Tuesday, 2 February 2016

Melayangkan Harapan di Museum Layang-layang


Melayangkan Harapan di Museum Layang-layang


Perjalanan tanpa terencana ini berlangsung cukup mulus. Dari rute bus way menuju Blok M. Dengan membeli E Tiket baru senilai 40 ribu kami melaju, melewati banyak halte dan transit di halte Harmoni. Untuk mencapai museum sampai kemudian disambung menaiki metromini merah 610 yang bising. Kaca-kaca jendela itu bergetar cepat seiring jalan yang bergelombang. Hampir sepanjang Cilandak - Fatmawati lancar merayap, sebab proses pembangunan MRT menggerus kanan kiri jalan. Wal hasil bersabar ria hingga sampai tujuan. Belum lagi saat menaik turunkan penumpang menambah durasi panjang perjalanan. Lokasi Museum Layang-layang cukup tersembunyi, yaitu di Jalan H. Kamang no. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dari jalan utama menuju lokasi sekitar 200 meter.

Setelah pintu gerbang, didepan sekolah Miftahul Umam
Museum Layang-layang bisa dikunjungi setiap hari kecuali hari libur nasional mulai pukul 9 pagi hingga 4 sore.Harga tiket masuk Museum Layang-layang Rp 15.000, anak-anak di bawah 3 tahun gratis. Termasuk paket menonton audio video, kunjungan ke museum, membuat layangan dan menggambarnya. Dengan luas layan sekitar 2700 m, sesuai yang diucapkan pak Asep, guide museum.

Museum ini merupakan museum layang-layang pertama di Indonesia. Jumlah koleksi layang-layang di museum ini berjumlah ratusan namun jumlah tersebut terus bertambah seiring datangnya koleksi-koleksi baru dari para pelayang daerah dan luar negeri maupun layang-layang yang dibuat sendiri oleh karyawan museum. Dari semua layangan hampir semua berbentuk unik dan membentuk 3 dimensi, bisa dari tokoh, berbentuk barang, maupun fantasi.

Pak Asep membantu kami memperkenalkan wayang-wayang yang menggantung diatap bangunan joglo. Bapa berdarah sunda itu juga mengajari kami membuat layang-layang. Arku (kerangka layang-layang) sudah disiapkan. Selembar kertas putih polos menutup asku, kami potong sesuai ukuran asku. Lalu ditempel dengan lem. Nah, saat sudah terbentuk layang-layang, crayon warna itu menanti ide untuk menuangkan kreasi.













Merasa bukan seniman yang sebenarnya, jadi menggambar dalam waktu sekejap tidak mudah hehe. Kupu-kupu yang aku gambar hasil menjiplak, sisanya aku atur sedemikian rupa sesuai mood booster yang ada dikepala. Aku menyebutnya layang-layang harapan, harapan di awal tahun dengan tulisan " memeluk doa, membebaskan ingin" . Arah angin itu sedang tak berpihak, ya bersiul. Bersiul konon bisa mengundang angin. Angin yang menerbangkan layang-layang harapan hingga sampai tujuannya. Melayangkan harapan pula untuk tetap berkomitmen melestarikan budaya leluhur, mencintai batik, mengenal  dolanan dan serta tak miskin kreatifitas.


Mencoba mewarnai layang-layang 

Tarraaaa ini dia hasilnya hehe 

Pojok kreasi topeng daur 

Sebenarnya ada paket lain yang lebih menyenangkan. Seperti yang tertuang dalam tiket, antara lain membatik, membuat keramik, melukis diatas payung kanvas, membuat topeng dari bahan daur ulang dll. Menurut pak Asep, museum lebih ramai dikunjungi dihari kerja. Biasanya sekelompok anak TK atau SD yang datang dari berbagai sekolah.Sebelumnya mereka sudah membuat perjanjian.

Seperti yang dikupas dalam video yang kami tonton, layang-layang merupakan bagian dari permainan masa kecil yang tidak hanya berfungsi sebagai permainan belaka, tapi bisa dilibatkan dalam sebuah ritual tertentu. Berbagai bangsa di dunia dapat dipastikan mengenal permainan layang-layang. Fenomena inilah yang mendorong para pecinta layang-layang untuk mendirikan museum layang-layang. Di dalam museum tersebut, para pecinta layang-layang akan mengumpulkan berbagai jenis layang-layang dari mancanegara dan menjaga koleksi tersebut agar bisa dinikmati keindahannya dan dipelajari teknologinya.

Museum Layang-Layang Indonesia didirikan oleh seorang pakar kecantikan yang menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 dengan membentuk Merindo Kites & Gallery yang bergerak di bidang layang-layang yang bernama Endang W. Puspoyo.Kecintaannya pada layang-layang membuat ia tergerak untuk mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia.Kiprahnya dalam mendirikan Museum layang-Layang ini mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Museum ini diresmikan pada 31 Maret 2003, yang ditanda tangani dalam prasasti I Gede Ardika selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu.


Penghargaan dari rekor MURI







Prasasti  peresmian museum layang-layang 

Sunday, 24 January 2016

Sketsa Pasar Malam


Sketsa Pasar Malam

Malam itu pasar  Tambak riuh dikerumuni banyak orang. lampu sorot raksasa penembus langit menuntun warga yang haus hiburan, bergandengan tangan dan membawa orang orang terkasih menikmati hiburan yang mengingatkan memory masa kecil. Pasar Malam, Inilah sebuah hiburan rakyat yang mirip dengan sirkus keliling. Beberapa ciri khasnya adalah adanya wahana bianglala, ombak banyu, komedi putar, roda gila (tong stan) dan lampu sorot yang menjadi penanda lokasi di tengah gelapnya langit malam.Rombongan muasal permainan dari Klaten, jauh-jauh menghibur dari Jawa Tengah. Informasi ini didapat dari penjaga wahana ombak banyu. Mereka sudah hadir sejak 2 minggu yang lalu. Selama apa belum diketahui, pasti sesuai kontrak, menurutnya.
Tong stand saat pergantian penonton 


