Wednesday, 19 August 2020

Mengisi Kemerdekaan yang ke 75

 Terimakasih Panitia Para Pemuda RW 3


Emak narsis satu ini mencoba memberi testimoni. Nasionalis, patriotis memang tidak melulu ditunjukkan hanya saat hari kemerdekaan saja. Sepanjang darah mengalir akan selalu ada mencintai tanah air dan nasionalis. Rasa ini akan terasa sekali jika kalian ke luar negeri. Tidak berbeda rasanya mencintai tanah kelahiran kampung halaman, terlebih saat di rantau.


Sepekan kemarin sudah dilalui berbagai macam lomba. Bersifat tidak kesuluruhan perdusun. Tepatnya Dukuh Kweni RW 03, hanya diwakili 3 RT, yakni RT 05, 06, 07. Anakku usia 3 tahun sangat antusias dan girang mengikuti lomba. Meski usianya belum masuk kategori, diperbolehkan hanya sekedar tim hora-hore.



Sore-sore itu akan menjadi pertemuan dan kenangan manis. Anak-anak lelarian diatas tanah basah sisa diguyur hujan. Begitupun malam-malam syahdu pertemuan para panitia yang saling menyatukan ide. Berbagi cerita, tawa dan canda. Malam eksotis lomba ditutup dengan panjat pinang. Pemuda bertelanjang dada memanjat dengan penuh perjuangan. Sedang beberapa pemudi memanjat doa supaya segera dipinang  #eh😆


Kalian tahu, bukan hanya sekedar kebersamaan itu yang menyatukan. Kepala dengan rambut yang sama hitam, berupaya dengan satu anggukan dan melangkah bersama, singsingkan lengan. Dengan satu mulut dan dua telinga yang kita miliki bermakna lebih banyak mendengar dari pada bicara. Dari penglihatan mata menjadi lebih mengenal teman melalui karakter, dari gaya bicara, ketawa, cara jalan, baju yang dikenakan, kebiasaan yang tidak biasa ataupun yang lain.


Jalan kalian masih panjang, ada banyak hal yang harus dititi. Sebelum benar-benar ingin menyatukan kedua kepala menjadi pasangan hidup. Tidak ada hukum haram soal jomblo selagi muda, toh kemerdekaan diraih dengan bersatu, bukan berdua. Bekal ilmu dan pengalaman lah yang digali selagi muda. Bukan kaum rebahan yang hanya bermimpi. Namun bangun dan meraih mimpi untuk masa depan yang gemilang. Ups, koq ngomong jomblo 😀


Merdeka di era sekarang berbeda dengan merdeka saat kolonial. Merdeka itu bisa banyak diartikan. Setiap orang akan berbeda memaknainya. Semoga tidak terjajah pikiran dan perasaannya. Kemerdekaan yang sesungguhnya disertai tanggung jawab. 

Mari merdeka dari hal buruk. Mungkin beberapa tetangga kita mengartikan merdeka itu terbebas dari jeratan hutang dan riba. Atau merdeka itu hidup di rumah sendiri, bukan dirumah orangtua atau mertua, ah itu aku saja mungkin 😅 Kalau kalian, merdeka itu apa?


Terimakasih untuk kerja kerasnya. Berupaya menyajikan yang terbaik. Kalian kompak, rukun, percaya diri, pemberani dan kumpulan pemuda-pemudi yang baik juga hebat. Kekurangan akan selalu ada, tapi masih wajar. Kemarin, sekarang dan nanti adalah proses. Belajar tidak selalu di bangku sekolah. Malahan sekarang belajar di rumah. Setiap kepala memiliki perjalanan hidup sendiri. Berbagi untuk kebaikan, dan pandai-pandainya kita untuk saring sebelum sharing.


Sekali lagi terimakasih untuk dukungan dan doanya warga RW 03 yang budiman. Anak-anak yang hebat dan kreatif. Penampilan menari yang menarik, pembacaan puisi yang menggugah dan iringan akustik yang sangat asik. 



Monday, 10 August 2020

Kondangan Dan Berkat

 


Berkomunikasi dengan beras masih menjadi budaya yang tak lekang oleh waktu. Bagi warga Adisana, umumnya sekitar Bumiayu masih menjalankan itu. Masyarakat yang pada umumnya berprofesi sebagai petani. Dari menengok bayi, takziah, sedekah, sambat, iuran biasa disebut cimitan dan kondangan.


Di bulan haji atau Dzulhijah, biasanya banyak orang yang menggelar hajatan, baik khitan ataupun pernikahan. Nah, ini yang kerap menjadi dilema. Meski bentuknya bukan wajib, namun sebagai tetangga ataupun saudara terkadang merasa 'tidak enak'. Kita tahu setiap rumah memiliki perputaran ekonomi yang berbeda. 


Dibeberapa kampung, kondangan menjadi semacam investasi dan hutang piutang. Umumnya beras 2,5 kg dan mie 2 bungkus. Jika lebih dari itu bisa dipastikan akan mengharap kembalian dengan rupa, bentuk yang setara. Biasanya beras 5 kg atau kelipatan dan tambahan 'umpang-umpang', seperti minyak, telor. Ada berupa makanan yang sering disebut 'lawuh medang', seperti dodol, kue basah, kue kering. Belum isi amplopnya. Ini akan menjadi catatan tersendiri untuk mengembalikannya.


