudian berubah rute ke perpustakaan UI. Kami sama-sama meraba rute baru, ihwal baru pertama menginjakkan kaki di sekitar UI. Usai turun dibawah jembatan penyebrangan kami harus berjalan jauh, sekitar 3 km kami tempuh. pemnadangan yang asri dan sejuk mengelilingi kampus yang menjadi andalan Indonesia itu.

Tercengang Di Perpustakaan UI 


Sebelum menapaki perpustakaan UI yang bentuknya seperti gundukan itu, kami mampir menunaikan sholat dzuhur di masjid Ukhuwah Islamiyah milik UI. Masjid kebanggaan itu bersampingan dengan danau yang menghampar hijau. Berbarengan dengan itu, awak kampus sedang mengadakan suatu event. Mereka tampak sejuk dengan hijab mereka yang lebar dan mengulumkan senyum ramah. Sebenarnya ada rasa betah, sebab angin yang sepoi-sepoi menghembus dari danau membuat kami nyaman beristirahat diatas serambi yang luas, sambil menunggu teman yang berlama-lama di toilet yang bersih.




Mejeng dibalik gedung



Di depan gedung perpustakaan UI

Di dalam perpustakaan UI
Dari jauh, di tepi danau yang indah, kita sudah bisa melihat gedung megah tersebut laksana tempurung raksasa dengan tiga menara utama. Plus atasnya yang berumput hijau (futuristic) hasil karya perusahaan dan arsitek Indonesia. Area perpustakaan ini juga bebas asap rokok, hijau, hemat listrik, kertas dan air. Kita tentu tidak perlu khawatir akan polusi udara di sana. Karena tempatnya sangat nyaman, maka tak heran bila ada mahasiswa bisa menghabiskan waktu mulai jam delapan pagi sampai jam tujuh malam. Perpustakaan ini merupakan salah satu yang terbesar, termodern dan terindah di Asia Tenggara.

Tidak harus mahasiswa UI  yang dapat menikmati fasilitas perpustakaan UI ini. Terbukti kami bisa masuk dengan mudah. Tetapi kami harus registrasi dahulu dengan petugas perpustakaan. Uang 5000 perak sebagai uang masuk, kami diberi stiker bulat kuning yang diletakan di dada, dan diberi satu kunci untuk meletakkan barang bawaan (misal tas, jaket). Karena kami orang luar, jadi tidak diperkenankan meminjam buku, jika ingin membaca boleh. Kalau mau ada foto copy yang disediakan disana. Memasuki ruangan kami disambut tembok bertulis "baca"  yang ditulis relief dalam berbagai bahasa.

Fasilitas umum terdiri dari ruang apung Cinema, Gym, studio musik dan broadcast, ruangan yang ada di lantai 5,6,7 dan 8 serta seluruh area tenant yang ada di sekitar gedung. Fasilitas perpustakaan terdiri dari area lantai 1 (minus area tenant dan cinema) ruang komputer, lantai 2, 3 dan 4. Di sana terdapat ruang diskusi tertutup, ruang kelas multi media dan ruang kubikus. Untuk menggunakan masing-masing fasilitas di perpustakaan ini, tentu kita harus mematuhi prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan.


Universitas Indonesia mengenalkan perpustakaan baru yang diklaim perpustakaan terbesar di dunia. Perpustakaan dengan nama The Crystal Knowledgedibuka pada 13 Mei 2011. Perpustakaan itu menempati lahan 2,5 hektar dengan luas bangunan 33.000 meter persegi.
Perpustakaan dilengkapi teknologi paling modern. Pengunjung dapat menikmati buku dalam bentuk hard copy atau digital. Perpustakaan dapat dinikmati mahasiswa di Aceh, Papua, dan di mana saja. Kami berharap ini memberi sumbangan kemajuan Indonesia.