Permainan bianglala atau sarang burung 


Pengunjung yang mengantri permainan bersama riuhnya 



Semakin berkembangnya jaman dan semakin mudahnya akses teknologi, membuat banyak aspek kehidupan menjadi ikut berubah. Banyak orang meninggalkan hiburan yang dulu digemari, menjadi hiburan yang berbau teknologi. Orang lebih suka jalan-jalan ke mall, main game, atau mencari hiburan lain yang lebih modern. Jika kita mengenal time zone, zona 2000 wahana game didalam mall. Di keramaian Pasar malam juga dijumpai permainan yang menggunakan keberuntungan dan tekhnik yang tepat. Seperti melempar gelang lalu dimasukkan ke kolong, melempar kaleng bekas yang tersusun piramida dan keberuntungan angka.  Semua yang bisa mengalahkan tantangan tersebut akan mendapatkan hadiah sesuai tingkat prestasi yang didapat. Sedang jika permainan di mall banyak yang hanya dengan memencet tombol, sebelumnya menggesek kartu untuk bisa memulai permainan.
Salah satu game tekhnik dan keberuntungan 


Hiburan yang tidak mesti sebulan sekali sekarang masih bertahan, walau tak seramai jaman dulu, namun keberadaan pasar malam dapat memberi solusi bagi mereka yang ingin mencari hiburan murah dan menyenangkan. Biasanya pasar malam digelar setiap musim liburan sekolah, berada di lapangan atau tanah lapang yang cukup meriah dengan lampu, penjual, dan aneka macam hiburan.

Di bawah terang purnama rembulan saya, Rosma dan Devi mencoba wahana ombak laut. Dengan harga tiket 6000 ribu perak kami bisa menaikinya. Berdesak-desakan mengantri giliran dengan pengnjung lain, dari usia anak-anak hingga orang tua yang membawa buah hatinya.  Berada diatas permainan itu rasa yang menegangkan dan memacu adrenalin, karena secara kasat mata seolah tidak mungkin. Jantung ini seakan rontok dibuat naik turun bak gelombang. Pengaman yang mengait tubuh tidak safety membuat hati semakin gelisah. Ketika ayunan kebawah pengait pengaman itu ikut merenggang bersama tubuh yang terjongkong ke bawah. Sungguh, permainan itu membuat kami limpung usai menaikinya. Terlebih kami duduk paling belakang, jadi goncangan tertinggi dan terendah sangat terasa. permainan ini mirip dengan wahana Kora-kora jika di Dufan Ancoll. Ada juga permainan-permainan lain yang cukup mengibur, dan yang pasti lebih terjangkau, tapi kami melewatinya begitu saja. Sebab, permainan-permainan itu lebih cocok untuk usia anak-anak ๐Ÿ˜‚

Kora-kora ala pasar malam 

Grufie di atas wahana sebelum diguncang hehr

Dan yang membuat hati saya tergilas sedih adalah pemandangan bocah-bocah menghisap putung rokok. Mengepulkan asap dengan gaya yang luwes seakan sudah terbiasa. Awalnya sedikit bercengkrama dengan usia remaja anak SMP . Lalu melangkah lagi sekumpulan anak usia sekolah dasar. Dari obrolan yang saya dapati mereka mulai merokok dapat pengaruh dari lingkungan. Dan mendapat sokongan dari sekitar pula. Hampir dari semua anak menyatakan kalau ayah mereka juga perokok. Ini sungguh membuat saya miris. Tidak bermaksud sok bijak diantara bocah itu, saya menyarankan untuk menyibukkan dengan belajar,  mencetak prestasi supaya membanggakan orang tua. Menyanyangi badan sendiri sebagaimana orangtua menyayangimu.

Malam yang cukup mengguncang rasa, menyusun pikiran dan motivasi baru. Meraba diri untuk belajar, bahwa lingkungan adalah sarana becermin untuk diri. Dih, koq jadi baper gini yak ๐Ÿ˜๐Ÿ˜„

Wednesday, 20 January 2016

Mengapresiasi Wisuda


                             Mengapresiasi Wisuda


Pengalaman menghadiri wisuda Unindra kemarin 01/16 menjadi pengalaman yang berkesan.Ternyata wisuda itu bukan sebuah proses yang menonjolkan hura-hura. Dan wisuda bukan hanya sekedar untuk menghormati studi yang sudah lakukan selama hampir 4 tahun. Apalagi sekedar untuk serah terima ijazah, jelas bukan itu tujuan dari wisuda. Tetapi dimana orang tua, adik, kakak dan keluarga menggelar bahagia atas pencapaian prestasi, meski bukan menjadi lulusan terbaik.

Wisuda merupakan acara selebrasi yang ditujukan pada keluarga dan orang-orang yang menyayangi kita, yang telah membantu proses selama kita menempuh pendidikan di perguruan tinggi.Bukan semata-mata untuk wisudawan, tapi lebih tertuju pada keluarga wisudawan yang sudah mengharap-harapkan hal ini semenjak memasukkan anaknya ke universitas untuk menuntut ilmu.

