Saturday, 18 April 2015

Menghamba di Tanah Haram (umrah part IV)


                                                            Menghamba di Tanah Haram
*Proses menghamba

            Iman yang mengantarkan kita pada satu keyakinan bahwa segala yang tercipta di muka bumi  adalah atas kehendak Allah SWT. Dan jika Allah berkehendak, tidak ada yang dapat kita mencegahnya. Sedangkan amal sholeh akan mengantarkan kita pada sikap diri yang selalu berorientasi kepada perilaku terpuji dan moralitas terbaik dalam menyikapi berbagai dinamika kehidupan. Iman akan menjadikan kita semakin yakin akan kekuasaan Allah dan pada saat yang bersamaan kita mengakui kelemahan dan keidakberdayaan untuk selanjutnya kita tumbuhkan sikap tawakkal. Pada saat yang bersamaan, amal shaleh akan menjadikan kita sebagai pribadi yang selalu berpikir positif dan berperilaku positif,  sehingga tiada sedetikpun waktu yang terbuang kecuali diisi dengan halhal positif. Iman dan sholeh inilah yang sejatinya mampu mengantarkan kita sebagai makhluk yang mampu mengubah percakapan ketakutan menjadi motivasi.

Suasana keberangkatan Cengkareng - Kuala Lumpur

capture dari jendela pesawat
            Tidak dipungkiri ketika sudah niat hingga menjelang keberangkatan menuju Tanah Haram masih hantui ketakutan adanya balasan atau lebih kerasnya aku katakan siksa dunia yang cepat ketika ada lontaran ungkapan baik atau buruk di tanah Suci. Ketakutan saat menaiki pesawat, mengingat yang belum lama ini terjadi musibah jatuh Pangkalan Bun dll. Jasad-jasad mereka ditemukan dalam keadaan yang tidak untuk dan dalam keadaan membusuk, itu sangat mengerikan. Sesungguhnya ketakutan itu cara diri yang dubutuhkan agar senantiasa muncul kesadaran dalam menjaga diri dari kemungkinan keburukan. Namun akan sangat bahaya jika terus menerus ketakutan itu tumbuh. Kita kan dikurung ketakutan, padahal banyak hal positif yang kita lakukan. Dan pada akhirnya kita hanyalah makhluk kerdil; terkalahkan oleh ketakutan. 
           
            Lalu mengapa harus takut? Kematian itu pasti adanya dan tidak bisa ditolak kedatangannya. Maka kita perlu menyiapkan diri untuk senantiasa berada dalam kebaikan moral agar kapanpun menjemput, kita dalam keadaan iman yang penuh dan amal yang sholeh. Sering kita mendengar dengan kata memantaskan diri. Nah, maksud yang tertera adalah menyelimuti diri dengan iman dan amal yang sholeh. Disinilah seharusnya kematian disikapi dengan peningkatan kualitas ibadah dan amal shaleh, bukan untuk dipikirkan yang tak kunjung usai. Hal ini akan merusak tubuh dan menghambat kita dalam mencipta kebaikan hidup. Selanjutnya kita serahkan kepada Allah. Gabungan antara usaha dan kepasrahan saling berkaitan. Tiada kepasrahan tanpa usaha, dan usaha potensial menjadi sia-sia jika tidak disertai kepasrahan.

            Ketakutan yang tidak disikapi dengan iman dan amal sholeh sangat potensial melahirkan stress yang menghambat langkah kita menuju kesempurnaan kehambaan yang sudah dijanjikan surga bagi yang sukses meraihnya.Seperti halnya virus yang menyerang tubuh, sesungguhnya sangat dibutuhkan dalam proses pembentukan imunitas. Begitu pulalah, ketakutan adalah mekanisme kehidupan yang akan menguatkan imunitas jiwa sehingga kita tumbuh menjadi sosok yang inovatif.
           
            Inilah salah satu diantara pelajaran ibadah umrah yang akan menjadikan ketenangan dan kebahagiaan hidup, yaitu mengubah percakapan ketakutan menjadi motivasi. Tentu, butuh waktu dan pembelajaran untuk merelisasikannya. Kita hanya perlu belajar bertahap demi tahap mengolah sesuai kemampuan.