Perpustakaan bisa menampung 3-5 juta judul buku, dilengkapi ruang baca, serta 100 silent room bagi dosen dan mahasiswa. Diharapkan dari 100 ruangan itu akan lahir minimal 100 jurnal internasional.
Tak hanya tempat membaca, perpustakaan UI menjadi tempat pertemuan mahasiswa, dosen, dan publik. Di sana dilengkapi taman menghadap danau, restoran, bank, serta toko buku. Perpustakaan itu dari jauh seperti tempurung raksasa dengan tiga menara utama

Perpustakaan Pusat UI itu dapat menampung sekitar 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau 20.000 pengunjung, ini terhubung dengan pusat pembelajaran dan perpustakaan lain di dunia.
Pada Mei 2011 digelar Soft launching Perpusatakaan UI oleh Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh, dan Grand Opening pada Juni 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Gedung Perpustakaan Pusat UI (The Crystal Knowledge) yang dibangun sejak Juni 2009.

Tak habis-habisnya kami tercengang di dalam ruangan sana, mengingat kecanggihan perpustakaan yang baru dijumpai. Pertemuan yang singkat tak membuat kami sempat membaca, yang ada hanya foto-foto narsis dan mencari skripsi bekal salah dua dintara kami yang akan menyusun skripsi. 

Wisata Religi Di Kubah Emas

Gerimis kian memadat usai kunjungan yang serasa belum puas itu. Usai melewati stasiun Universitas Indonesia hujan semakin melebat. Terpaksa kami harus berteduh di gang Pocong. Gang yang berada di belakang stasiun itu terlihat ramai dengan banyak penjual dan usaha-usaha yang beraneka ragam dijumpai.

Akhirnya, kami menjumpai jalan raya. Jalan yang harus ditempuh menuju Kubah Emas tak singkat. Jika naik angkot harus 3 kali turun naik. Namun kami mengambil inisiatif untuk mencarter angkot yang nangkring dipinggir jalan raya. Tawar menawar sampai harga deal disepakati. Bang Haji sebutanya, mantan TKI yang bekerja di Arab Saudi menjadi supir yang mengantarkan kami hingga pintu masjid dan mengantarkan kami sampai Kampung Rambutan.


Masjid Dian Al-Mahri Depok. Mesjid Kubah Emas yang terletak di Kota Depok memiliki nama asli Masjid Dian Al-Mahri. Masjid ini di bangun sejak tahun 2001 dan selesai pada akhir tahun 2006 dan pada tanggal 31 Desember 2006, masjid kubah emas depok resmi dibuka untuk umum. Dalam catatan sejarah, Masjid Kubah Emas Depok atau Masjid Dian Al-Mahri di bangun oleh seorang pengusaha asal Banten yaitu Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Dian Al-Mahri juga kerap dijadikan sebagai salah satu wisata keluarga atau wisata religi masjid kubah emas, karena bentuk kubah-kubahnya yang dibuat dari emas, membuat orang-orang tertarik untuk mengunjunginya.

Kenapa Masjid Dian Al-Mahri disebut juga Masjid Kubah Emas? Bagaimanakah asal usul nama masjid kubah emas depok? untuk selengkapnya, silakan Anda simak sejarah singkat serta arsitektur masjid kubah emas depok berikut ini.

Masjid Dian Al-Mahri (Masjid Kubah Emas) resmi dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Di bangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Masjid ini memiliki luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara.

Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton.

Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia.

Sebagai salah tempat wisata religi, masjid ini menyediakan fasilitas-fasilitas untuk penunjang yang bisa membuat pengunjung semakin betah berlama-lama di sini, di antaranya mini market, restoran, kios makanan, toko butik, rumah penginapan, gedung serbaguna, auditorium, gedung Islamic Center, dapur umum, dan toko suvenir. Wisatawan yang berniat mampir ke toko suvernir dapat membeli aneka cenderamata, seperti cangkir, pin, kaos, mukena, sajadah, songkok, dompet, jam, piring, dan lain-lain.