Inilah arti wisuda.
Bukan juga merayakan bersama pasangan yang belum halal. Dengan harapan membawa sebuket bunga dan sebuah boneka wisuda dengan senyum cerah. Tidak mengapa sebenarnya, tetapi dimomen yang seperti ini biasanya wisudawan hanya diberi 1 atau 2 tiket masuk gedung. Selebihnya menunggu berjam-jam di luar gedung. Sebelum berangkat persiapan dari rumah, seluruh keluarga berusaha ikut serta mempersiapkan. Meski didandani oleh perias salon, jarak tempuh yang panjang membuat luntur makeup. Lipstik yang mulai pudar, bedak yang tertimpa keringat. Belum lagi memasang toga yang butuh tangan ringan untuk merapikan. Apa itu bisa dilakukan "pacar"?
Aku dan Titik mendandani Indra, adekku


Kemudian aku melihat sosok yang sangat tegar, dia adalah Titik Wahyuni. Menghadiri wisuda seorang diri. Tanpa orang tua ataupun saudara terdekat. Kami sebagai teman tentu iba dan ikut bangga. Tanpa kebaya baru yang kekinian,  tanpa high heel yang menusuk-nusuk tanah. Sepatu flat warna hitam ia kenakan. Gamis putih berinner satin seragam takmir menutup raganya yang mungil. Aku tidak sampai untuk menanyakan ini secara langsung.  Dari sudut bibirnya mengurai senyum dan tak terlihat tetes mata yang membulir dari sudut matanya, entah dari lubuk hatinya.
Titik dan Emak sebelum memasuki gedung wisuda

Sambil menunggu acara wisuda selesai , aku juga sempat menjumpai seorang ibu menanti anaknya disamping bajaj. Kendaraan roda tiga itu tertulis 'Wisudawan Unindra'.  Sempat kaget melihat itu, sebab hampir semua kendaraan roda empat mengeliling. Ibu yang masih terlihat muda itu bersama anak lelakinya yang masih SD. Sementara sang ayah berada didalam gedung. Jadi, semakin mengerti yang mahal dari wisuda adalah gengsi. Semakin menuruti gengsi semakin mahal. Bisa jadi seperti resepsi pernikahan ๐Ÿ˜€
T
Bajaj wisudawan yang menyita perhatiaperhatian


Tanggung jawab mencari ilmu tidak berhenti setelah gelar itu tersemat di belakang nama. Keharusan belajar dan menuntut ilmu akan terus berjalan seiring waktu yang terus berjalan. Menjadi ilmu yang bermanfaat dengan berbagi ?sebagai ladang ibadah dan tetap menggali ilmu pengetahuan yang Allah beri hanya sedikit.


Monday, 4 January 2016

Nikmat Sendiri, Mendulang Sabar dan Keberuntungan


NIKMAT SENDIRI MEMINANG SABAR DAN KEBERUNTUNGAN


Hingar bingar dunia seringkali membius akal untuk menyelam di dalamnya. Keindahannya dibalut dalam keramaian yang penuh dengan kepentingan duniawi, sehingga tanpa sadar dibuat lupa waktu bersama Tuhan. Bagi yang tidak terbiasa, begitu kesendirian itu tiba, sejenak mereka akan merasa terpojok pada keadaan yang sangat menjemukan. Tapi justru sebenarnya disanalah nikmat itu berada. Kasih sayang Allah menanti kita untuk mendekat dalam kesendirian. Semua tergantung kepada keputusan diri kita untuk menyambutnya atau tidak.

Perjalanan yang kerap dilakukan tak selamanya berteman makhluk menyenangkan. Adakala sendiri lebih baik tergantung kondisi dan kepentingannya. Sebagai perempuan yang masih sendiri berteman sendiri sudah terlatih. Berkehidupan tanpa menggantungkan terhadap yang lain kecuali memang sedang membutuhkan. Bukan merasa bisa untuk semua, tetapi tidak memanjakan diri dengan mulut hanya berjudul perintah. Berteman itu saling mmembantu meskipun dirangkai dengan kalimat minta tolong. Bagiku, selama tangan dan kaki ini masih bisa melakukan tentu dengan sendiri. Mengupayakan keperluan sendiri dengan diri sendiri memang lebih memuaskan batin.


Ketika gusar menodong jiwa,  yang bisa dilakukan adalah berdiam dalam kulum-kulum doa. Ketika batin berperang dengan diri, ya batinpun butuh istirahat, butuh nutrisi lebih untuk melanjutkan langkah. Agar selalu menuju jalan yang benar. Mereka butuh sejenak, untuk mengkaji laporan kebaikan dan keburukan sebagai hamba, kepada Allah SWT. Disini kesendirian dibutuhkan untuk membawa nikmat bagi hati yang merasa tiada pernah sendiri. Mengevaluasi diri menghitung nikmat dan dosa yang tak pernah terhitung dengan rumus matematika manapun.


Ternyata kesendirian tak selamanya mematikan. Tanyalah kepada para pecinta malam yang terhanyut dalam sholat dan keintiman dengan Robb mereka. Betapa nikmatnya karunia sebuah air mata itu. Air mata penyesalan dan permohonan keampunan atas dosa dan kekhilafan.

Ternyata kesendirian tak selamanya menyakitkan. Tanyakan saja kepada para “penyalur” rezeki. Mereka memilih untuk hanya memberi tahu diri mereka sendiri, atas apa yang mereka berikan kepada orang yang kurang mampu. Tak perlu beramai-ramai apalagi dengan pengumuman. mereka melakukan sesuatu untuk hanya diketahui oleh Yang Maha Mengetahui.

Ternyata kesendirian adalah menyelamatkan. Tanyakan saja pada para manusia penyimpan aib sodara mereka. tiada waktu lebih untuk mencela kesalahan manusia lain. yang ada adalah belajar dari kesalahan mereka dan terus memperbaiki diri sendiri.


Ternyata Kasih sayang Allah SWT itu unik untuk disampaikan. Dalam kesendirian sebenarnya Allah SWT memberi jeda waktu berkualitas untuk penyegaran nurani dalam pertemuan hangat dengannya, sebelum memulai langkah baru menghadapi tantangan dunia.

Ternyata Kasih sayang Allah SWT itu unik untuk direnungkan. Dalam kesendirian diajarkan menjadi sahabat bagi diri sendiri. Dan hal itu adalah memang yang paling masuk akal. Bukan tak boleh meminta bantuan kepada sesama, tapi akan lebih baik jika mengharuskan untuk mampu berdiri dengan kaki sendiri. dan dikala terjatuh pun, harus mampu membangkitkan diri.