Bisa dikalkulasikan untuk kondangan umum, beras 1kg, Rp. 8000 x2,5 = Rp. 20.000 dan mie 2 bungkus Rp. 10.000, jika isi amplop masih relevan Rp. 25,30 ribu. Jika akan menyumbang lebih terserah. Dulu pertama kali kondangan tahun 2012, masih ingat hanya goceng, usiaku masih 15 tahun. 


Dari kondangan umum tsb biasanya mendapat berkat berupa 2 nasi dibungkus dari kertas minyak dan 2 sudi lauk, yang berupa mie, tempe dan telor bulat dan 2 bungkus kue kering. Dan untuk kondangan amplop atau kado, diberi berkat berupa nasi yang diberi wadah (cepon plastik) dan lauk yang sama lalu dibungkus plastik. Dan sering, sampai banyaknya berkat menjadi mubadzir. Ayam pun ikut makan berkat juga.


Selain silaturrohmi, sebagian masyarakat memandang kondangan menjadi ajang adu gaya hidup. Siapa yang mewah, sederhana akan nampak dengan model hajatan yang digelar. Semakin banyak relasi seseorang semakin banyak undangan disebar.


Flasback dulu, waktu aku kecil. Emak memiliki 9 anak, makan telor adalah makanan mewah. Berkat akan menjadi incaran saat emak pulang kondangan. Dulu, telor berkat hanya separo. Sampai rumah harus dibagi lagi dengan adik. Kadang dibelah memakai pisau, kadang juga benah. Lauknya enak, buncis, lodeh kacang, ikan asin, serundeng dan telor diatas wadah piringan daun pisang.


Nah, yang jadi persoalan sekarang saat mereka yang mengirimi undangan, tapi yang diundang tak ada modal untuk menghadiri. Tidak semua warga punya uang atau simpanan cukup beras. Terus bagaimana? Ada yang dipaksa berhutang dulu, ada juga yang membiarkan tanpa balas. 


Begini, hukum siapa yang menanam dia akan memanen. Itu benar adanya. Siapa yang rajin kondangan, maka ia akan dikondangani, siapa yang diundang datang akan sebaliknya. 


Di masa pandemi ini, tidak ada undangan yang kuterima. Hanya tetangga pilihan yang kudatangi, mengingat akrab dan ada yang saudara. Selebihnya mohon maaf, kepentingan untuk sehari-hari lebih wajib dicukupi. Terlebih masih menjadi warga nomaden, berpindah dari merantau dan kampung lalu sebaliknya.


Mungkin nanti tidak ada undangan yang akan disebar, hanya sebatas tasyakuran walimah yang langsung ada makanan yang sampai ditangan warga. Semoga bisa tidak sering membebani orang dan bisa berbagi sesama.


Bumiayu, kota kecil 10-8-2020

Qismika's mom

Monday, 20 July 2020

Menata Di Tengah Pandemi Covid-19



Pandemi covid-19 nyatanya tidak serta menghapus semua mimpi. Bisa jadi ekonomi rumah tangga kembali ke titik 0. Ini yang kami alami, keluarga kecil dengan sumber penghasilan usaha kecil. Karena sepi order, kami memilih menepi di kampung. Secara otomatis keuangan yang sudah ada dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Di ibukota kami hidup di kontrakan tanpa dapur. Setiap kali makan harus beli sayur dan memasak nasi sendiri. 

Konten yang baru saja digarap terpaksa mandeg. Bukan tanpa usaha, semua peralatan dibawa. Sayang, laptop yang ada tidak mumpuni untuk mengolah. Niatnya untuk mengisi waktu, membuang jenuh, dan berhadiah jika beruntung 😂 hehe dikira jajanan anak. 

Pertengkaran rumah tangga dan perceraian meningkat dibelahan dunia. Seiring intensifnya pertemuan antara suami, istri dan anak yang diisolasi di rumah saja. Sementara beban adaptasi dari segi material dan imaterial cukup gampang-gampang rumit  Lebih dari 2 pekan, bahkan banyak yang berbulan-bulan. Tidak munafik, pertengkaran selalu ada, namun masih batas wajar. Tidak berlebihan dan tidak lama akur kembali. 

Selalu saja ada celah hikmah dibalik ini. Keterbatasan komunikasi penyebabnya. Latar belakang hidup seseorang tidak menjamin untuk mudah memulai obrolan. Meski dengan orang terdekat sekalipun. Kecuali terdesak keperluan. Secanggih apapun gawai dengan menggunnakan sosmed manapun, jika seseorang dengan watak cuek dan asik sendiri ya sudah mereka ada di zona nyamannya. Paling banter bahasa adalah ilmu teka teki, mencoba memahami. Lalu, tahapan sabar selanjutnya yaitu saat emosi membuncah. Nah, disitu ada letupan unek-unek. Disitulah keterbukaan komunikasi, ya meski dengan cara yang kurang enak

Ada 5 bahasa kasih sayang dalam tiap manusia yaitu pujian, waktu, sentuhan fisik, hadiah dan pelayanan. Ke-5 bahasa kasih ini wajib  untuk bayi yang baru lahir sampai 2 tahun. Sedangkan setelah melewati usia itu, hanya perlu satu bahasa kasih. Disitu saya tersadar setelah menonton video Dr. Aisyah Dahlan, ternyata bahasa kasih suami adalah pelayanan. Sedang anakku Qismika, 3tahun adalah sentuhan fisik.