*Ketika menghamba

            Nikmat mana lagi yang aku dustakan, secuil dari limpahan rahmat yang telah dikaruniakan Allah. Tidak ada tujuan lain selain ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah.  Saat talbiyah itu dilafadzkan berulang-ulang “ Labbaikallohumma labbaik, labbaikallohu labbaik”, bergetar jiwa ini, air mata ini sangat murah meluruh, mengisak sendiri. Kerinduan yang selama ini dinanti-nanti kini terobati. Namun kini rindu kembali, merintih harap akan kembali. Memenuhi panggilannya, lalu sanggup mengelilingi kubus hitam yang terlihat sederhana tapi begitu agung dan kharismatik. Sebanyak tujuh putaran memutarinya. Ini merupakan rukun dari ibadah umrah tersebut. Berputar akan membentuk sudut 360 derajat. Dan seluruh alam ini pun ikut berputar membentuk 360 derajat. Bumi dan bukan mengitari matahari selama satu tahun. Demikian juga halnya planet-planet lain di angkasa.

dibalik hijir Ismail usai thawaf wada
            Ketika memasuki dalam dan aku ikut berthawaf, maka kita akan merasakan sesak dan sedikit tersendat melakukan thawaf. Menyapa dengan “Bismillahi Allahu akbar”sambil mengangkat tangan kanan (isti'lam) dan mengecup telapak itu. Dimulai dari garis coklat tanda batas putaran thawaf yang letaknya searah hajar aswad atau melihat lampu hijau yang ada di atas .Namun meski sulit dan berdesakan bahkan tersikut, kita tidak akan membalas sikutan atau menyakiti orang, bahkan kita tetap konsentrasi mengelilingi ka'bah hingga usai. Menerus mengumandangkan doa ditiap sisi, merayu, menyanjung dan merengek pinta dihadapan pemilik kebesaran Nya.

            Sekelompok jamaah umrah lain datang berpegangan erat satu dengan lain menerjang kelompok kami yang tidak saling bergandengan erat  Aku mulai terpisah dengan rombongan yang lain sejak putaran ke-3, sebab sejak menapaki mataf (sepanjang jalan menuju tempat thowaf) seorang ibu berusia 72 tahun memintaku untuk menuntunnya..  Untunglah ada sepasang suami istri ibu Muslimah dan Bapak Ismail yang lekat bergandengan didepan kami dan setia menunggu kami. Meski perlahan jalan meniti lingkaran ka'bah hingga berakhir. Usai thawaf, kami menuju belakang hijir Ismail kemudian menunaikan sholat sunnah. Alhamdulillah kami bertemu rombongan kembali, namun mereka sudah akan berjalan menuju Sai. Dua lelaki yang masih bertetangga itu rupanya mau menemani kami yaitu Kang Imin dan Pak Andi. 
aku dan ibu Mastuah usai tahallul disamping bukit Marwa

            Menuju tempat Sai, kami membaca “innashofa walmarwata min sya'aairillah ...” berjalan bolak balik dari bukit Safa ke bukit Marwa sebanyak 7 kali yang mana setiap satu arah dihitung satu kali. Ibadah sa'i mengenang atau napak tilas perjuangan ibu Hajar, istri nabi Ibrahim mencari air untuk menghidupi putranya, Ismail. Sebelum akhirnya Allah menganugerahi ibu Hajar sumur zam-zam.

            Safa dan Marwa berada tepat di sisi timur Masjidil Haram dan sudah berada di luar area masjid. Tepatnya bukit Safa berlokasi 130 meter sebelah timur laut ka'bah, sedangkan bukit marwah berjarak kurang lebih 300 meter sebelah timur ka'bah. Panjang lintasan antara Safa dan Marwa kurang 450 meter, jadi  panjang total kurang lebih 3.15 km dengan kondisi menanjak ketika menaiki bukit Safa dan Marwah. Mendekati bukit Safa terdapat gundukan tinggi batu setinggi sekitar 3 meter, yang sudah dilapisi marmer. Sisa baru cadas asli masih dibiarkan untuk menandai bahwa benar disini pernah ada bukit Safa, bukan rekayasa manusia. Di sepanjang lintasan Safa Marwa terdapat ada dua lampu. Ketika kita mencapai lampu hijau pertama kita disunnahkan berlari kecil hingga lampu berikutnya. Setelah itu boleh berjalan kembali.