Mencoba ramah pada kesendirian, mungkin akan lebih baik dan berarti. Ya, akan lebih berarti disaat keadaan dan dunia tak bersahabat.Kesendirian dan kesepian adalah momen yang tepat dimana seharusnya manfaatkan sebagai latihan untuk mengendalikan ego. Berusaha menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri entah dalam keramaian ataupun kesendirian adalah sebuah anugerah. Karena sendirilah pemeran utamanya, pemimpin dari diri sendiri dan yang paling mengerti isi hati.


Menelusuri kisah-kisah sahabat yang mulai intim dengan pacaran. Dan saat itu pula uji kesabaran dimulai.  Mengingatkan diri untuk mengendalikan diri dari rongrongan iri dan menekan hati dan pikiran untuk menerus memohon ampun. Sungguh,  masa jahiliyah telah berlalu. Langkah memperbaiki diri harus dirawat dan dipupuk. Dari godaan menyolok mata, menancap telinga, bibir yang tak ingin bungkam serta pikiran buruk.

Ternyata kesendirian dalam arti belum bersama pendamping hidup, tidak melulu berarti Allah tidak sayang. Justru Allah memberi kesempatan memberi rasa sayang kepada sesama lebih banyak. lebih dekat dengan orang tua dan keluarga besar. Bisa jadi orang terdekat lebih membutuhkan disaat masih sendiri. Dengan masih sendiri bisa bergerak lebih leluasa, belum terbebani buah hati dan restu suami. Bisa jadi, disekeliling, komunitas, organisasi, kondisi tersebut masih menjadi primadona untuk berperan aktif. Nikmat mana lagi yang didustakan, sesungguhnya Allah maha Tahu lagi bijak mengasihi ihwal terbaik untuk hambaNya.

Ternyata kesendirian membawa nikmat bagi hati yang merasa tiada pernah sendiri. Karena mereka percaya bahwa Allah selalu menemani. Janji Allah takkan ingkar untuk makhluknya,  terlebih yang berbusana Taqwa. Memproses diri bersalin menjadi bagian dari umat yang berittiba terhadap utusan Allah sesuai kalamNya. Sebuah keberuntungan tiada terpeti terhindar dari ihwal yang disebut maksiat dan nilai lebih dari pahala sabar. Semestinya sabar dan sholat sudah menjadi sebaik-baik penolong. Biar kegaduhan yang paling romantis saat berjumpa Allah dalam sujud. Bersikap wajar menanti hingga tepat ketentuan Sang Kholik mewujudkannya diwaktu yang paling tepat. Senantiasa memelihara doa, bersantun dalam bersikap.

Saturday, 2 January 2016

Resep Berwirausaha Dengan Hati Bening di Daarut Tauhid


Resep Berwirausaha Dengan Bening Hati di Daarut Tauhid

Wirausaha memang menarik untuk didiskusikan. Terutama di kalangan karyawan yang ingin menjadi pembisnis. Saat ini perkembangan bisnis begitu pesat dan menjadi peluang besar bagi setiap orang untuk memulainya. Dan tak ada salahnya jika karyawan pun mulai memikirkannya.


Suasana niaga di kawasan Daarut Tauhid



Minggu (11/29), Sejumlah 56 peserta yang di panitiai pengurus Yayasan Al Muhajirin Nikomas mengadakan training wirausaha. Bertempat di Daarut Tauhid pondok pesantren asuhan Abdullah Gimnastiar yang lebih terkenal dengan AA Gym. Pada kesempatan tersebut, adik kandung Aa Gym sekaligus Dirut ponpes Abdurrahman Yuri yang biasa disapa Aa Deda. Memasuki kawasan Daarut Tauhid tidak ada gerbang atau gapura selamat datang menyapa. Komplek usaha dan pondok pesantren menyatu dengan warga.
Training kewirausagaan oleh A Deda yang menghibur dan memotifasi



Wisata Rohani Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Museum & Pendidikan DAARUT TAUHIID, GEGERKALONG GIRANG, BANDUNGTahun '80-an, sekitaran Jalan Gegerkalong Girang terkenal sebagai "gudang maksiat." Tapi setelah datangnya seorang pemuda bernama Abdullah Gymnastiar dengan membawa beragam aktivitas positif, justru kawasan yang sering disebut 'Gerlong' saja itu, kini lebih dikenal sebagai pusat dakwah. Menyebut Gerlong pasti ingat Daarut Tauhid, begitu juga sebaliknya. Yayasan Daarut Tauhid didirikan oleh Abdullah Gymnastiar---seorang ulama otodidak (belajar langsung dari K.H. Choer Affandi, pimpinan Pesantren Manonjaya - Tasikmalaya, dari seorang ulama sepuh dari Garut, serta seorang ulama sepuh dari Demak) secara resmi pada 4 September 1990.Cikal bakal Daarut Tauhid berasal dari kegiatan wirausaha yang dilakukan Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta (KMIW) tahun 1987, dibawah komando bisnismen saleh ini. Ketika itu sebagian laba diniatkan dan sengaja digunakan untuk menopang kegiatan dakwah.

  Dalam kesempatan tersebut Aa Deda menegaskan bahwa untuk memiliki kebeningan hati membutuhkan rumus syukur yang nantinya akan membuat hidup bahagia. Yaitu dengan mengakui rasa syukur, menampakan  dan mendekatkan kepada Pemberi Rizki. Dan salah satu nikmat syukur diperoleh jika ada pembanding. Seperti yang dikutip dalam sebuah hadits “Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu.” (HR. Bukhari-Musli



Masjid Darut Tauhif  sebagai central dakwah yg sederhaba 

  "Membangun pribadi yang bekerja dengan hati memiliki keuntungan bekerja nikmat, tambah taat serta berlimpah manfaat. Keuntumgan yang lain yaitu dengan ikhlas, mampu dan jujur, sarana belajar dan prinsip mebahagiakan orang lain, sewajarnya ini menjadi jalan kedekatan’ dengan Allah SWT,” tandasnya.
   