Setelah pindah di pondok mertua, kami mulai berbenah. Memulai untuk memanjakan lidahnya sesuai masakan ibunya. Lain ladang lain belalang, nyatanya resep dari emakku dan mama mertua soal bumbu jauh berbeda. Mama mertua keluarga suka pedas dan bumbu serba terasi enak, sedang emak sebaliknya. Inilah yang kerap membuat nyaman di rumah orang tuanya. Dan mama mertua memaklumi dan sangat sayang pada kami.  Kami itu, menikah dengan orang yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah. Sedangkan, saya sendiri betah di rumah tempatku dibesarkan. Begitupun anakku, banyak teman dan dekat warung. 

Nyaman di rumah orangtua masing-masing, lalu bla bla bala kami menyatu di bawah atap mama mertua. Setelah tahu suamiku meriyang, sentuhan demi sentuhan dari intensitas pertemuan 24 jam non stop semakin membaik. Sehat dan bekerja sama mengurus anak lalu mulai berkebun.

Tidak ada hal yang terlambat, butuh proses dan kesabaran yang terlatih dari setiap peristiwa. Ada sebutan "Mah, bikin kopi. Mah, masak ini" dan setiap ada ibu sayur keliling, papah kode "Mah, aku suka sayur ini". Dan terkadang lagi istirahat sebentar, "Mah, anakmu mau pipis" duh!! Padahal baru kelar nyuci 😬

Peristiwa demi peristiwa sejatinya mengingatkan tentang pelajaran menikah. Perjalanan menikah adalah proses mengenal sepanjang hidup, semakin usia bertambah, semakin banyak anak dan bertambah besar cerita akan terus mempelajari dan belajar kembali. Sejatinya semakin mengenal semakin membuat nyaman karena arti memahami.

Kekhawatiran rizki secara kesuluruhan, alhamdulillah cukup sekali. Nikmat sehat, berkumpul dengan keluarga, lingkungan yang nyaman. Alhamdulillaah alaa kulli haal. Hanya saja diri sering abai dengan fabiayyi aalaai robbikuma tukadzibaan, astagfitullohal adziim.

Saat Orang Terdekat Penyintas TBC



Idul fitri tahun lalu menjadi bersejarah, tepatnya dimulainya 6 bulan rutin obat Isanozoid ditenggak tiap pagi sebelum makan. Vonis TB paru aktif di dalam keterangan rongsen dan cek dahak dari pihak puskesmas.

Sebenarnya sudah dicurigai sejak batuk yang tak kunjung sembuh selama 3 minggu, kurang nafsu makan, badan kian kurus, cepat lelah dan demam tinggi. Sering, saking pengin menggugah makan, pagi-pagi minta rujak buah. Namun, entah apa yang membuat suami mengundur-undur waktu untuk pemeriksaan lebih lanjut. 3 kali ke klinik dengan obat batuk yang hanya meringankan saja, pernah sekali suntik vitamin C. 

Suamiku perokok aktif. Hanya 3 hari tanpa rokok waktu sesak dadanya menyiksa. Kemudian hanya mengurangi dan kembali seperti semula. Tak terhitung berapa kali pertengkaran rumah tangga karena rokok. Nyatanya selalu berujung mengalah, sabar dan mendoakan agar Sang Pencipta yang bisa membolak-balikkan hati hambanya.

Tidak ada kekhawatiran yang berlebihan. Butuh sikap tenang dan berpositif thinking bahwa semua akan baik-baik saja. Mengingat adik iparku juga lebih dahulu mengidap penyakit itu. Sebulan sekali mengambil obat di RS rujukan BPJS. Nyatanya, obat tsb bisa dibeli di apotek.

Berbeda dengan suami, tidak menggunakan BPJS dan pemeriksaan awal hingga akhir di Puskesmas, itu pula secara cuma-cuma. Untuk 1 bulan pertama obat Isanozoid selembar berisi 28 butir sebesar biji melinjo berwarna merah, sekali minum 3 butir di pagi hari. Kemudian bulan selanjutnya dosis direndahkan, bentuk pil lebih kecil, pipih dan berwarna kuning. Selembar 28 butir juga dan sekali minum 3 butir. Obat tsb tidak dijual di apotek.

Selama masa berobat, kami berusaha berhati-hati mengingat diantara kami memiliki buah hati yang masih kecil. Tidak menggunakan tempat makan yang sama dan mengurangi sentuhan fisik terutama ciuman. Sering berjemur dan membuka jendela agar sirkulasi udara dan sinar mentari masuk.

6 bulan sudah berlalu, dokter belum juga menyatakan bersih. 9 bulan meminum obat tanpa lupa sehari. Itu sangat perjuangan, butuh disiplin dan kerja sama saling mengingatkan. Sebab, konsekwensinya jika lupa sehari, akan diulang lagi minum obat dari awal. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh. Begitupun dengan adik iparku. Namun tidak dengan sepupuku, enggan minum obatlah penyebabnya. Di akhir Februari tahun ini sudah dipanggil Sang Penguasa (alfatihah).

Di masa pandemi ini sebenarnya khawatir. Mengingat covid-19 menyerang paru-paru juga. Sebisa mungkin hidup sehat dan mengikuti protokol yang ada. Juga protokol istighfar, doa juga sedekah seperti anjuran ustad AA Gym. 

Tidak ada maksud membuka aib sendiri, ini berbagi cerita. Tidak semua orang mau berbagi kisah. Dan kisah ini sudah dilalui dengan manis. 


Wednesday, 19 February 2020

Merawat Konten Kreator Pemula


Melewati proses yang tidak sebentar, apalagi baru seumur hitungan jari purnama. Sabar dan terus mencoba menyajikan yang terbaik. Latihan dan terus latihan. Itulah suamiku, yang sedang merawat konten cover lagu di channel Andy Herman. Malam-malam dilalui dengan menghafal lagu, kunci gitar, belajar improve. Mengulang dan mengulang lagi.

