Saturday, 18 April 2015

Belanja di Tanah Suci (umrah part VIII)


                                                            Belanja di Tanah Suci

            “Muraaah muraaah”
            “Lihat lihat dulu Kakaaak”
Teriakan pedagang di toko sepanjang sisi jalan menuju Masjidil Haram dengan logat ke arab-araban. Ini menjadi daya tarik pejalan kaki, terutama jamaah asal Indonesia yang konsumeris. Soal mata uang rupiah di Tanah Haram laku keras. Untuk barang-barang yang bernilai kecil memang baiknya menggunakan Riyal. Jangan khawatir untuk penukaran uang, di sana banyak. Aku bersyukur tanpa harus cape ke Money Changer (tempat penukaran uang), sebab muthowwif (pemandu) suka rela mengkolektif uang belanja jamaah yang akan ditukar Riyal. Harga riyal  saat itu kisaran Rp.3700.

            Biasanya usai sholat tiba, ketika hamburan jamaah yang keluar masjid  disitulah para pedagang dadakan menggelar lapak. Selembar kain dibentangkan di tepi jalan lalu disemaikan barang-barang mereka. Bisa berupa mainan, thawb atau jubah (pakaian laki-laki Arab) ataupun jenis oleh-oleh yang lain. Terlihat wajah-wajah Afrika menghiasi trotoar dengan menyebut-nyebut harga dengan suara lantang dan membeber barang dagangan. Harga barang yang digelar memang lebih relatif murah dari harga toko. Pilihan warna dan ukuran pun sedikit, untuk masalah kualitas biasanya juga kurang. Hati-hati jika ada polisi penertiban jalan datang, mereka tidak segan-segan menarik pembeli dengan paksa untuk menangkap para pedangang liar itu.

            Hampir semua pedagang bisa berbahasa Indonesia. Mereka akan keberatan jika membuka plastik dalam daganganya yang masih terbungkus rapi. Satu barang sudah cukup dijadikan contoh. Tidak seperti pedagang Indonesia yang biasa menggunakan istilah “Pembeli adalah raja”. Pedagang disana lebih cuek, terlebih ketika adzan menggema, mereka berucap “Allah Allah” sambil mengangkat-angkat tangan dan menutup dagangannya dengan lembaran kain lalu pergi ke masjid. Jika tawar menawar barang tak kunjung menemukan harga yang cocok mereka akan diam dan beralih dengan pelanggan yang lain.
penampakan toko yang berada disepanjang sisi jalan menuju masjid di hiasi burung-burung merpati

Seperti ini kira-kira contoh dialog singkat akad jual beli abaya (gamis hitam khas wanita Arab)
Aku   : “Abuya kaam” (Pak, berapa?)
Abuya : “Lima puluh riyal”
Aku   : “laa laa laa tiga puluh  (sambil menunjukan kesepuluh jari 3 kali)”
Abuya : “Ampat puluh halaaal “  (kalkulator siap membantu menghitung dan alat komunikasi)
Aku   : “ok ok saya beli 3, ukuran S “
Abuya : “120 riyal halaal”

            Memenuhi nafsu lapar mata saat berbelanja harus memikirkan kuota bagasi pesawat. Pengalaman kemarin satu orang diberi kapasitas 30 kg. Berdasar pengalaman muthowwif jika barang melebihi kapasitas bagasi, atau mereka yang menyimpan air zam-zam dalam koper kemudian membuat basah kusup koper, maka siap-siap dibuang. Menjadi pembeli yang cermat menjadi perhatian tegas, tidak ada yang ingin oleh-olehnya dibuang percuma. Belanjaan ini yang dijadikan semacam cenderamata yang biasanya akan dibagi-bagikan kepada sanak saudara, tetangga, teman dan kerabat lainnya.

            Lain hal jika di Madinah, pedagang kaki lima banyak mencoba meraup untung. Sepanjang jalan didepan mulut gerbang  masjid dan lorong menuju hotel bertebaran pedagang. Wajah para pedagang emperan lebih variatif. Cenderamata seperti peralatan ibadah, pacar kuku, kurma, kacang Arab, madu dll banyak tersedia.