Monday, 14 December 2015

Menyunting Arti Pertemuan Sahabat


                                  Menyunting Arti Pertemuan Sahabat

Sesiang itu menerawang langit bersandar kursi besi di taman ibu kota. Memandang awan mendung bergerombol bersama desir-desir angin. Reruntuhan dedaunan menebar pacu cerita. Masing-masing kaki kiri serempak menindih diatas kaki kanan. Jemari menyatu diatas tas yang dipangku. Pertemuan yang disengaja diakhir pekan pertengahan bulan akhir tahun.

Sesekali saling membisu hingga tertampar selembar daun kering yang tersapu angin. Riuh  mebyaksikan pemuda pemudi  bergelut dengan kegemarannya. Menaiki dua roda ada dan tanpa awak setir. Mengumbar senyum diantara kejar-kejaran keceriaan kebersamaan. Mengacung-acungkan kamera berpamer muka cerah sampai mengadu kepala.


"Bagaimana perkembangan hubunganmu?" pertanyaan perdana meluncur dari bibir tanpa poles gincu. Alkisah bla bla bla merambat dari seluruh peristiwa,sudut kanan kiri juga atas bawah, tertuang dalam bincang hangat. Tidak mengumbar penawar rindu. Makhluk dewasa seperti kita, memang sudah patutnya bisa mengerti segala keadaan dari pelajaran hidup. Ada campur tangan restu Allah diatas ikhtiar dan doa.

Sama dengan pertemuan dengan temanku saat itu. Di bawah cafe sederhana tersanding secangkir kopi panas. Membahas soal yang sama. Ya, usia diatas seperempat abad memang tidak lepas dari bujuk dan teror untuk melangkah ke pelaminan. Tepatnya perkara jodoh.  Saat menggelar kisah-kisah pribadi teman dekat kemudian kita menarik benang merah. Sudut hikmah yang sama dengan pemahaman yang berbeda. Saling berpandangan dan mengurai senyum , dan pada umumnya sebuah curahan itu berujung kata "sabar".



"Jodoh adalah cerminan diri" kalimat itu sering berdengung dibalik gendang telingaku. Kemudian berkembang setelah cerminan diri menjadi "Memantaskan Diri". Sebenarnya didalam Islam sudah dikenalkan dengan istilah "sekufu" Jika pun kisah Cinderella dalam kehidupan nyata itu satu dari jutaan orang yang beruntung dan memang pantas. Tidak berhenti belajar dan memperbaiki kesalahan serta semakin mendekap dengan yang memberi hidup. Sepasang pendamping hidup bertemu dan mengikat komitmen tentu didasari keyakinan kuat dan kenyamanan. Pastinya atas campur tangan Allah, entah jodoh pilihan sendiri atau jodoh yang dipilihkan Allah. Saat ini memang belum mendapatkan. Setidaknya tidak terlambat berdoa meminta. Meminta untuk dipersiapkan menjadi wanita yang seutuhnya menjadi ibu dari anak-anak dan istri sebagai hadiah suami.



Bicara ihwal yang belum menjamahi dunia terkadang sering menebak-nebak. Kita hanya bisa merangkum dari peristiwa, tulisan yang telah terbaca lalu berkaca. Terkadang pula berlanjut ke dunia mimpi dan imajinasi hehe. Kita semua adalah lakon didalam skenario jalan hidup masing-masing. Cukup menjadi jiwa yang tenang dan berbaju "taqwa" saja janji Allah takkan inkar. Dan berbaju apa kita hingga rahmat itu enggan segera mendekat .




Sunday, 13 December 2015

Mengenal Banten Mengenal Cinta


              Mengenal Banten Mengenal Cinta

Menjadi salah satu dari jutaan perantau yang terdapat didaerah salelit itu antara pilihan dan kebutuhan. Dan di Banten inilah aku berlabuh hingga sekarang. Secara perlahan mengenal Banten mengenal pula histori, kebudayaan dan peradabannya. Dan di Banten pula aku mengenal cinta dan perjuangan.

Para akademisi dan seniman yang saya temui di Rumah Dunia banyak berbicara tentang kejayaan masa lalu. Ihwal pertama kekaguman itu mulai muncul saat berziarah ke Bendungan Lama Pamarayan beberapa tahun silam. Perjalananku memang baru secuil melangkah dari mulut pintu. Kemudian beberapa kali berkumpul dengan pemerhati Banten. Konon Banten adalah wilayah yang kaya raya di Pejaten punya produk unggulan bawang merah bangunan kerajaan Surosoan dan Kaibon yang megah. Penyulingan air dari Tasik Kardi yang sampai saat ini jadi penelitian. Pintu gerbang ekonomi dari Karangantu. Pada masanya menjadi pelabuhan terbesar di Asia dan Banten mendapat julukan Singapurnya Indonesia.

Itu Banten yang dulu, sekarang membaca Banten membaca keprihatinan. Prihatin juga dengan daerahku, saat membaca berita Brebes menjadi kabupaten yang termiskin di Jawa Tengah. Ah, itu hanya survei dari penelitian suatu lembaga. Meski dari seluruh kabupaten di Jateng Brebes bukan urutan terakhir soal UMK terendahm Toh kemakmuran warga kembali kepada penduduk asli yang merasakannya.

Aku jadi ingat waktu lebaran kemarin mudik. Dafa, keponakanku lagi-lagi nyinyir "Harusnya semua kebun dan sawah dibuat perumahan, jalan diaspal dan dikasih lampu" usai melihat lingkungan sekitar yang dikelilingi kebun dan sawah yang luas. Bisa jadi ini adalah kesimpulan kecil yang terekam dalam otak anak sesuai apa yang dia lihat dilingkungan terdekatnya. Dan benar saja, sepanjang Cisait sampai Ciujung sudah ada 6 perumahan yang dibangun, dan 2 lagi sedang penggarapan lahan tanah menurut developer Elsalim Group yang akan membangun perumahan Griya Sakinah.

Kami pendatang dan kami menumpang kemudian menetap. Itu hanya sebagian wilayah kecil yang dijadikan perumahan, belum termasuk Serang, Cilegon, Cikande dan Tangerang. Perlahan menggusur tanah menjadi gelaran bangunan, menebang pepohonan diganti atap, menggilas lahan sawah menjadi jalan.