            Setiap sisi Safa Marwah terdapat kran-kran air zam-zam yang siap membantu jamaah menyiram tenggorokan yang kering. Gelas plastik putih sudah disediakan yang dijaga oleh petugas kebersihan. Nah, disinilah letak perjuangan ibu tua ini melangkah semakin terseok—seok. Aku berusaha keras menyemanangatinya. Sempat beliau menawar pada lintasan yang kedua untuk membiarkan istirahat sendiri, sementara beliau berdzikir dan bertilawah. Kujelaskan kembali salah satu rukun umrah itu Sai dan harus melintasinya 7 kali tanpa bisa ditawar. Beberapa menit kami singgah di air zam-zam sambil terus mengulum doa dan melangitkan semangat. Genggamannya semakin erat dan getaranya semakin terasa bertumpu pada lenganku yang kecil,  terlebih ketika menaiki di kedua bukit itu.

            Kaki  beliau semakin susah diajak melangkah. Ibu berbadan tambun itu mengalami kaki kram. Beruntung dijalur cepat yang dilintasi banyak pengguna kursi roda, kami  bertemu pak Abdul Hakim selaku muthawwif yang mahir berbahasa Arab sedang mendorong ibunya. Dengan bantuannya beliau mampu menawar sewa kursi roda yang tadinya 80 riyal menjadi 50 riyal dengan didorong sendiri.
                       
            Setelah selesai Sai kami melakukan tahalul di bukit Marwah dekat dengan Qureish Gate. Syarat tahallul akan syah jika dipotong oleh jamaah lain yang sudah tahallul sebelumnya. Tak satupun dari kami yang membawa gunting, Kami meminta tolong jamaah Arab yang kebetulan
melakukan hal yang seperti kami. Ujung rambut yang aku kuncir dipotongnya dari balik bergo. Dan gugurlah semua larangan-larangan selama ihram.
                       
*Pasca menghamba malah semakin menghamba

            Sepulang dari umrah ada kepuasan tersendiri, aku memang gemar bepergian. Tapi kepergian kali ini banyak menoreh goresan yang telah membangunkan hatiku yang tertidur, kepala batuku yang sedikit melunak dan menghangat jiwaku yang dingin. Hati rasa lebih tenang, rasa capek yang lantaran bepergian, tidak sebanding dengan kesenangan yang diperoleh  setelah pulang umrah. Tidak ada kata yang lebih pantas diucap selain “Alhamdulillah” Ketenangan disini adalah sebuah perasaan kegembiraan yang luar biasa menumpahkan rindu bertemu dengan Kekasih.

            Sisa flu ,batuk dan bibir pecah-pecah hasil penyesuaian cuaca yang dibarengi aktifitas yang padat sedikit menyiksa namun terasa nikmat. Demam yang dirasa usai umrah badal tidak mengurangi semangat untuk melanjutkan ibadah. Yakinku demam itu membantuku melunturkan dosa, sebagaiman dalam hadits dijelaskan “Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu menghapus dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi” (HR Muslim) Hampir 3 tahun aku tidak mengalami flu hebat usai vaksin influensa.  Inilah kiranya ujian dalam beribadah. Namun semangatku mengalahkan rasa sakit itu hingga kembali ke tanah air.
                                               
            Harga 17.5 juta sebagai biaya tak bisa menyeimbangi kebahagiaan yang tak terkira. Transit di Kuala Lumpur saat berangkat dan pulang transit di Abu Dhabi menjadi pengalaman baru menginjakkan kaki di negeri orang. Kebersamaan yang indah saat bergerombol berjalan kaki dari hotel ke masjidil Haram, kami menyusuri ruang demi ruang diantara ratusan pilar untuk mendapatkan shaf. Kami lalui dengan suka cita ketika mengejar hotel hanya untuk mendapatkan toilet. Menyusuri pertokoan dan hilir mudik jamaah yang beraneka ragam dengan cerita yang berbeda-beda disetiap perjalanan. 
Suasana menuju masjid dari hotel
           