Museum (Mall) yang berada tepat di depan halaman masjidil haram

            Supermarket Bin Dawood, bisa ditemui diberbagai daerah di Mekkah dan Madinah sebagai alternatif belanjanlain. Berbagai kebutuhan dijual ditempat tersebut dengan harga yang bersaing. Letaknya berada di depan masjid Nabawi dan Masjidil Haram yang berada di dalam mall (istilah Arab Museum) kalangan menengah ke atas. Barang-barang dengan merk Internasional ternama bisa dijumpai disana dari jam Rolex, tissot, parfum Bvlgari , jeweleri, baju-baju mahal dll. Yang sanggup menguras kantong dan mata terbelalak.
supermarket Bin Dawood yang ada di mall depan masjidil Haram

            Untuk kebutuhan berbagai jenis kurma banyak disediakan di Bin Dawood, seperti kurma Sukari (untuk kejantanan), kurma Ambar (untuk kecerdasan anak), Kurma Ajwa (Kurma kualitas terrbaik atau sering disebut nabi Muhammad) Sesuai hadits Rosullullah “Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia akan terkena racun maupun sihir”HR. Bukhori Muslim. Begitu pula dengan jenis-jenis coklat, permen coklat, ataupun kurma coklat yang sudah dikemas dengan bungkusan yang menarik dan siap saji. Untuk harga kurma ajwah memang relatif mahal, 1 kg dihargai 70 riyal (Rp.259.000) Jika sudah sampai Indonesia harga bisa mencapai Rp.350.000 – 400.000 /kg.
           
            Ada jenis kurma lain yang biasanya pesanan saudara ataupun teman, yaitu kurma hijau atau kurma pentil. Kurma ini berkhasiat untuk meningkatkan kesuburan, menguatkan kandungan, mengentalkan dan menambah hormon laki-laki, menambah keharmonisan pasutri dll. Kemasan dalam pasaran biasa suadah setengah matang ,yang disimpan di freezer yang sudah bisa langsung dikonsumsi. Jika tidak disimpan dalam lemari pendingin, dikhawatirkan 2 hari akan cepat membusuk. Rasanya tidak manis, melainkan asam dan ada sepat. Ada produk lain yang selain kurma hijau yang berkhasiat sama yaitu serbuk pucuk kurma. Makanan ini adalah salah satu ramuan herbal yang dapat membantu mengatasi masalah kemandulan. Serbuk ini sangat mirip dengan cairan sperma kaum laki-laki, dan diambil dari pucuk-pucuk buah kurma di Madinah.

            Jika kita membeli kurma hijau dalam bentuk kardus besar, maka semakin membuat kita repot. Pasalnya kurma akan dibagi dan memerlukan wadah yang permanen. Biasanya jamaah akan membeli wadah semacam tupperware yang kedap udara di super market Bin Dawood. Setelah itu disimpan dalam lemari pendingin sampai menjelang kepulangan dan dibungkus rapat didalam koper.

Nah, yang membuat aku berbesar hati uang sakuku tak seberapa

            Ohya, bagi anda yang ingin berbelanja perhiasan terutama emas, penjual dengan suka rela menerima rupiah. Mereka berkomunikasi dengan kalkulator dan bahasa Indonesia seadanya. Harga memang lebih mahal sedikit dari harga emas di Indonesia dan jika di jual di tanah air nilainya akan merosot. Kelebihan dari emas Arab sendiri warna kilau keemasanya sangat kuat mentereng, lebih-lebih ini sebuah cinderamata berharga yang didapat di tanah kelahiran Nabi.