Tidak ada asap jika tidak ada api, tidak mungkin jika ada sumber mata pencahariaan yang tidak diserbu. Bagian dari konsekwensi, selain itu pemandangan sampah, kontrakan kumuh yang tak beraturan, gaya hidup yang bergeser juga termasuk didalam perubahannya.

Berangkat dari situ tingkat keprihatinanku makin menumpuk. Disamping para petinggi yang terkesan mengabaikan. Lagi-lagi izin pembangunan pabrik, perumahan tidak dipersulit, pejabat terkait terlibat makan uang rakyat, jalanan rusak, jembatan roboh, bayi busung lapar, sungai tercemar.

Bantenku sayang Bantenku malang. Aku sudah menjadi bagianmu sejak 8 tahun lalau, bahkan KTP dan pasporku beralamatkan Pipitan Walantaka Serang. Mencintaimu rasanya tak harus muluk-muluk. Cukup menjadi warga yang baik, taat hukum dan sadar lingkungan adalah bekal berharga. Membuang sampah pada tempatnya, mematuhi lalu lintas dan mampu berbagi kebahagiaan dengan sekitar.

Mengapa berbagi kebahagiaan? Hampir setiap hari karyawan dilanda macet di perempatan Tambak, sepagi itu mereka dibuat stress dengan keadaan. Sementara penyebabnya dari banyak arah. Tepat musim berangkat pekerja dan pengguna jalan juga yang semua ingin cepat sampai tujuan. Sampai -sampai nikung kanan, kiri jalan dua arah dipenuhi. Akibatnya jalan mampet dan tak terurai, mengular memanjang dari kedua arah. Banyak pula yang menyerobot jalan jadi pemandangan sehari-hari.

Bertemu dengan banyak orang sering menjadi obat. Terutama kami pekerja. Salah satu rutinitas membunuh waktu dalam produktifitas.PT. Nikomas, tempat kerja kami menjadi wadah pemersatu bangsa. Berbagai suku kami temui, dari Jawa, sunda, batak, Palembang ada. Begitu juga suasana dalam tiap perumahan. Bhineka Tunggal Ika dalam setiap kebersamaan. Ciri, adat, khas yang beragam menyatukan kami. Belajar menghargai perbedaan, menjunjung nilai menghormati dan ki membaur. kerukunan itu terjalin bersama kebahagiaan bersosialisasi, khususnya untuk warga karyawan, umumnya untuk Banten.


Friday, 4 December 2015

Merawat Hidup Bicara Umur


Arti Merawat Hidup ala Opa Abraha Lim

Hampir sebulan pertemuan, sepulang dari Hutan Mangrove itu berlalu. Obrolan di atas kursi BKTB masih teringat jelas. Usia sudah 64 tahun, badannya masih terlihat bugar dan energik. Di usia senjanya, masih sibuk dengan bisnis batu di PIK 2. Kendaraan  tinggal  dan memilih berkendaraan umum yang murah meriah dan tidak dipusingkan dengan lahan dan biaya parkir beserta macet, katanya.

Namanya Abraham Lim, opa pengusaha batu yang di suplai dari luar jawa.  lelaki tua asal Solo keturunan Cina ini bercerita tentang kesibukan usai meninjau batu-batu yang sudah mereklame Pantai Indah Kapuk.  Foto -foto berburu batu di Lampung dan Kalimantan ia tunjukkan padaku. Menurut beliau PIK 2, akan menjelma Dubai 30 tahun mendatang, jembatan replika dari Turki sudah berdiri. Sekarang sedang proses reklame dan pembangunan ruko-ruko artistik. Lebih dari 12 pulau akan membentang diatas laut. Betapa megahnya Dubai yang aku lihat di televisi, namun akan dikalahkan oleh PIK 2 yang ada di Jakarta.


Beliau berbagi asam garam kehidupan. Meski ditengah obrolan banyak terpotong gegara telp flip flop sering berdering. Banyak diantaranya bercerita  tentang keseimbangan Ying dan Yang dalam hidup. Maksudnya, membebaskan pikiran dan berhati lapang hingga terbebas dari stress. Beliau juga menambahkan penyebab penyakit dan kematian lebih cepat seseorang ada 2 faktor, yaitu gaya hidup dan asupan makanan. Hidup sederhana beliau pilih yang membuat jiwa dan raganya terlihat lebih muda. Memilih makan sayuran dan menu yang tidak membuat lambung bekerja keras.Merawat tubuh sesuai porsi, berpikir positif, hati yang tenang, asupan makanan yang halal lagi baik dan selalu berdekapan dengan Maha Bijak.

Teringat nasehat dari Aa Deda saat di Daarut Tauhid menjelaskan tentang 3 umur. Yakni umur biologis, kronologis/kalender dan  umur. Umur biologis adalah umur seseorang berdasarkan kematangan sel-sel biologis tubuhnya, sedangkan umur kronologis adalah umur seseorang yang dihitung mulai saat kelahirannya berdasarlan perhitungan kalender.Umur amal adalah umur seseorang yang dihitung berdasar amal perbuatan selama didunia yang dipertanggung jawabkan hingga akhirat kelak.

Dan benar sesuai dalam hadits yang menyebutkan salah satu jalan memperpanjang umur dengan bersilaturrohmi. Pertemuan yang semoga atas kehendak Allah membawaku mengerti arti merawat hidup. Setiap perjumpaan setiap itu pula ada cerita baru, entah itu orang lama atau sosok yang baru ditemui.


Tuesday, 10 November 2015

Vending Mechine, Dagangan Tanpa Pedagang


Vending Mechine, Dagangan Tanpa Pedagang

Sesiang itu ditengah terik pinggiran ibu kota. Kawasan hutan Mangrove yang masih dipenuhi para wisatawan. Kondisi kantin satu-satunya menjadi incaran untuk makan siang atau sekedar membeli air.  Awalnya kami sudah mengantri, namun antrian yang mengular membuat kami menarik diri, toh bekal air masih sedikit menahan haus.