Bahkan buah hati kami, saat ditanya papah sedang apa, jawabnya nyanyi cinta 😀usianya 3 tahun bulan depan. Kami tinggal dikontrakan lantai 3 dan 4. Lantai 3  untuk tidur dan lantai 4 untuk bekerja. Terganggu dan berisik, iya terkadang. Setidaknya bukan tetangga yang terganggu. Sebab yang kami tinggali bangunan paking tinggi diantara yang lain. Pekerjaaan utama sablon manual. Menjadi konten kreator itu mengisi waktu. Terkadang kerjaan banyak kadang pula sepi. Memanfaatkan waktu dan mencoba keberuntungan dengan ilmu yang didapat secara otodidak.

Lelah itu belum terbayar tuntas. Kepuasan itu ada saat banyak penonton yang menyukai. Meski belum banyak, terus dicoba. Memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil saat bernyanyi dan memetik gitar. Ketajaman telinga untuk menghindari noice, suara fals,  kepleset saat bergitar dll.

Persyaratan ketat youtube untuk bisa dimonetisasi membuat usaha lebih gigih. Yakni persyaratan 1000 subcriber dan 4000 jam tayang. Tidak mudah untuk orang biasa bisa mendapatkannya. Kami terlahir dari kampung yang jauh dari kota. Merantau bergaul dengan orang di perkampungan Jakarta yang padat penduduk. Sebagian orang, sayang jika membuka youtube karena menyedot banyak kuota. Sebagian lagi juga kurang uptodate tentang tekhnologi dsb.

Berbeda dengan channel youtube milik artis atau para pesohor. Mereka sudah memiliki nama dan popularitas di masyarakat. Dengan mudahnya masyarakat digiring untung kepo. 1000 subcriber dan 4000 jam tayang hal kecil dan ringan. Sambil selimutan usai video diupload saja langsung penonton datang sendiri.

Upaya ditempuh berbagi lewat sosial media di beranda atau pun story. Dari facebook, whatsapp, instagram sudah pengumuman. Bahkan tidak sedikit kami mengetuk pintu ke pintu teman dekat dan saudara untuk mensubcribe. Grup whatsapp, facebook  juga. Hasilnya, 5% menonton dan 0.5 mensubcribe.

Phillow talk bersama suami ada beberapa menambah subcriber seperti saran yang dicari digoogle. Salah satunya menggunakan aplikasi tertentu atau membelinya. Suamiku tak menyetujui, nenurutnya lebih baik mendapatkan subcriber yang alami saja. Buat apa subcriber hantu, nanti belum tentu bisa menonton. Lebih baik sabar dan terus menyuguhkn yang terbaik dikonten. Secara otomatis penonton akan bisa menilai dan menyukai tanpa keterpaksaan.

Menikmati proses dan terus merawatnya. Konten kreator pemula bak memelihara benih tanaman, harus dipupuk, disirami secara rutin. Menanti berbuah itu hasil dan diupayakan sejak sekarang dan seterusnya.  Berharap iseng-iseng yang menghasilkan. Hobi yang membawa keberuntungan. Masih ada 10 bulan lagi, semangat!!

Silakan menikmati
https://youtu.be/FRL1xNZASQc

Saturday, 8 February 2020

Anak di Bawah Usia 3 Tahun Juga Perlu Pendidikan

Sebelum berangkat sekolah


Pentingnya pendidikan Islam sejak dini

Pendidikan untuk anak kerap kali ditujukan untuk mereka dengan rentang usia 4-6 tahun. Padahal, menurut penelitian, anak pada usia 0-3 tahun sudah butuh pendidikan. Mengutip dari Kompas.com, penelitian tersebut mengatakan, usia pada rentang 0-3 tahun merupakan Golden Age. Dikatakan demikian karena 80 persen pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut, sedangkan penyempurna sebesar 20 persen terbentuk pada masa pendidikan di atas usia tersebut.

Nah, itu rujukan yang tepat untuk anakku yang tepat bulan depan 3 tahun. Sekarang sudah mulai les calistung di RPTRA sejak sebulan yang lalu. Bukan kehendak saya atau pun papah ya. Namun Mika sendiri yang bersikeras ingin sekolah. Seringnya melihat anak-anak bersekolah sejak ia bayi. Secara rumah mbah hanya selangkah dengan TK. Lalu sering melewati kakak-kakak yang sedang sekolah baik yang melewati pasar atau arah yang lain. Hal penting dari sekolah lebih dari sekedar akademis, melainkan belajar bersosialisasi, berbagi, bergerak dan bekerja sama.

Sebelum bersekolah, Mika sudah saya perkenalkan dengan huruf alfabet, hijaiyah, angka, bentuk, nama hewan, buah, warna, alat transportasi dll. Jadi, saat mengikuti pelajaran, Mika tidak kaget. Mata dan badannya tidak fokus, namun telinganya mendengar tajam. Wajar, meski sedang lelarian Mika bisa sambil bernyanyi atau berdoa dsb.

Kekuatan pendengaran itu lah yang meyakinkan saya untuk terus meracuni dengan hal-hal baru. Soal menyanyi, Mika mudah menghafal lirik dengan baik. Ini yang diterapkan juga dalam menghafal Alquran. Saya kurang telaten untuk mengajar iqro perlu konsentrasi anak yang tinggi. Sudah mencoba, antusias Mika lebih menyukai langsung mengaji Alquran langsung. Keterbatasan dalam pengucapan tak menjadi halangan. Seperti huruf 'ro' maklum masih pelo😀 Lain dengan membaca Alquran, meski tidak melihat, telinganya tajam mendengar dan lidahnya ikut bergerak mengikuti.