Lelaki Berjenggot Manja (Umrah part VII)


                                                            Lelaki Berjenggot Manja

            Dua orang lelaki dengan ramah menjemput kami. Mereka menjadi bagian awak bus yang menyambut  di bandara Jeddah menuju Makkah Al Mukaramah. Sempat terjadi percekcokan antara kuli panggul dan muthowwif (pemandu) yang sempat membuat kami tertahan di bibir bandara. Lepas pesawat landing,  satu persatu jamaah dicek petugas bendara dengan teliti, terlebih jika laki-laki akan ada cek sidik yang berulang-ulang dan pemotretan. Nah, ini yang membuat lama,  yang membuat kesempatan kuli panggul. Pada rombongan awal membawakan koper jamaah tanpa perhatian dan komunikasi yang jelas. Sedang rombongan yang belakang membawa masing-masing koper sampai terminal bandara haji. Ini yang kemudian menjadi permasalahan, kuli panggung dengan urat lehernya terus mendesak dengan tarif yang tinggi, sementara sebagian dari kami tidak memanfaatkan jasa mereka. Sholawat dan takbir sudah digemakan muthowwif dan supir yang mencoba menego dan berdamai, namun kepala batu kuli panggul itu tak membuat luluh. Hingga akhirnya kami memenuhi keinginannya sebagai solusi.

            Bebas dari ujian itu, sosok Hanif memperkenalkan diri beserta Azmi sebagai muthowwif (pemandu) selama di Tanah Suci. Dua orang pemuda perawakan sedang, kulit hitam manis, berparas sejuk. Mereka berkemeja panjang dan bercelana bahan rapi. Hanif lebih banyak aktif berbicara dengan pengeras, logat bicaranya Indonesia melayu ke arab-araban. Hmmm bayangkan saja seperti apa hiks hiks. Mereka berdua adalah mahasisiwa Universitas Islam Madinah (UIM). Mereka berkesempatan sekolah berkat beasiswa dari negara setempat. Selain belajar, mereka juga berkewajiban hafidz 30 juz Al Qurán. Keistimewaan  mereka mendapat fasilitas uang saku perbulan, uang beli kitab, tiket PP ke tanah air pada saat liburan musim panas dan kesempatan bertemu muslim dari seluruh penjuru dunia.

            Bagaimana aku tak menatapnya dengan harap dan iri dengan wajahnya terlihat adem. Lelaki yang selalu dibasuh dengan siraman air wudhu. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid, lelaki yang hatinya selalu merintih dan merendah disepertiga malam dihadapan Sang Pencipta. Sesungguhnya menghafal kitab Allah merupakan sebab untuk menyibukkan dengannya (yakni dengan menghafal Al qur'an) pada waktu siang dan malam, dan manusia iri hati kepadanya. Dari ibnu Umar ra dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda, “Tidak boleh iri hati kecuali didalam dua hal: yaitu seorang yang diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca dan memahami Al Qur'an kemudian mengamalkannya baik pada waktu malam ataupun siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oelh Allah kemudian ia menafkahkannya didalam kebaikan baik pada waktu malam ataupun siang” (HR. Bukhori Muslim).

            Dimeja makan aku kembali melihatnya berbaju thuwb dan berkopyah putih. Jleb, auranya ketampanannya semakin terpancar, semakin menohok mataku untuk mencuri pandang. “Astaghfirullah” dalam hatiku sudah menatap lelaki bukan muhrim. Kemudian aku dekat dengan ibu Dedeh, seorang ibu berdarah sunda yang tinggal di Pontianak, tidak lain adalah mertua dari muthowwif yaitu Bapak Abdul Hakim.
            “Neng, cari lelaki atuh yang sholeh, kalau pertama yang dipegang agamanya, insya Allah dunia mah nyusul” sambil melihat sosok Hanif
Aku menyunggingkan senyum manis. Menyeret sebuah hadits yang artinya “Dari Zaid bin Tsabit ra beliau berkata, kami mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) dihadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa yang(menjadikan) akhirat niat (tujuan utamanya) maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya dan (harta benda) duniawi akan datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai dihadapannya'