Tak jauh dari kantin, kami melangkah menuju wisata air. Tepatnya disampung penjual tiket wahana perahu. Kami tertarik mencoba mesin tsb. Sambil ketawa-ketiwi kami melakukan uji coba. Selembar uang 10 ribu dimasukan. Sruuut uang tsb tertelan. Kami kebingungan langkah selanjutnya, seorang ibu memberi tahu "itu pencet kode, misal D7"  Tanpa melihat visual, keluarlah sebotol sp***t. Kemudian kami mecoba lagi dengan memasukkan yang 5 rbu. Namun, mesin tidak berjalan meski sudah dipencet kode minuman yang diinginkan. Kembali dimasukkan uang 5 ribu, lalu memencet kode minuman dan keluarlah sebotol teh kemasan.

Vending machine air minuman 


Awalnya kami tidak tahu nama mesin itu. Baru setelah searching mbah google kami temukan. Cara hemat waktu untuk membeli air mineral memang membeli vending machine. Vending machine, alias mesin penjual otomatis. Sebuah mesin tanpa penjual tetapi bisa melayani pembeli . Caranya sangat mudah, hanya dengan mengikuti petunjuk yang ada di samping kotak. Mesin ini hanya bisa menerima uang yang berbentuk lembaran. Bisa dari 2000, 5000, 10000 dsb. Sayangnya mesin ini tidak bisa mengembalikan uang kembali jika masih ada yang tersisa dari harga.
Petunjuk penggunaan 

Uji coba pemanfaatan mesin  Hik hik 


Ini sudah mendapat sedikit gambaran mengapa vending machine menjadi musuh para budget traveller. Salah satunya adalah selisih harga yang lumayan antara vending machine dengan toko biasa seperti supermarket maupun mini market. Sebuah air mineral yang dijual melalui vending machine semua dijual harga Rp. 10000,00. Sebotol Sp***t yang biasa diminimarket berharga 7 ribu di mesin dihargai 10 ribu, begitu pula dengan sebotol teh, yang biasanya harga 5 ribu.

Meski hemat waktu dan ringkas, namun mesin ini cukup menguras budget. Ini adalah pengalaman berharga. Tidak apa dibilang katro atau ndeso. Kita tidak akan tahu kalau kita tidak menjajalnya sendiri. Dan ada beberapa orang setelah kami dengan menjajal mesin yang sama.

Monday, 9 November 2015

Menjaring Teduh Di Hutan Mangrove Ibu Kota


MENJARING TEDUH DI HUTAN MANGROVE IBU KOTA


Mengunjungi Pantai Indah Kapuk (PIK), kota madya Jakarta Utara. Tak ada salah dan menyesalnya rekreasi ke Tawan Wisata Alam tenda(TWA) Angke Mangrove. Ini bagian dari destinasi yang direncanakan sejak beberapa bulan yang lalu. Dan pada 11/08 di akhir pekan pekan terealisasi. Saya, Nur Indra dan Rosmalinda menghabiskan waktu berfoto narsis diantara rerimbunan pohon Mangrove dan vila cantik.


TWA adalah kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam dan berpusat pada pengembangan ECOTOURISM. Merupakan tipe lahan basah yang didominasi vegetasi utama Mangrove. Kawasan tersebut telah berubah menjadi tak dan telah direhabilitasi tanaman Mangrove 40% tindakan dan pelestarian dan penanaman kembali hutan Mangrove. Manfaatnya antara lain sebagai pencegah intruisi air laut ke daratan dan juga,berperan dalam meredam bencana banjir. Karena satu gram lumpur mampu menyerap tiga gram garam.


Jembatan paporit buat futu-futu 

Jembatan gantung yang bergoyang, bikin hati dag dig dug

Jembatan kayu legam

legampembibitan pohon Mangrove 



Berangkat dari Serang, tak mengecilkan semangatku. Mengingat rute lumayan panjang. Dari Kebon Jeruk naik bus way dari halte Duri Kepa transit di Harmoni. Tunggu hingga BKTB (Bus Kota Terintegrasi Busway) datang dengan jurusan PIK (Pantai Indah Kapuk). Menaiki BKTP akan dikenai tarif tambahan Rp.2500 sedang untuk arah baliknya dikenakan tarif Rp.6000. Kami berhenti di depan Fresh Market. Menuju lokasi cukup jalan kaki meski sekitar 500 meter di tempuh. Pemandangan gedung yang megah membuatku berdecak kagum. Hutan Mangrove sendiri berada di sebelah sekolah Budha Suci.
Numpang di depan gerbang perumahan elite

Pose sebelum belok kiri ke TWA

Untuk masuk kawasan Taman Wisata Alam Angke Mangrove PIK, orang dewasa dikenakan biaya Rp25.000 per-orang, sedangkan anak-anak Rp10.000. Selain itu, jika mengendarai mobil, dikenai tarif Rp10.000, sedangkan motor cukup mengeluarkan biaya Rp5000. Menurut petugas, Pak Maman menuturkan "Hutan Mangrove ini di komersil kan sejak tahun 2010. Sedang tahap dimulai pembangunannya pada tahun 1993, dan pada tahun 1996 gencar pembangunan. Area seluas 98, 2 hektar ini milik dinas kehutanan yang dikelola oleh swasta".

Diantara rumah kemah segi tiga 
Aku dan  rangsel kesayangan di depan rumah tenda



Memasuki kawasan Taman Wisata Alam Angke Mangrove, kita langsung disambut pepohonan rindang di samping kiri dan kanan jalan blok batu. Berbarengan waktu dhuhur sudah tiba, kami menyempatkan sholat di masjid kayu. Masih Menurut pak Maman selaku pengurus semua bangunan vila, masjid, kantin berbahan dasar kayu merbau. Kayu yang dikirim dari Kalimantan. Sepantauan kami, baru berjalan sekira 100 meter di jalan utama, kami langsung menjumpai kantin di sebelah kiri pandangan, di mana sebagian besar orang bersantai setelah berkeliling. Selain itu, berdiri juga toilet berbentu rumah panggung memanjang yang unik.