Selain itu, masjid ini mempunyai tempat parkir seluas 7.000 meter persegi yang dapat menampung 300 kendaraan roda empat atau 1.400 kendaraan bermotor. Sistem pengamanan kompleks masjid ini diserahkan kepada para satpam yang bertugas di lokasi masjid. Bagi para pengunjung yang ingin berfoto di lokasi masjid ini tidak perlu khawatir, karena di sini terdapat banyak fotografer yang menawarkan jasa foto.

Pengunjung yang ingin berwisata rohani ke masjid ini juga dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan masjid ini secara rutin, di antaranya kegiatan tausiyah umum setiap hari Selasa, Rabu, Sabtu, dan Minggu pada pukul 10.30—12.00 WIB.

                       

Friday, 12 December 2014

Berbagi Cerita Menja di Peserta Program Golden Ways


               Berbagi Cerita Menja di Peserta Program Golden Ways 

                Menjadi peserta di acara live sebuah progarm TV merupakan hal yang baru buat kami. Awalnya hanya sekedar ikut teman yang mengagumi sososk Mario Teguh. Sebelumya di tahun 2011 saya pernah mengikuti audisi di stasiun TV di Jakarta Selatan sebelah gedung bank Mega.Lebih mencari hiburan dan pengalaman semata sebenarnya. Belajar dan memahami karakter  juga diantaranya.Lebih nyata dan lucu terekam sempurna dalam otak kami, betapa antusias dan kepercayaan diri penanya yang lagi-lagi mengulang untuk tertawa. Apalagi dengan tema sore itu “Jodoh Ekspres”.
                E tiket kami  dapatkan dengan cara mendaftarkan diri di blog mario teguh www.redmario.com. Setelah mengisi, tak lama kemudian e ticket dikirim melalui email yang telah kita kasih saat pendaftaran. Tanpa di pungut biaya sepeserpun menjadi antusias kami, terlebih bisa masuk TV. Dengan membawa e ticket yang diprint dengan ukuran panjang 18 cm x 8.5 cm tanpa warna kami dari Serang melaju gedung yang berlogo elang itu, kebetulan bertepatan di waktu libur kerja. Dengan catatan memakai baju yang formal, sopan (batik lengan panjang), tidak memakai sandal juga membawa ganti baju.
 

e tiket

                Siapasih yang tak mengenal sosok Mario Teguh? Tokoh motivator ternama di Indonesia yang mengusung slogan “Golden Ways”. Sikapnya yang ramah, santun , nasehatnya yang bijak dan penyayang membuat idola tersendiri bagi para pengagumnya. Betapa tidak ketika sebelum naik ke panggung acara, pak Mario selalu meminta doa, memegang tangan istri dan menciumnya. Sang istri setia mendampingi dengan memegang air minum sang suami.


                Sebelum acara dimulai, para peserta diberi snack dan air minum dengan menukar e ticket dan mengisi poling dengan memilih jawaban atas pertanyaan. Kopi dan teh anget juga sediakan. Wajar saja dalam waktu acara dimulai, peserta tidak boleh membawa makanan dan tas. Telepon selulerpun harus dimatikan, menurut para crew karena sinyalnya akan mengganggu proses shooting kamera.Breefing sebelum acara dimulai menjadi hal wajib demi kelancaran acara tsb. Dipandu oleh pembawa acara Hilbram Dunar dan crew. Seperti siapa yang akan bertanya, curhat atau menelpon sudah disiapkan. Jika penanya yang naik panggung biasanya sebelunya di makeup dahulu. Belajar untuk tertawa, tepuk tangan dan intruksi lain.
suasana di dalam studio