            Dari bincang-bincang ibu Dedeh yang menceritakan menantunya itu tidak lain hal sama sesuai hadits diatas. Betapa bangganya ibu Dedeh diajak umrah bersama suami dan besan secara cuma-cuma oleh menantunya sendiri. Bapak Abdul Hakim sendiri seorang yang berprofesi sebagai guru, beliau sangat mahir berbahasa Arab. Dibawanya kedua orangtuanya dengan santun dan sabar. Terlebih ayahnya sudah berusia lanjut dan mulai pikun. Ketika para orangtua itu mengeluh, satu persatu sosok yang dimuliakannya itu dielus-elus punggungnya dan pijit pundaknya dengan lembut sambil berucap “Sabaar sabaaar”. Saat awal memasuki kota Makkah dengan tenaganya ia mendorong dengan kursi roda ibunya saat umrah dari thawaf hingga sai dini hari, kemudian menjelang siang beliau kembali mendorong dengan kursi roda ayahnya untuk thawaf dan Sai. Berkat Allah, tenaganya sanggup mengantar kedua orangtuanya menjadi haji kecil, padahal fisik yang ditempuh thowaf dam sai sudah berkilo-kilo meter jika dihitung jauhnya, Subhanallah beliau sanggup meski kondisi kurang tidur selama 2 hari perjalanan. Ohya beliau juga memelihara bulu-bulu yang menggelayuti dagunya. Manusiawi, wanita yang mana tidak menginginkan sosok yang hebat seperti beliau. Tapi  sebenarnya sudah disediakan sosok yang layak dan oantas untuk kita.

            Sudah aku layangkan doa didepan Rumah Suci. Gambaran di atas membuka mataku akan sebenarnya memilih pasangan yang baik. Lelaki yang mampu menaungi keluarga dengan siraman agama yang kental, memayungi dengan keberkahan atas limpahan rahmat Allah SWT. Biar aku cukup sedikit mengenal sosok berjenggot manja itu. Membiarkan Hanif tetap melanjutkan pendidikannya hingga S2 di Madinah, meski saat ini S1 belum selesai. Yakinku ada sosok Hanif & pak Abdul Hakim yang lain, yang sama mungkin lebih akan menemani disisa umurku nanti. Selanjutnya menanti eksekusi Allah, semoga lekas disegerakan ya Allah. aaamiiin




Nabawi Sendiri (umrah part VI)



                                                            Nabawi Sendiri

            Usai menikmati makan siang di hotel Wassel Golden, aku manaiki lift ke lantai 8 menuju kamarku. Kurebahkan punggung diatas kasur berselimut warna coklat, sambil memejamkan mata. Tak lama dering telepon berbunyi. Kutengok nomornya, ya, nomor seorang pengelola travel yang sekarang aku naungi. Aku pikir dia akan menanyakan ibunya, sebab dalam rombongan ada ibu kandung yang ikut serta. Dia menanyakan kabarku, padahal sejak 5 hari keberadaanku di Tanah Susi tak ada seorang keluargaku pun yang menelpon, begitu pula pesan SMS. Kalau bukan aku yang mengirim SMS dahulu Kuceritakan peristiwa ini setelah sampai di rumah, ternyata mereka khawatir jika menelponku akan mengganggu kekhusyuan ibadah. 

saya bersama teman-teman saat pertama menapaki Nabawi
           
            Ini debut kepergian terjauhku selama ini. Soal selama ini aku sering bepergian tanpa pamit, ihwal biasa. Sejak melepas seragam abu-abu aku sudah merantau sendiri, tentu masih dalam negeri. Namun, berbeda dengan kepergian kali ini, sebuah perjalanan suci dari niatan kecil yang memakan perjuangan besar. Perlahan aku mengumpulkan uang gajian selama setahun, aku menahan diri dari godaan belanja, jalan-jalan, membeli baju dll. Ah, ini mungkin hal kecil, berbeda bagi seorang wanita apalagi masih sendiri yang berpenghasilan terkadang itu sesuatu yang tak gampang.