Tidak jauh melangkah, kami menjumpai vila-vila kayu yang terlihat asri. Nama-nama vila diambil dari jenis-jenis nama mangrove. Seperti Avicennia, Rhizophora, Egreta dll. Tepat di depan kantin, terdapat pondok wisata alam, di mana ada rumah besar unik dari kayu dan sebuah taman. Banyak orang berfoto-foto di taman tersebut, karena bunga-bunga bermekaran jadi latar yang sangat indah.
Masjid kayu yang cantik, yang pertama ditemui



Setelah puas menikmati pemandangan di sini, kami kembali ke jalan utama untuk melanjutkan perjalanan. Setelah kembali berjalan di jalan utama, tak lama kita akan sampai di kawasan wisata air.

Di kawasan wisata air ini, pengujung bisa menelusuri hutan bakau dengan naik boat berkapasitas delapan orang. Untuk naik boat, kita dikenakan biaya Rp400 ribu. Sedangkan, untuk boat berkapasitas enam orang, pengunjung harus membayar Rp300 ribu.


Jika ingin lebih hemat, pengunjung bisa menyewa perahu dayung atau kayak berkapasitas empat orang. Pengunjung cukup mengeluarkan kocek Rp100 ribu. Pengunjung akan diajak berkeliling hutan mangrove kurang lebih selama 30 menit.

Setelah puas berkeliling di kawasan wisata air, kita bisa melanjutkan perjalanan dengan tujuan utama kawasan pantai. Sebagian besar pengunjung memang penasaran ingin melihat kawasan pantai Taman Wisata Alam Angke Mangrove ini.


Terus berjalan kaki menuju arah pantai, kami dihadapkan sebuah jembatan kayu gelam dan bambu yang harus dilalui. Meskipun disediakan pegangan, kita harus tetap berhati-hati saat melintas jembatan yang jaraknya 50 meter dari pantai.

Dari atas jembatan, pemandangan sekeliling sangat indah dengan hamparan mangrove yang hijau. Banyak pengunjung yang berfoto-foto, namun berhati-hati karena terdapat tulisan 'Maksimal berfoto di jembatan 4 orang'.



Setelah melewati jembatan, kami melanjutkan perjalanan ke arah pantai. Jalanan menuju pantai ini terbuat dari kayu gelam dan ada beberapa yang menggunaka n bambu an kaku dengan samping kiri-kanan pohon-pohon mangrove.

Setelah berjalan sekira 50 meter, tibalah kita di pantai. Terdapat, sebuah gazebo cukup besar untuk pengunjung beristirahat setelah lelah berjalan kaki. Namun, sayangnya pemandangan pantai tidak seperti layaknya pantai. "Ini pantainya? " ujar Rosma heran. Salah seorang pengunjun menimpali "Ga cuma kalian, kita semua tertipu" ketawa kami memecah suasana diantara kaki-kaki yang sudah pegal. Kami ditegaskan lagi, "arah pantai, sesuai visual petunjuk arah" celetuk lelaki tak dijenal. Masih penasaran, kami memburu jalan setapak, hutan Mangrove yang membentang luas, hembusan angin sejuk menerpa tubuh kami.  Sejauh mata memandang ada proyek-proyek bangunan.
Panorama arah pantai 

Bentang hutan mangrove
Arah pantai yak, guys hehe

Sayang, sepanjang arah pantai bau menyengat dari sampah-sampah. Seperti yang diungkapkan pak Maman sampah itu tergantung pasar surut laut. Padahal sudah menjadi tugas setiap hari Jumat rutin bersih-bersih hutan mangrove. Dan hampir keseluruhan sampah adalah sampah kiriman.

Aktivitas lain yang bisa anda lakukan di sini adalah menaiki menara pandang untuk menikmati panorama hutan bakau dari atas. Menara ini juga berfungsi sebagai menara pengamatan burung liar yang ada di kawasan hutan.


Dari atas menara kami bisa melihat jelas pindok-pondok kemah yang sangat unik. Rumah berbentuk segetiga seperti bagunan kemah ini terbuat dari kayu cokelat dan berjejer. karena bentuknya yang unik, banyak pengunjung berfoto-foto di depan pondok-pondok kemah tersebut.

Meski dalam ketakutan ketinggian, selfie jadi kegiatan wajib

Masih dari ke tinggi an menara 


Di antara pondok perkemahan tersebut, terdapat sebuah jalan dari kayu yang bisa ditelusuri pengunjung yang disebut kawasan pengamatan burung. Berjalan menelusurinya, dikelilingi pepohonan bakau, mendengar kicau-kicau burung yang bersembunyi dilebatnya pohon bakau dan pondok-pondok perkemahan sampai tiba di hamparan perairan hutan mangrove yang indah.

Di sini, kani puas berfoto-foto dengan pemandangan perairan hutan mangrove yang masih sangat hijau dan pondok perkemahan unik. Selain itu,  kami melihat mangrove-mangrove yang baru ditanam di perairan. Ada kawasan wisata tersebut memfasilitasi wisata untuk menanam Mangrove. Ada sejumlah biaya yang di tarif kan. Ada banyak visual dari nama yang tertera di patok kayu. Dari nama lembaga, komunitas,  sekolah dan perusahaan yang ikut berpartisipasi menanam Mangrove disana.


Perlu diperhatikan, sebelum jalan-jalan ke sini baiknya menyiapkan obat nyamuk lotion. Sebab nyamuk -nyamuk nakal itu menyerang dengan ganas. Ada baiknya memakai baju panjang juga. Selain itu siapkan bekal untuk makan. Kantin satu-satunya disana jadi incaran seluruh wisatawan. Terlebih harga di sana lebih mahal dari harga normal. Harga porsi nasi goreng Rp. 25000.