            Tidak bau apapun kecuali wangi khas masjidil Haram yang masih terasa harumnya.  Semakin aku cium semakin menambah kerinduan. Lalu kebiasan bibir ini yang selalu dihiasi dzikir terus melantun memuji dan meminta untuk datang kembali menjadi tamuNya. Sebagaiman dalam Al Qur an: “ Orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. Ar Ra'du:28)
           
           
pose di halaman Masjidil Haram
            Terus memperbaiki diri dari dan terus mengingatkan diri untuk tidak malas beribadah, tidak pelit dalam beramal sholeh dan selalu berusaha lapang dalam setiap urusan, serta membiasakn diri untuk berkhusnudzan, bersabar dalam menghadapi perkara. Apa yang dilakukan saat umrah sebagai warning agar aku selalu setia di jalanNya. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dengan menuntun kami dengan hati yang istiqomah iman, Islam dan Taqwa. Aaamiin

            Setiap perjalanan membuka mata mata hati. Gambaran disetiap adegan semua hal yang bergerak mengetuk hati, jiwa dan pikiran untuk menjadi pribadi yang bijak. Menyikapi perbedaan dengan indah. Sebuah perjalan adalah guru yang tak berbicara dan sanggup melahirkan buku dengan tulisan yang tak berkesudahan.






Meraup Limpahan Pahala Saat Umroh (part III)


                                                Meraup Limpahan Pahala Saat Umroh

            Hampir tiap muslimin dan muslimat di dunia mempunyai keinginan untuk pergi ke Tanah Suci, bisa karena hasrat atau pun panggilan-Nya. Namun hanya orang tertentu yang sanggup menunaikan ibadah tsb. Tidak memandang orang kaya atau miskin, tua atau muda, rupawan atau bukan, sebab yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang ber taqwa. Alhamdulillah, 3 karyawan Nikomas dari 37 orang dalam satu rombongan Zidny Travel yang berada di Pipitan Walantaka, berhasil bersimpuh di depan Ka'bah. Yakni Maryam (Uppertooling PED Nike), Afendi (Uppertooling Adidas), Afida (Planning EMC Nike)
                                   

aku, teh Iyam & kang Fendi di kaki jabal Rahmah

            Kami sangat beruntung, karena biaya umroh bisa dicicil. Kami menabung selama satu tahun. Atas rahmat Allah memberi jalan istiqomah hingga jatuh tempo. Haru bercampur senang ketika baju ihrom menyelimuti raga memasuki masjidil Haram, terlebih memulai thawaf mengelilingi kotak hitam pusat kiblat umat Islam. Tak terasa air mata menderas mengalir dipipi. Mimpi yang terwujud nyata pada 26 Maret – 2 April 2015. Gema takbir dan lantunan kalimat thoyyibah memenuhi seluruh jamaah untuk beribadah.

Ketika Ka'bah di depan mata

            Terkait umroh adalah jihad sebagaimana ibadah haji. Aisyah berkata:"Wahai Rosulullah, apakah wanita juga wajib berjihad? beliau Rosulullah SAW menjawab "Iya, Dia wajib berjihad tanpa ada peperangan di dalamnya yaitu dengan haji dan umroh" Dan benar saja kami membuktikannya. Tanpa perjuangan yang ringan. Fisik yang terus dipadu dengan sabar dan ikhlas.
                                               
            Dengan semangat terus berupaya memaksimalkan ibadah dengan khusyuk. Mengingat hadist yang menyebutkan “Sholat di masjidku, lebih utama seribu kali (dibandingkan) sholat di selainnya kecuali Masjidil Haram. Dan sholat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 (dibandingkan) shalat selainnya (HR. Bukhori Muslim).Biasanya para jamaah melakukan i'tikaf Asar  hingga isya, Tahajjud hingga Duha. Selama beraktifitas didalam masjid, tidak khawatir akan haus, sebab air zam-zam banyak tersedia di  tepi jalan masjidil Haram dan ada dibeberapa sudut masjid Nabawi.