Suasana di depan hotel yang saya tempati

            Tetiba rasa rindu dan cemburu merangkul erat jiwaku. Aku seorang diri ke Tanah Suci dengan tak seorangpun saudara dekat. Wajah-wajah mereka baru aku jumpai di bandara. Kesempatan mengikuti manasik saat itu tak aku ikuti, sebab aku pulang kampung untuk berpamitan dengan orangtuaku. Ibu-ibu paruh baya bahkan ada banyak usia nenek-nenek yang meminta bantuanku untuk mengatur ulang telepon genggamnya, agar bisa disesuaikan dengan satelit di Tanah Haram. Keluarga mereka mengkhawatirkan keadaan mereka. Sementara aku? Menderas air mata membulir dipipi. 

            Sebelum pintu-pintu masjid Nabawi ditutup menjelang adzan Asar, aku membangun diri untuk tetap kuat meski sendiri. Kusapu raut mukaku dengan air wudhu agar lebih tenang.  Tidak berbeda dengan Masjidil Haram satu jam sebelum adzan berkumandang jamaah sudah memenuhi ruang sudut-sudut masjid. Wal hasil jika telat pintu-pintu akan dijaga ketat oleh polisi berabaya dan bercadar hitam. Lantas, jika sudah tak menampung jamaah lagi, aku memasrahkan diri untuk berjamaah dihalaman masjid yang berpayung-payung putih raksasa itu.


di halaman masjid Nabawi

            Sepanjang hotel menuju Nabawi aku sendiri melangkahkan kaki. Tak seorang teman aku hampiri untuk sekedar menemani. Berkerudung mukena, gamis dan berkaos kaki sudah syah menutup aurat untuk melaksanakan sholat. Sudah menjadi ciri khas orang Indonesia yang sangat mudah dikenali ketika menuju masjid terbalut mukena putih. Aku masih meneteskan air mata sepanjang 100 meter, hotel menuju masjid Nabawi. Tak aku hiraukan penjual yang menggelar daganganya. di tepi-tepi jalan banyak.
                                   
            Ketika memasuki gerbang 7 masjid, aku banyak menjumpai jamaah umrah asal India yang terlihat duduk dihalaman, satu kakinya dilipat dan satu kaki yang lain dilingkari lengan sambil memilin kalung dengan alunan dzikir. Mereka berpakaian lusuh dengan kain sari yang panjang. Penutup kepala seperti pasmina tapi lebih lebar lagi, warnanya senada dengan celana dan baju. Sayangnya mereka berkerudung tanpa dikaitkan peniti. Kebanyakan dari mereka hanya menyelempangkan menyilang kearah sebaliknya. Menurut cerita ibu Diah, selaku muthowwif (pemandu), beliau menceritakan banyak warga India yang tidak mempunyai hotel. Mereka menginap diemperan masjid dengan bekal seadanya. Mereka beribadah tidak banyak dibantu kemudahan oleh negaranya. Ketika pulang dari sholat, mereka mengantri mengambil air zam-zam dalam galon 5 liter. Lalu mereka menyungginya di atas kepala sampai ke tempat berkumpul.

            Nikmat mana lagi yang aku dustakan, padahal aku lebih beruntung dari mereka. Aku bisa tidur dikasur yang empuk dengan ruangan berpendingin, makan dengan menu yang enak dari katering. Kembali bibir ini mewek melihat pemandangan yang berhasil menyita perhatianku. Sambil aku terus menapakkan kaki hingga pintu masjid. Setibanya disana, sengaja kupilih shaf yang ada dibelakang berkarpet merah. Ku ambil Al qur'an diatas rak yang berada dekat dengan pilar-pilar masjid.

            Seorang ibu berkulit hitam legam berjubah hitam sedang menyusui buah hatinya mengusik rasa ingin tahu ku. Ibu tiga anak yang datang ke Madinah bersama orang tuanya. Mereka berasal dari Sudan,  negara miskin yang terletak di timur laut Afrika sanggup menunaikan ibadah. Tetiba dua anak laki-lakinya mendekat meminta minum dan mereka saling berebut. Ah, anak kecil dari satu tegukan air itu tumpah membasahi karpet. Tak sampai disitu mereka berlarian keluar mulut pintu. Tinggallah aku dan gadis kecil yang belum genap setahun bersamaku. Aku menjaganya sampai ibu itu kembali membawa kedua buah hatinya.