                Bagi yang mengikuti taping ke-2, team MTSC (Mario Teguh Super Club) juga mempersiapkan makan malam dan kembali mengisi poling.Karena masjid terdekat terletak sekitar 200 m dari gedung, panitia menyiapkan permadani sebagai tempat sholat yang terpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan.Bukan hanya itu, bagi peserta yang bertempat tinggal sekitar wilayah Pulo Gadung, Bogor, Tangerang & Bekasi disediakan transport. Mini bus blue bird berkapasitas 25 orang itu yang mengantar kami. Jurusan Tangerang kami naiki walaupun hanya mengantar kami sampai Kebon Jeruk.
                Pelajaran yang berharga dari perjalanan 15 September 2013. Dihargainya kami menjadi peserta diprogram Golden Ways sangat kami rasakan. Walaupun demikian motivator ternamapun tidak mengubah siapapun jika dari bukan diri sendiri untuk merubah dan mecoba mulai beraksi.Jalan ikhtiar menuju pencerahan dengan cara berbagi itu meringankan beban dan membuat kami banyak bersyukur. Sesuai janji Allah jika kita pandai berayukur maka nikmat akan ditambah, namun jika kita kufur, maka siksa Allah sangat pedih.

Friday, 28 November 2014

Menjadi Ibu Negara (*edisi curcol)


                                                       Menjadi Ibu Negara

Belum lama ini aku mengamati tingkah laku para istri dibelakang  para bapak yang sukses dikancah komunitasnya. Setelah melihat sosok ibu Iriani di televisi yang mendampingi orang nomor satu di Indonesia muncullah ide untuk menuliskan ihwal ini. Sosoknya yang sederhana dan menjadi diri sendiri menjadi sorotan seluruh media. Kemudian kemarin mataku tertuju pada sosok pendamping yang lain.  Wanita itu sangat ramah, menjamu teman-teman suami dengan senyum merekah dan tak henti-hentinya mengumbar obrolan hangat pada tamu. Dandananya elegan tetapi ada bagian tertentu yang terlihat mewah. Ada juga dengan karakter biasa, maksudnya ia bertingkah laku tetap menjadi diri sendiri  dengan keramahan yang sederhana, dengan dandanan yang sederhana pula.Ia akan menjadi sangat ramah dengan orang-orang yang dekat dengan dia.

Aku jadi teringat beberapa tahun silam saat masih sangat dekat seseorang. Dimana aku tetiba menjadi nyonya diantara sekelompok komunitas baru. Menjadi sosok dibalik lelaki yang lebih menonjol tentunya akan diperhatikan gerak-geriknya. Tak mesti menjadi artis, tapi  disaat itulah mata sekelompok tertuju padaku. Pengalaman baru dengan teguran yang lumayan nendang. Ya, aku dicap kurang ramah menyambut, melayani teman-temannya.

Bukan untuk yang pertama kali, bahkan sudah tak terhitung parasku yang dicap jutek. Karakter aku memang kurang bisa diseting berpura-pura ramah renyah dihadapan orang-orang baru. Sadar sesadarnya untuk mencoba merubah, rupanya tidak mudah. Pernah ada yang mengiraku orang batak, karena wajahku yang datar dan tegas. Adapula yang mengatakan aku angker, misterius dan abstrak. Sampai-sampai aku paling tidak mau menjadi SPG dari dulu, mengingat karakter yang demikian plus kurang bisa memoles muka dengan make up. Aku memang tidak ramah dengan orang yang tidak dikenali, tapi jangan salah aku akan menjadi sangat baik jika sudah berteman baik, apalagi akrab.

Pelayanan dari ibu negara pastinya berbeda-beda. Karakter itulah yang menjadi pembeda. Ada yang memang pendiam, jutek humoris, periang dll. Ada pernyataan “Ramah itu ada batasnya, jutek itu selamanya” Kalau memang dasarnya ramah pastinya dia memang benar ramah, tetapi jika dasarnya jutek biasanya akan cape dengan berpura ramah dan ia akan kembali menjadi jutek. Di situlah kaum ibu negara berperan untuk turut serta menjaga harkat martabat suami dimata teman-temannya. Mereka sanggup untuk memantaskan diri sebagai pasangan suami. Disamping itu perlu adanya sikap dewasa, sigap menyesuaikan diri untuk menghadapi suasana apapun dan mampu mengimbangi kebutuhan keadaaan.