            Kemudian kami juga memperbanyak sholat di Masjid Nabawi yang terletak di Madinatul Munawaroh, sesuai hadist nabi “Sholat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 sholat di masjid lainnya selain Masjidil Haram (HR. Bukhori Muslim). Kebiasaan di ke-2 masjid tsb usai sholat 5 waktu disusul sholat jenazah. Perkara itu berdasar hadist Rasul “Barangsiapa sholat jenaxah dan tidak mengiringi jenazahnya, maka baginya (pahala) satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya (pahala) dua qiroth, “Ada yang bertanya, “apa yang dimaksud dua qiroth?”, “Ukuran paling kecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud”jawab beliau Rosulullah SAW (HR Muslim). Subhanallah, saat tour berziarah menapaki dakwah Rosul, jabal uhud menjulang tinggi, sekitar 350 meter memanjang dari tenggara ke barat laut sepanjang 7 km dan lebar hampir 3 km. Terbayang bukan seberapa besarnya?

           
            Hikmah lain dari keutamaan umroh menghilangkan kefakiran & menghapus dosa. Dari Abdullah, Rosulullah SAW bersabda, "Ikutkanlah umroh kepada haji karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa, sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga". Lepas dari hitungan pahala beserta imbalan yang diuraikan di atas, pada akhirnya kembali kepada penilaian Allah SWT. Lalu diikuti  perubahan pada diri pribadi menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, mudah-mudahan mabruur. Aaamiiin



Jamaah Zidny Travel di kaki jabal Magnet

            Setip pribadi jamaah dalam tiap kesempatan bersimpuh ditempat mustajab (yang tak tertolak doa), seperti  saat thawaf,  multazam, Hijir Ismail, Sai di Safa-Marwah, Raudah dll mereka memprioritaskan dan mengulang-ulang doa untuk diri dan keluarganya. Meskipun tidak menampik doa yang dipesan oleh teman-temannya sebelum berangkat. Nah, selagi masih muda dan masih diberi kesehatan, iman dan Islam kapan lagi bisa lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta secara langsung di Baitullah. Toh ongkos berangkat menunaikan umrah tidak kurang dari seharga motor yang anda kredit. Waallohu  a'lam bishhowab

Saturday, 11 April 2015

200 ribu yang Berharga (ready umrah part II)


200 Ribu yang Berharga

Amplop putih sudah kuterima dari bendahara kantor yang sudah menyimpan uang tabungan. Sisa uang yang sudah aku belikan bahan kain untuk membuat gamis. Sejumlah 2 lembar warna merah dengan gambar proklamator Indonesia. Sedari awal sudah kurencanakan pengeluaran-pengeluaran dengan rinci. Niatnya uang itu akan aku belikan bergo. Dengan penghasilan 2,5 juta perbulan dan harus berbagi –bagi kasih. Tabungan umrah sejuta, mengirim orang tua, membayar kebutuhan yang tak terduga dan membeli keperluan sehari-hari dan termasuk makan, kalau bisa cukup buat jalan-jalan. Aku takut kebobolan kalau sampai kantong bocor. Tidak boleh lebih besar pasang dari pada tiang, tekadku.

Berbarengan dengan bulan Ramadan, sambil aku menyiapkan busana lebaran pula. Aku mengajak keponakanku ke Mall Of Serang. Usianya menginjak 8 tahun sudah berhasil puasa hingga magrib tiba selama sepekan. Sebagai hadiah aku memperkenalkan Time Zone, area bermain yang belum dijamah sebelumnya. Sesekali ibunya memperkenalkan Zona 2000 area bermain yang ada di Mall Serang, lebih terkenal dengan Ramayana Serang. Sebuah kaos jersey bola tim Brazil permintaan yang harus aku penuhi. Kuambil amplop putih dan dompet di dalam tas hitam, sebelum aku titipkan tas tersebut pada penjaga penitipan barang di depan swalayan. Kupegang erat dompet hitam dan aku masukan amplop kedalam saku celana yang berbarengan dengan hp.