Beberapa bulan ini Mika sudah bisa sambung ayat hingga surat Al Asr terhitung dari surat Al fatihah. Alhamdulillaah, rasa senang dan bangga yang berbuah manis. Sesekali libur, lebih rutinnya usai bada magrib dan sebelum tidur hafalan surat pendek itu diulang. Makhorijul huruf, qolqolah dan tajwid saya tekankan. Terlihat kesal saat lelagi diulang, namun perlahan mulai terbiasa dan tersenyum-senyum dibuatnya. Tak lupa saya memberi pujian, masya Allah, Tabarokalloh, awasome, hebat dan mencium pipinya.

Eksperimen saya uji saat memasuki surat Al fiil. Sebelum memulai membaca saya ceritakan asbabun nuzul surat tsb. Pertama menyebut surat al fiil artinya gajah. Mika kegirangan, menyebut hewan gajah dan mendiskripsikan bentuknya. Selanjutnya kembali menceritakan isi dari surat tsb. Masya Allah dari sekian surat, surat Al fiil yang paling cepat dihafal. Menurut Mika, gajah yang menyerang kabah dilempari dengan kerikil panas oleh burung Ababil yang dikirim oleh Allah. Kemudian gajah menjadi berlubang-lubang seperti daun yang dimakan ulat. Dan ulatnya dimakan Mika. (Ulat permen yupi yang dimaksud) 😂

Untuk hafalan doa pendek pun saya ajarkan sebelum tidur. Waktu yang panjang merayu Mika untuk benar-benar bisa memejamkan mata. Dari pukul 21.00 lampu dipadamkan dan tertidur dipukul 22.00 atau kadang lebih. Selama itu pula waktu dihabiskan untuk mengobrol ngalor-ngidul, menghafalkan doa-doa dan artinya, menghafal surat pendek dan menjelang terlelap menggaruk-garuk badannya. Doa yang sudah dihafal yaitu doa sebelum tidur, doa untuk kedua orangtua, doa untuk kebaikan di dunia dan akhirat, doa sebelum makan dan belajar.

Soal menulis, belum saya arahkan dengan tegas. Lebih sering mengajarinya menggambar dan mewarnai. Seusianya biar disibukkan bermain dan belajar yang disukainya saja. Mika paling suka menggambar kucing dan sangat suka dengan karakter little pony dan hello kitty yang berwarna pink. Dari baju dan perlengkapan kebutuhannya, Mika memilih warna pink.

Kekurangan bukan sama Mika, tetapi mamahnya. Yang masih enggan lepas dari menatap gadget dan membiarkan menonton televisi berlama-lama 😥 Mungkin jika itu dikurangi hasil mendidik Mika lebih optimal. Bukan karena alat smart yang bisa menjadi penghafal Alquran pula. Yang terpenting dari mendidik anak dan jika ingin menjadi hafidz karena ada pendamping yang telaten dan sabar. Alat atau mesin hanya penunjang, dan saya tidak memiliki. Wajib, iya enggak juga 😬

Tuesday, 28 January 2020

Mbah Dakem Dan Mbah Surti

*cerpenlokalitas

Di ruang tengah mbah Dakem duduk di kursi reyot. Tangannya terampil menyisir anak kutu yang bersarang dirambut putihnya. Gigi pongahnya sesekali menggigit-gigit hasil tangkapannya. Mata rabunnya nanar melihat langit-langit atap tanpa plafon yang tertembus sorot matahari. Dingin angin malam juga menembus ke dalam rumah, ditemani suara gesekan dedaunan yang tertiup angin.

Diusianya yang senja hidup sebatang kara. Kaki ketiga berupa tongkat kayu yang selalu menemani melangkah. Mbah Dakem tak pernah meninggalkan sholat qabliyah shubuh. Beliau teringat ceramah kyai "Dua rakaat shalat sunnah fajar di masjid lebih baik daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya”. (HR. Muslim) hatinya berkata, 'Ya Allah gusti pangeran, boleh saja aku miskin dihadapan orang, tapi tidak dimata Mu. Semoga dikaruniai kekayaan hati ketimbang harta, toh sebentar lagi nyawaku juga diambil. Usiaku melebihi Rasulullah'

"Tok tok tok, Assalamualaykum mbaah"
Suara ketukan itu menggugah dari kembara pikiran mbah Dakem.
"Waalaykumussalam, sebentar"sambil menggulung rambut dan memakai jilbab seadanya. Tangan keriputnya merambat menyusuri tembok menuji pintu.

"eh, Dasro, monggo lungguh, ana apa, Sro"
"Gini mbah, kulo diutus pemerintah desa untuk mendata warga yang tidak mampu untuk memberi tunjangan. Dengan syarat dan ketentuan berlaku"
"Syarate apa, Sro" tanya mbah Dakem yang antusias
"WNI pesti, warga fakir/miskin, janda, hidup kurang layak, penghasilan tidak memenuhi sehari-sehari dll"
"Owh, kayak kwe, Sro. Nyong paham"
"Niki mbah, pemberitahuane ben luwih jelas di waos piyambek"
"Hehehe"sampai terbatuk-batuk
"mataku wis rabun, mbah biasa jiping alias ngaji kuping. Sro, Sro gawananmu akeh banget" Mbah Dakem penasaran.
"Iya mbah, kulo nggawa pilok karo tulisan ben si penerima tunjangan kwe kelihatan. Misal orang mampu tapi menerima kan isin" ujar Dasr
“Mbah itu wong sugih, ana hadits rasul, Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi)
"Hebat, mbah. Pinter! Nyong sing enom kalah karo rika"
"Ati-ati kebijakane, Sro. Mbokan dadi aib terus gawe sakit ati, Sro. Oh ya, Mbah ngaji ning Benda kari lagi ana duit. Rutine ngaji seminggu pisan ning madrasah"