Pekerjaan rumah yang besar bagi istri atau calon istri. Sudah seharusnya istri mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekedar dengan pandangan mata. Seorang istri diharapkan menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaanya di depan suami tercinta. Mengenai hal ini, kebutuhan wanita  bisa terlihat cantik untuk menentramkan hati suami.

Apapun karakter, dalam pernikahan tidak melihat dari mana pendidikan universitas mana. Tapi sama-sama memberikan keamanan, kemaslahatan dan kenyamanan dalam pernikahan. Agama memegang peran penting di dalamnya. Sama-sama berkomitmen pada panduan Allah dan RosulNya.

Menjadi ibu negara seperti apa nanti? Entahlah sampai sekarang saya belum ditemukan dengan kepala negara Aku akan tetap menjadi diri sendiri, dan jutekku pada porsinya hehe


Friday, 21 November 2014

Belajar Kesetiakawanan Dari Vespa


                                                      Belajar Kesetiakawanan Dari Vespa


            Kekuatan vespa adalah brand itu sendiri yang sudah begitu melekat. Di Indonesia, penggemar fanatik skuter ini mencapai 40 ribu orang atau yang terbesar ke-2 setelah Italia. Merupakan kendaraan yang ikonik dan stylish. Vespa adalah merek sepeda motor jenis skuter yang berasal dari Italia. Perusahaan induk dari vespa sendiri adalah Piaggio. Vespa dalam bahasa Itali memiliki ari sejenis lebah atau tawon.
            Aku mencoba memaparkan pengalaman perjalanan wisata Anyer bareng komunitas vespa beberapa minggu yang lalu, tepatnya pada tanggal 18-19 Oktober 2014. Memboceng vespa yang berwarna biru jenis super (speed 150S) tahun 75 milik temanku. Menjadi bagian dari mereka untuk pertama kalinya tentunya hal yang baru. Ada banyak gambaran yang selama ini hanya mendengar dari teman-teman vespa, dan saat itu aku merasakan sendiri solidaritas kebersamaan bersama mereka. Ada 30 vespa yang mengikuti acara tsb dengan jenis vespa klasik dari komunitas vespa Jakarta Timur yang diketuai oleh Adri.
            Berkomunitas vespa tentunya tidak menonjolkan ego individu, tetapi lebih untuk membentuk persaudaraan dalam satu komunitas guna mempererat tali persaudaraan antara sesama penggemar vespa. Ketertarikan seseorang bergabung dengan komunitas merupakan pilihan hidupnya, yang kemudian menjadi bagian dari gaya hidup sesorang. Terlihat jelas sebelum berangkat sebelum pukul 23.00, kami briefing dan membentuk lingkaran, sang ketua memberitahu rute dan menunjuk 3 petugas. Yakni petunjuk jalan yang menjadi panutan rute jalan yang memimpin perjalanan,  mekanik sebagai tekhnisi handal jika ditengah jalan ada kerusakan pada vespa, berada di tengah rombongan dan  petugas P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Sebelum benar-benar berciuman dengan aspal, kami berdoa dan memulainya dengan menyatukan tangan menyerukan semangat.
            Gaya hidup komunitas vespa lebih berorientasi pada kebebasan. Ekspresi gaya hidup komunitas vespa ditampilkan melalui penampilan para scooterist seperti cara berbusana, gaya rambut, gaya bicara dan kebiasaan yang tampak dari para scooterist serta model vespa yang mereka naiki. Sering vespa tidak akan jauh dari musik reggae dan rambut gimbal. Ihwal tsb kembali kepada selera pengguna vespa. Solidaritas dalam komunitas vespa masuk dalam solidaritas sosial mekanik, dimana didasarkan atas persamaan, kepercayaan dan kesetiakawanan. Hal ini sejalan dengan prinsip yang dijalankan oleh komunitas vespa, dimana tidak ada kelompok-kelompok  di dalamnya. Artinya  di dalam komunitas vespa semua tidak ada yang diistimewakan.  Rasa solidaritas terhadap schooterist diwujudkan dalam kesetiakawanan yang erat dalam komunitas vespa. Kesetiakawanan ini kemudian diwujudkan para scooterist dengan perilaku yang selalu peduli terhadap sesama scooterist. Mereka memiliki naluri kedewasaan dan kematangan dan berwawasan dalam berperilaku dan bertindak. Lebih mengedepankan aspek silaturohmi, menyalurkan hobi otomotif.
aku di antar deretan vespa dengan kostum touring have fun to Anyer