Mataku berselasar mencari jersey, keponakanku sudah menyebut nama Neymar pemain bola idolanya. Langkahku terus berjalan menyusuri lorong-lorong rak. Bola mataku menggelinding tepat disusunan kaos putih bertulis Ozil dibagian punggung. Usia anak senang bermain kotor, membuatku enggan membeli. Aku menggandengnya kembali menyusuri rak-rak lain. Tangan sebelahku sibuk memencet hp mengirimkan pesan ke tetangga yang merekomendasikan membeli  kaos bola disini. Tanpa aku sadari usai memasukan kembali hp ke saku celana ada sesuatu yang hilang. Kantongku tak berpenghuni lagi, sudah tak terhitung lorong yang sudah dilewati. Innalillahi wainna ilaihi roojiun aku kembali menyusuri lorong-lorong rak. Hingga lelah, kutanyakan kepada pramuniaga yang berjaga. Dengan rinci kuceritakan rentetan peristiwanya, sayangnya dia tak bisa menolong. Satu-satunya jalan menenangkan diri  dengan cara mengikhlaskannya. Berpositif thingking pasti akan ada pengganti yang lebih usai teguran ini. Memasang senyum manis dan mengajak pulang keponakanku. Bergo hanyalah bergo, ada kesempatan lain dan rizki yang lain menanti.

                                                                                ****
Dua bulan kemudian kembali terkumpul 200  ribu yang sudah tersimpan dalam rekening. Seperti cambuk peristiwa yang lalu, mengajarku untuk lebih berhati-hati. Tak ada saudarapun yang mengetahui musibahku waktu itu. Biar saja ini bagian konsekwensi yang aku tanggung. Mentok-mentok juga mereka akan menasehatiku yang sabar dan hati-hati cari uang ga gampang pergi pagi pulang sore. Ah semua sudah ketebak. Mesti mereka melakukan tersebut sebagai tanda peduli.
Assalamualaykum Mba maaf, tadi sore Hp emak hilang waktu jalan-jalan ke Kali Gua. Mungkin jatuh dijalan waktu di atas motor. Aku sudah cari tapi ga nemu. Maaf Mba...

Dering SMS yang aku terima di sore yang mendung  cukup menghentak jantung. Mengingat tak sekali ini peristiwa kehilangan bersama adik lelaki bungsu.
Waalaykumussalam, coba Nang cari uang sendiri, pasti akan tahu bagaimana perjuangannya. Meminta maaf memang mudah tapi mengulang kecerobohan yang sama itu juga kesalahan

Aku membalas pesan dengan nada ketus. Tanggal dikalender sudah menunjukan diatas angka 20, pertanda tanggal tua dalam istilah karyawan yang menerima gaji ditanggal muda. Aku sudah menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan, wajar jika menginginkan sesuatu berjalan membumi perlahan dan disiplin ketat tidak tergoda dengan hal-hal tersier. Mementingkan kebutuhan primer terlebih dahulu sudah jadi barang wajib.

Kurebahkan raga yang tipis ini diatas kasur lantai yang sudah tak montok lagi. Pikiranku melayang jauh tak bisa menghubungi orangtua yang hanya tinggal berdua dirumah lugunya. Tak terbalas pesan maaf diatas layar hp nokianya yang jadul. Biar menjadi pelajaran berharga.

Keesokan harinya nomor baru menelponku berulang-ulang, meski sudah diangkat suaraku tak terdengar. Suara yang sangat tak asing ditelingaku. Beliaulah  orang tuaku. Sangat jelas aku mendengar kedua orang tua ribut tak tahu bagaimana memencet keypad layar hp sederhana Samsung. Ganti aku yang menelpon, namun sayang lagi-lagi emak mematikan telpon.

Sampai ceruk hati ini tak tega membiarkan tanpa komunikasi dengan buah hatinya. Simpanan uang aku ambil dan menambahi perbekalan uang makan di akhir minggu. Usai menunaikan magrib, langkahku  menuju gerai hp yang tak jauh dari pabrik. Sengaja gunting, lakban sudah kusiapkan di dalam tas. Kertas kado sudah kubeli sebelum sampai gerai. Tak sampai lama menawar Hp yang sama percis, hanya beda warna  itu aku bungkus dan kukirim via JNE.
                                                                                ****
Sebenarnya tidak harus bermerek untuk membeli bergo.  Harga dipasar dengan merk yang tidak ternama di layar media sosial kisaran 30 – 40 ribu untuk ukurang sedang (M atau L). Bercermin dengan tubuhku yang ceking aku terbiasa menggunakan ukuran S atau M, tentunya bergo yang masih menjulur lebar dan menutupi dada sesuai syariah Islam. Lagipula keseharianku berbusana kasual, celana hitam dasar, kemeja atau kaos sepaha dengan memakai kerudung persegi empat dengan warna senada. Nyatanya entah hanya aku ataupun yang lainpun merasakan, ketika memiliki barang atau benda dengan harga yang bermerek atau mahal biasanya akan lebih dijaga atau dirawat. Tidak dipungkiri untuk kualitas dan model mempengaruhi penampilan. Percaya atau tidak ketika mengenakannya lebih percaya diri dan nyaman. Apapun merek atau brand fashion yang ada dipasaran kembali kepada kenyamanan pemakai, baiknya memang yang tidak hanya membungkus tubuh, melainkan menutup tubuh.