            Hal yang aku patut syukuri yaitu sendiri tak selalu merepotkan orang lain. Melihat ibu mengurus ketiga buah hatinya dengan payah mengingatkanku akan pentingnya lagi-lagi bersyukur. Ibu itu memang tak pernah kesepian, selalu dikelilingi celotehan anak-anak yang lucu. Mengurus mereka menyita banyak perhatian dan menguras kesabaran ekstra. Terlebih dari fisik putra sulungnya mengidap sindrom down dan diusia yang lebih dari 3 tahun keterlambatan bicara. Tak lama, ibu beserta keluarga yang lain berkumpul dalam satu shof., meraka bahu-membahu mengurus tiga bocah dengan kelakuan kekanakkannya. Aku seperti tertampar keras oleh keadaan yang ditunjukan Allah tanpa skenario yang aku ketahui sebelumnya. Aku kembali meleleh, mataku terus berkaca-kaca. Tak sanggup membendung teguran cantik ini.

            QS. Ibrahim ayat 1-3 aku lantunkan secara sir. Sosok ibu berbaju serba putih mendekatiku  dengan membawa kursi portable yang ia jinjing . Ia mencolek lenganku dengan isyarat ia akan tidur dan meminta dibangunkan bila adzan berkumandang. Tepat muadzin menyeru mengajak panggilan sholat. Aku segera membangunkan, saat badannya mulai beringsut menempel dengan karpet. Ku ajak ia sholat qobliyah 2 rakaat.

            Usai sholat, ibu berhidung bangir berkulit putih itu menatapku dengan penuh tanya. Ia memintaku menyeka sisa tangisan yang ada dipipi. Ia bercerita dengan isyarat tangan tanpa suara sedikitpun. Ya, ia tuna wicara dan tuna rungu. Mengajakku untuk terus berdoa kepada Allah SWT dan tidak bersedih. Dari gerak-gerak bibirnya mengucap kata “Allah Allah Allah” sambil menengadahkan tangan. Seketika airmataku tumpah, menangis tersedu sedan lalu memeluk tubuh ibu yang berbadan subur itu. Ia mengusap-usap punggungku dengan lembut. Aku terlarut haru dan bahagia dengan nasihat halus tanpa menggurui itu.

            Sebuah cincin pernikahan ia tunjukan kemudian kedua jari telunjuknya dikaitkan,  ia bermaksud menanyakan statusku. Aku melambaikan tangan dan menunjukan jemari tanpa cincin menyemat dijari manisku lalu menunjukkan satu jari telunjuk tegak. Ya, aku masih sendiri dan belum menikah. Tangan lembutnya kembali mengelus pundakku, gerak tubuhnya mendoakanku mendapat segera mendapatkan pasangan, mempunyai keturunan dan kembali ke Tanah Suci bersamanya. “Aaamiin aamiin” sambil aku merebahkan kepala dipundaknya. Ia juga mengusap linangan airmata yang susah untuk dibendung. Ia mengisyaratkan sendiri ke Tanah Suci. Setelah anak-anaknya menikah mereka pergi meninggalkan rumah.Kini bergantian, aku yang mengelus-elus pundaknya.


masih di halaman masjid nabawi

            Betapa malunya aku, diingatkan Allah dengan cara yang begitu elok, tanpa menyakiti siapapun dan merugikan orang lain. Sungguh benar aku terlarut dalam kesedihan yang fana, tanpa melihat sekitar yang lebih menderita dari diri ini. Tak apa tubuh ini ceking, tapi dengan izin Allah banyak ibu yang mempercayakanku untuk menggenggam tanganya bersamaku. Menuntun dan mengantarnya hingga sampai tujuan. Sampai aku tak ragu, untuk memeluk, mengelus dan menggandengnya seperti ibuku sendiri.