🕝🕝🕝🕝

Teras rumah menjadi tempat favorit. Sebatang rokok sriwedari ia hisap dalam-dalam. Di temani hembusan angin yang menggoyang pepohonan. Dipandanginya dedaunan pisang yang koyak dicakar angin. Tidak ada suami, semua anaknya merantau. Hanya sesekali datang menjenguk, itu pun lama.

Kopi hitam diseruputnya perlahan. Lagi, rokok yang tinggal sedikit itu dihisap mendalam. Fyuh, asapnya beterbangan menerpa mukanya yang kisut.

"Assalamualaykum mbah Surti"
"Wa alaykumussalam, ana apa, Sro. Mlebu"

Mbah Surti lebih modern dibanding mbah Dakem. Kompor gas tersedia, ceklek kompor itu dinyalakan. Air putih di tambah gula dan serbuk kopi. Ya, kopi hitam untuk Dasro disuguhkan. Kopi lampung, oleh-oleh dari anak mantu. Tidak dengan mbah Dakem, masih menggunakan kompor minyak. Minyak tanah langka ia gunakan meski dari satu desa hanya ada seorang penjual. Badan yang tua sudah tidak sanggup untuk mencari kayu dikebun.

Dasro menjelaskan kedatangannya sama seperti waktu di mbah Dakem. Mbah Surti sumringah dan menegaskan jika ia seorang yang wajib disantuni.

Istri dari pensiunan veteran itu kesal. Saat tetangga yang masih muda-muda rutin diberi tunjangan. Ia tahu beberapa emas yang dipakainya sama seperti saat ia muda dulu.

"Mbah sebatang kara, untuk sehari-hari mbah mengandalkan uang kiriman anak. Malah kadang gak cukup. Buat takziah, tilik bayi, kondangan itu pun pilih-pilih" mbah surti sambil meneteskan air mata.
"sing sabar yak, mbah" Dasro mencoba menegarkan
"Mbah wis biasa, Sro. Sing paling membuat sedih itu tidak ada anak yang merawat saat mbah wis jombo. Mau apa-apa sendiri. Mau minta tolong ambilkan minum aja gak bisa. Lihat mbah Midah, Sro. Udah dihajikan sama anaknya, rumahnya megah, tiap pergi pakai roda empat. Mbah kemana-mana pakai tongkat. Dasar anak pada durhaka! Gak emut udah dibesarkan dari kecil" tetiba mbah Surti kesal lalu sesenggukan

🕝🕝🕝🕝

Mbah Dakem sarapan nasi semalam yang belum basi, lauk gorengan 2 potong dicocol sambal. Matahari belum begitu galak sinarnya. Ia bergegas menggendong ilesan, karung. Tangannya menggengam 2 tongkat. Konon kabarnya Wasro si juragan padi panen didekat pintu air.

Ditengah keterbatasan fisik, hanya mencari remahan gabah dari sisa damen yang sudah diiles. Gampung, itu namanya. Pekerjaan apalagi yang bisa untuk mengisi perutnya. Kalaupun sepi panen, mbah memilih mencari biji melinjo yang berjatuhan dari kebun-kebun milik orang. Usai dikumpulkan ia jual.

🕝🕝🕝

Kali ini ilesan sungguh banyak. Kaki tuanya mudah lelah. Namun tetap dipaksakan meski keringat mengucur deras. Siang yang terik, membuat mbah Dakem menyerah dan pulang.

Sementara itu, mbah Surti masih senang di teras rumah. Menyemburkan asap rokoknya ke atas. Mengubah arahnya memandangi rumah mbah Midah yang megah. Dari balkon rumahnya, mbah Midah sedang berkelakar dengan cucunya. "hhhh, gawe panas!". Dalam hatinya menjerit, "anakku, mana anakku" 😢😢

🕝🕝🕝

Mbah Dakem dan Mba Surti saling bergandengan menuju rumah masing-masing. Rumah mereka dekat, hanya saja beda RT. Sepulang ngaji mereka terbiasa bersama. Mbah Dakem mengenakan baju kurung lawas dan mbah Surti mengenakan kebaya yang sudah dimakan zaman. Keduanya kompak memakai kerudung instan yang tinggal slup.

"Assalamualaykum, Mbah Dakem, mbah Surti" Dasro mendekati mereka
"Waalaykumussalam, pimen,Sro?"
"Anu mbah, nyuwun sewu, ngesuk jam 10 kumpul di rumah bu Sri RT 02 acara penerimaan tunjangan. Mboten kesupen bawa KTP dan KK nggih, mbah"
"Gawa KTP karo KK yak, Sro" mbah Dakem meyakinkan
"nggih, mbah"
"Matur nuwun yak, Sro. Ohya salam nggo lurahe" timpal mbah Dakem
"Lah, ora bakal gelem lurahe nrima salam sing rangda, nini-nini peyot kayak rika 😂😂" Dasro ketawa lebar
"Bisa ae, pincukan kluban 😜" balas mbah Dakem
"Wkkkkk gaul juga rika, mbah" sambil tangan Dasro mencolek si mbah