            Seperti yang tergambar sepanjang malam Minggu itu. Tak terhitung berapa kali berhenti bukan untuk istirahat. Melainkan menunggu teman yang lain yang sedang mengalami kerusakan mesin. Kami akan melanjutkan setelah kondisi mesin diperbaiki dan layak jalan. Ada banyak isyarat mereka yang kerap aku lihat. Suasana kekeluargaan dan kegotong royongan terekam jelas oleh mata telanjangku. Dengan penasaran aku menanyakan hal-hal kecil tentang vespa, meskipun bentuk dan jenis-jenis vespa yang dijelaskan hingga sekarang aku belum paham, begitupula dengan sejarahnya. Tanda atau isyarat itu seperti kaki mengayun-ayun pertanda jalan rusak, tangan kiri yang mengayun-ayun pertanda ada kendaraan yang lewat, tangan kanan mengayun-ayun pertanda ada kerusakan vespa. Salut dengan kebersamaan mereka yang beraksi tanpa banyak mulut. Kedewasaan yang mampu menurunkan ego masing-masing. Semua schooterist melambaikan tangan dengan ramah kepada sesama pengguna vespa dimanapun mereka berada selama menyisir perjalanan. Mereka juga tak segan-segan turun membantu jika ada kerusakan vespa walaupun bukan dalam satu komunitasnya.
            Mereka juga bisa dengan mudah tidur dimana saja dengan mudah. Bisa jadi kondisi badan yang capek memudahkan mereka tidur di lantai atau hanya beralaskan tikar tipis beratapkan langit.  Aku mencoba mengikuti gaya mereka saat beristirahat di pom bensin Sentul Serang. Dini hari menjelang fajar, pastinya suasana dingin yang sangat menghantam tubuh pengendera. Kuajak temanku untuk tidur diemperan pom bensin, setelah melihat mereka tergeletak dan terlelap. Apa yang aku rasakan saat itu seperti tuna wisma dan para gembel jalanan. Tak henti aku terus terbayang dan membicarakan kepedihan para penjaja jalanan. Hingga temanku menegur agar tak menerus membahas yang sama, kemudian aku terlelap sesaat dan terbangun adzan subuh dengan berselimut jaket dia. Tetiba dia sudah tidak ada di sampingku, rupanya ia sedang mencari rokok di warung yang di dekat jalan utama. Sementara sebagian yang lain ada yang terlelap ada juga yang menunaikan sholat shubuh.
sosok yang aku boncengi

            Tudingan miring terhadap vespa kembali kepada pengguna vespa. Tidak ada yang salah dengan vespa. Vespa bersifat netral. Saran bagi komunitas vespa yaitu, agar komunitas vespa tetap patuh pada aturan dan tidak menjadikan kebebasan sebagai alasan untuk melanggar hukum, serta tetap menjaga solidaritas antar sesama. Terhadap penilaian masyarakat eksistensi komunitas vespa bisa diterima dengan baik sehingga memotivasi anak-anak vespa untuk bersikap dan berperilaku yang baik juga dimata masyarakat.
           
            Lantas, jika aku tetiba diajak kembali berwisata jalanan seperti saat itu, aku akan.......