            Sholat asar berlalu dengan indah, disusul sholat jenazah berjamaah. Sebelumnya aku harus mengaba-aba sholat apa yang dikerjakan. Usai berdoa dan berdzikir aku meninggalkan masjid Nabawi menuju hotel. Perpisahan yang memberatkan hati, namun apa daya tidak ada pertemuan dan perpisahan  tanpa  kehendak sang Kholiq. Sebelum aku kenakan kembali sandal yang aku titipkan di rak dekat mulut pintu, aku menoleh. Aku terperanjat sosok ibu berbaju putih itu tak terlihat dari edaran pandangan mata. Mestinya ia masih terlihat, sebab jarak shaf sholat dengan pintu tidak terpaut jarak jauh. Lagi pula aku kenakan kacamata minus yang bertengger dihidung ku yang mungil. Maha Besar Allah dengan segala kekuasaanya yang menyadarkan arti bersyukur dan tidak berpikir sempit.


Menggapai Raudhah (umrah part V)


                                                            Menggapai Raudhah

            Selain 1000 pahala shalat di Masjid Nabawi, lalu apa yang paling diincar selanjutnya. Ya, Raudhah (Taman surga) mimbar nabi Muhammad. Letaknya diantara kamar Rasulullah SAW (sekarang makam) dan mimbar untuk berdakwah, yang nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung.Nyaris tak sedetikpun kapling taman surga itu kelihatan kosong. Ruangan yang hanya selebar 22 meter X 15 meter, luasnya hanya sekitar 144 meter persegi. yang direbutkan oleh ribuan jamaah untuk sejengkal kapling di Taman surga.Untuk jamaah laki-laki dibuka 24 jam. Berbeda untuk jamaah wanita yang dibatasi jam tertentu. Biasanya usai sholat duha, usai dhuhur dan usai sholat isya.
           



            Kami sangat rindu Rasulullah. “Antara rumahku dengan mimbarku di Raudhah adalah taman-taman surga” (HR. Bukhari) Raudhah memang istimewa dan memiliki fadhilah berlipat ganda. Semua doa pengunjung diijabah Allah SWT, makbul dan mustajab adanya. Oleh karena itu, rasanya sangat rugi bila berziarah dan sholat berjamaah di masjid Nabawi, tak sekalipun sempat beri'tikaf di Raudhah.
            

            Melihat fenomena membludaknya antrean jamaah yang hendak menuju area yang dikelilingi pilar-pilar putih berukiran khas dan dikarpeti hijau keputih-putihan tersebit, memang rasanya sama menerobos masuk saat merapat dengan dinding-dinding Ka'bah, terlebih memasuki tempat-tempat mustajab seperti hajar aswad, hijir Ismail, multazam dll. Melihat tubuh-tubuh besar orang Timur Tengah, perasaan ini berusaha menguatkan diri terus berpikiran positif dan terus melantunkan dzikir. Perjuangan kecil ini tidak sebanding dengan pedihnya perjuangan para mujahid dan syuhada yang berperang di Afganistan, Palestina dan belahan dunia lain.

            Berebut kapling di Taman surga menjadi pemandangan sehari-hari di area Raudhah. Tiga hari selama di Madinah aku terus mengujungi Raudah. Menghadapi ribuan jamaah yang memadati tentunya harus bermandikan kesabaran. Mendekati pintu Raudhah polisi masjid akan mengatur jamaah yang dibagi menjadi 4 kotak ruang. Jadi untuk memasukinya harus melewati 4 tahapan ruangan tersebut. Jike mengikuti aturan itu tentu akan menyita banyak waktu. Biasanya Jamaah Melayu (ras Asia seperti Indonesia dan Malaysia) dan Timur tengah akan dipisah mengingat ukuran tubuh yang jauh berbeda. Karena tidak semua jamaah wanita ikut serta, dimalam pertama kami hanya berempat  (aku, Teteh Maryam, Ibu Husnah & Ibu Atikah) pada pukul 22.30 waktu setempat Ketika polisi masjid lengah kami menyelinap diantara jamaah Turki yang sudah didepan. Tubuh kami yang kecil bisa menyusup diantara jamaah yang lain dengan mudah, namun kami saling berpegangan tangan erat supaya tidak terpencar. Alhamdulillah tak sampai lama kami memasuki ruang yang terakhir, tepat dimulut Raudah, yaaa meski harus kembali menunggu antrian depan keluar dan diperbolehkan masuk.
                       