Tulisan ditembok dengan cetakan yang dicat pilok itu berbunyi 'KAMI TERMASUK DALAM KATEGORI KELUARGA MISKIN YANG BERHAK MENERIMA MANFAAT PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)'

Kebijakan baru yang terbit bak simalakama, ada sarkasme yang terpampang lugas dan mengandung efek malu bagi yang kurang tepat sasaran. Kenapa tidak menggunakan 'pra sejahtera' biar lebih nyaman ditelinga. Fyuh! Toh sama saja seperti dengan istilah tunawisma dan gelandangan, tuna susila dan tlembuk dan sejenisnya. Pemerintah harusnya lebih teliti mendata warga, bukan menyetempel 'miskin'. Minimal mengurangi kecemburuan sosial. Uang memang memiliki dua sisi yang berbeda, baik dan buruknya bergantung pengelola.

🔰🔰🔰

Diam-diam uang dari tunjangan itu mbah Dakem serahkan ke pengurus masjid. Menyisakan 100 ribu untuk pegangan dan ongkos berangkat ngaji di kota santri, Benda. Selama ini mbah Dakem mengisi sedekah pengajian dengan sekobok beras, begitupun jika ada cimitan sumbangan.

Mendengar sohibnya sakit, mbah Dakem menjenguknya. Penyakit stroke yang menyerang mbah Surti membuat ia sudah tidak berdaya lagi. Setiap hari hanya tergolek lemah di atas kasur. Makan, mandi, ganti baju, pipis, dan BAB semua di atas kasur. Mulutnya bengo hingga kesusahan untuk bicara. Persis seperti dalam keadaan bayi kembali. Kehidupannya sangat bergantung pada perhatian anaknya. Anak-anaknya yang sudah besar dan sudah berkeluarga tinggal merantau bergantian datang untuk merawat. Mereka harus setiap hari memandikan orantuanya, membersihkan kotorannya, menyuapinya makan, dan menjemurnya pada matahari pagi. Semua pekerjaan itu dilakukan setiap hari, namun ibunya masih tetap diberi umur panjang sampai kini.

Mbah Surti mengulur tangan kirinya, mengajak berjabat tangan mbah Dakem. Sementara tangan kananya dingin tak mampu digerakkan.
"jej jej nja gong, Kem" ucap mbah Surti lirih
"iya, Ti. Dimari mari yak. Sing sabar" mbah Dakem menimpali.

Mereka membatu, keduanya saling menatap iba. Tak dinyana tetes demi tetes air mata mengalir  dipipi. Kedua sahabat itu bergenggaman tangan erat. Sekali lagi, tanpa sepatah kata, tanpa bicara. Mbah Dakem bisa membayangkan andaikata anak-anaknya tidak sabar, mungkin di dalam hati mereka pernah terbersit rasa kesal, bosan, menggerutu, dan sebagainya, atau yang paling ekstrim mungkin setan pernah membisikkan kenapa tidak berharap ibunya cepat mati supaya tidak terbebani lagi

"Num, Kem" lamunan mbah Dakem buyar
"Apa, Ti"
"M m mi num" mbah Surti mengulang
Segelas air putih segera disuguhkan yang sudah bersedotan. Dilayaninya dengan kasih sayang.

🔰🔰🔰

Raga di atas ranjang, sementara pikiran dan jiwa terpental jauh. Berbaring ke kiri salah, begitu pun sebaliknya. Tidak ada posisi tidur yang membuat nyaman. Gelisah tak menentu. Suara detik detik jarum jam terdengar jelas. Jangkring dipojok kamar sesekali mengerik. Gesekan dedaunan menambah syahdu dinginnya malam. Malam kian larut. Lampu 5 wat dikamar sudah dipadamkan lama. Mata mbah Dakem enggan untuk terpejam. Matanya terus terbelalak mengingat sahabatnya, mbah Surti.

Allohu akbar, allohu akbar
Adzan shubuh berkumandang. Mbah Dakem terbangun dengan kaget bukan kepalang. Ia melewatkan sholat tahajud. Sepasang sendal ia cari dibawah kolong ranjangnya yang sudah keropos. Pelan-pelan jempol dan telunjuk jari kaki merayap menjepit sendal jepit yang usang. Badannya masih lemas, terhuyung-huyung menuju kamar mandi.

Mbah Dakem bergegas ke mushola yang tak jauh dari rumahnya. Mukena terusan sudah ia kenakan dari rumah. Dicangkingnya sajadah hijau ditangan kiri.

Beberapa langkah dari rumah, mbah Dakem ambruk.
Gabrug!!!
Tak ada sesiapapun. Imam sudah menilawahkan alfatihah dan makmum sudah khusuk mengikuti imam.

Dasro salah satu makmum masbuk. Dari kejauhan melihat sesuatu yang mencurigakan. Tidak seperti biasanya. Ada sebuah benda putih panjang di tengah jalan. Ia bingung antara mengikuti sholat atau menemui benda aneh itu. Jika pun Dasro sholat tentu akan mengganggu pikiranya, dan tidak khusyuk. Tapi rasa takut sudah menjalar dipikirannya. Kecurigaaan membuat prasangka-prasangka buruk bermunculan.

"Sro, yuh sholat" Sarmin menepuk pundaknya.
Dasro menceritakan kecurigaanya. Ditemani Sarmin, Dasro mendekatinya perlahan. Kedua kakinya mengendap-endap. Dasro enggan melangkah di depan. Dipeganginya pundak Sarmin kuat-kuat.