Selanjutnya aku lebih santai, tak ngoyo untuk cepat-cepat membelikan bergo. Rizki manusia sudah ditentukan jalannya, tanpa menyampingkan ikhtiar, berdoa dan tawakkal. Biar Allah yang mengganti dengan bentuk kebaikan yang lain. Aaamiiin

Saturday, 14 March 2015

Cantik dengan Delima


                                                Menjelma Lebih Cantik dengan Delima

Dalam pepatah jawa menyebutkan “ajinining raga dumunung ana ing busana” yang maknanya penilaian tubuh seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Bisa dilihat dalam kehidupan di sekeliling kita, ketika ada perempuan dengan berbusana yang minim, panjang tapi membentuk lekuk-lekuk tubuh,  panjang namun transparan lalu melewati segerombolan lelaki dipinggir jalan, sering mereka tergoda dan menggoda. Bahkan terkadang lelaki itu menyapa dengan sebutan yang senonoh. Tidak terjadi jika ada perempuan berhijab yang tidak transparan dan tidak ketat melangkah melewati segerombolan lelaki, maksimal para lelaki menguluk salam dan menyebut perempuan itu dengan sebutan “bu haji”
Brosur Delima collection

Tidak dipungkiri cara berbusana mempengaruhi cara pandang seseorang mengenai diri kita. Nah Delima collection hadir ditengah masyarakat muslim terbesar di dunia pada akhir tahun 2013, dengan tujuan syiar Islam. Yaitu menghijabkan seluruh muslimah yang ada di Indonesia, umumnya muslimah seluruh dunia, ujar Aisyah sebagai Marketing Delima Collection, saat aku umpai di Islamic Book Fair (IBF) Istora Senayan 03/08. Seperti yang kita ketahui yang ada dalam QS.Al Ahzab:59 yang artinya “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu  mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Suasana stand Delima di IBF 2015

Mengingat Delima kemudian mengenal sejarahnya, buah delima telah beribu tahun digunakan sebagai makanan. Biji delima pernah ditemukan di situs arkeologi zaman Perunggu Tengah (5000 tahun yang lalu)di Yerikho dan Nimrud di Israel. Bangsa Sumeria telah menanam pohon delima di bawah pohon kurma sekitar 3000 SM. Delima sering disebut dalam Perjanjian Lama. Di dalam Alquran surat Ar Rahman ayat 68, buah delima (ruman) disebut sebanyak 3 kali sebagai buah selain kurma yang tumbuh di surga.
Setelan gamis jersey dan bergo saat di IBF

Dalam kesempatan itu aku diberi kesempatan memberikan testimoni tentang produk Delima. Honestly dengan  bahan licra untuk potongan atasan dan kerudung memakainya sangat nyaman. Modelnya yang kasual, sederhana dan bersahaja mencerminkan muslimah yang syarí. Model pet hijab yang lebar sangat efektif melindungi dari paparan sinar matahri langsung serta cocok untuk segala bentuk wajah. Termasuk gamisnya yang berbahan jersey, saat dipakai dingin dikulit dan tidak sesak dibadan. Meski sederhana namun tetap terlihat fashionable, anggun dan cantik. 
busana Delima yang dipakai saat kerja


Jadi, maukah anda menjadi bidadari yang nanti bersama buah Delima yang berada di surga?
Mengutip dari sebuah hadits " Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhor nanti " (HR. Abu daud).

Alamat keagenan, yuuk mari yang mau menjadi agen