            Tepat di depan tiang memasuki Raudhah terdapat papan peringatan dalam berbagai bahasa seperti Indonesia, Inggris, Arab, India dll untuk mengingatkan tidak saling menyakiti sesama yang lain dan kembali kepada tujuan beribadah karena Allah SWT tanpa menyekutukanNya dan menghormati tempat suci.
Ruang akhir penantian sebelum memasuki Raudhah

batas masjid selama zaman nabi  dan  kekhalifahan, setelah itu pelebaran pembangunan

            Untuk Raudhah yang ke-2 seluruh jamaah wanita dipimpin oleh muthawwif asal Indonesia yang bermukim di Madinah. Namanya Bu Min asal Sukabumi dengan logat sundanya yang kental. Sebelum memasuki pintu 25 (Pintu depan memasuki Raudhah) kami diberi bimbingan dahulu. Menunaikan sholat sunnah 2 rakaat, sholat taubat 2 rakaat kemudian shalat hajat  2 rakaat  dengan memperbanyak doa saat sujud di rakaat terakhir. Jika memang memungkinkan lakukan berdoa dengan cara bersujud. Jika berdoa dengan cara menengadahlan tangan atau berdoa sambil berdiri segera akan diusir oleh polisi setempat guna memberikan antrean kepada jamaah lain yang mengantre dibelakang. Dengan cara singkat Muthowwif mengantarkan kami mengendap-endap cepat memasuki tempat keluar para jamaah dari Raudhoh, sementara kami masuk melalui jalan yang berlawanan itu. Kami saling berbagi dan menyebar memasuki karpet hijau. Aku mendesak kedalam mendekat sekat dinding penghalang shaf wanita dan pria. Beruntung aku dibagian terdepan ke-2 setelah menarik yang lain untuk ikut berdoa.Tanpa ada penjagaan yang ketat aku, ibu Ida dan ibu Robiah bisa sholat dengan tenang. Sholat sunnah, taubat dan hajat kami tuntaskan, lalu berlama-lama sujud menguntai doa dan harapan dengan mengurai air mata.
Kondisi masjid sebelum memasuki ruang Raudhah

            Tidak jauh berbeda dengan kunjunganku ke Raudah yang pertama. Kami berenam dipimpin ibu Diah sebagai muthowwif. Kali ini kami menyelinap diantara rombongan besar jamaah Indonesia dari travel lain. Setibanya giliran meraih karpet hijau kami dibagi 3 kelompok, kami saling bergantian menjaga dan melindungi ketika sholat. Kami menghalang-halangi jamaah lain yang hendak melewati daerah sekedar meletakkan dahi bersujud dan bermunajat doa teman kami. Mengingat banyaknya orang, kekhawatiran tersakiti sering terjadi. Lepas dari itu semua semoga Allah memperkenan segala doa-doa yang ditumpahkan di Taman Surga itu.

          Ohya mengingat banyaknya jamaah memang disarankan untuk tidak membawa barang apapun. Kalaupun membawa kamera sebisanya disimpan rapi dalam tas kecil supaya tidak ditangkap polisi masjid setempat. Banyak berdoa ketika sujud dan tidak saling menyakiti. tetap bersabar dan berpositif thingking dalam rutinitas. Menjaga emosi dengan diredam istighfar dan banyak berdzikir.
 

            Dan diketiga kesempatan itu tidak ada perjumpaan yang indah di masjid Rasulullah dengan tumpahan air mata. Assalamualayka ya Rasuulullah warohmatullohi wabarakatuh salam untuk baginda nabi saat di depan makam, dengan nada perlahan. Kemudin bergerak ke kanan makam Abu Bakar (Assalamualayka yaa Abu Bakkar), kemudian bergerak ke kanan makam Umar bin Khattab. (Assalamualayka yaa Ummar). Dan disetiap perjumpaan itu pula kami dalam sangat berharap ada perjumpaan berikutnya.