"Innalillahi wainna ilaihi roojiuun, mbah Dakeeem" Sarmin terkejut, dan membalikkan badan Mbah Dakem yang tengkurap. Napasnya dicek. Tak ada udara yang keluar dari hidungnya. Detak jantungnya sudah tidak ada. Matanya terpejam dan senyuman mengukir dibibirnya yang keriput.


Monday, 27 January 2020

Desa Pemuja Adsense

*cerpenlokalitas

Hari gini apa yang tidak memakai gawai. Dari alat komunikasi,  alat transaksi, alat dagang, pusat sosial media, pusat berita dan lain-lain. Berkat kecanggihan tekhnologi Iming semakin takjub dengan dunia kini tak seindah kesederhanaan dulu.

Gambaran canggihnya tekhnologi dan gawai mematuki pikiran Iming mencetuskan ide. Iming, nama lengkapnya Muhaimin bapa dua anak yang tak mau ketinggalan zaman. Kelahiran tahun 80-an, tergolong kaum milenial dan mau belajar. Badannya ceking, meski makannya banyak. Keringatnya mudah menganak sungai dan baunya tidak menyengat. Ditengah istirahat kerjanya, ia rebahan dikursi panjang. Iming tergiur dengan sosok Atta Gledek yang jadi terkenal, Milyarder karena youtube. Angannya menerawang jauh ke langit biru.

🕝🕝🕝

"Hai, warga kesayanganku. Di dunia yang serba instan ayo kita ikuti. Modernisasi itu perlu selagi batas manfaatnya banyak. Saya sebagai kades akan membuat tim digital yang melek tekhnologi. Menyadari betul, warga desa Dukuh Slemped tidak gagap tekhnologi. Kami akan mengarahkan generasi muda berbakat yang ditampung diyoutube dan website desa.Tapi dengan catatan tidak terpapar radikalisme dan tidak ada jenis prank apapun bentuknya. Konten semua bersifat positif. Soal dana, insya Allah sudah ada dana desa dari pemerintah. Kita bisa lihat para youtuber, mereka bisa meraup uang banyak dari membuat konten. Sebagai warga yang cerdas, mari kita bangun desa yang kreatif dan inovatif. Syukur-syukur monetisasi youtube nanti berjalan cepat. Mari kita viralkan!. Kita ajak semua warga subcribe, like, share dan komen" kades Iming ketawa bahagia.

Para pemuda bersorak kegirangan menyambut niat positif pak kades. Sebagian hanya ikut tersenyum nyernyit dengan ucapan pak kades yang susah dimengerti. Warga jaman old butuh waktu untuk mengenal istilah tekhnologi kekinian itu, bahkan ada yang acuh.

Coba saja tanya para mbah dan usia paruh baya. Ketika melihat anaknya banyak rebahan saat siang dan begadang dimalam hari. Sementara uang rokok pun tak meminta, kadang menyelipkan uang belanja ke tangan emak. Emak pun bingung "Sebenere pegaweanmu apa, nang?"
"Jual follower, Mak. 1000 follower 100 rebu, mak" jawab Jul sungkan
"apa, polower itu apa?"
"Ah, emak mah gak bakal ngerti. Nih, emak yah, asal tau aja Jul juga kerja jadi buzzer. Gini-gini terkenal di twitter. Alhamdulillah sering ada pesenan" Jul senyum-senyum
"Itu pesenan kayak gorengan, nasi rames?"
"Iya, mak" Jul pergi dengan muka kecut.

Iming tersenyum simpul dengan reka adegan dalam angannya 😀

🕝🕝🕝

"Ming, iming" Wagyo menabok kaki Iming
"Imiiiing" teriak Wagyo

Iming terkejut bukan kepalang. Sekilas lamunannya pupus. Diajaknya Wagyo bercerita tentang angannya membangun desa digital. Wagyo hanya mengangguk-angguk kebingungan. Tanganya menggaruk-garuk rambut kepala yang tidak gatal. Wagyo yang hanya tamat SD hanya mengiyakan saja. Iming dianggap meracau dan kesurupan demit Kali Reong. Selesai Iming bercerita, Wagyo menggeleng-gelengkan kepala dan menepuk pundak Iming, "Yuh, kerja maning, Ming"

Sambil mengaduk semen Iming terus memanjangkan angannya yang tadi. Iming sadar buruh bangunan yang tidak sekolah tinggi, mana mungkin jadi kepala desa. Meski Iming bukan orang yang malas untuk belajar. Sebenanya otaknya encer, hanya saja pasrah dengan keadaan ekonomi yang lemah. Jika saja Iming jadi kades bisa-bisa badannya sakit semua, biasa banting tulang. Jika kerja hanya duduk manis di kantor, menghadiri rapat dan dinas ke luar kota. Bagi Iming cangkul, bata, semen adalah teman setianya yang akan mengantar pahala ibadah mengais nafkah halal.

"Bugg!!"
Ember jatuh percis dikakinya. "Aduh!" Iming meringis kesakitan. Kulit jempolnya tergores  Angannya kembali terpecah. Rupa-rupanya Wagyo usil. Mengusik keasyikannya berkelana jauh dengan kembara pikirannya.
"Kerja!!' mata wagyo mendelik. Kode keras itu membuat Iming fokus bekerja.

🕝🕝🕝

Bersarung kotak-kotak, Iming berjalan menyusuri jalan. Langkahnya terhenti melihat Yogi, Arman dan Fahmi berkumpul di depan warung Yu Sum. Yogi pemuda sebagai pengacara aktif alias pengangguran banyak acara, sementara Arman mahasiswa semester 6 dan Fahmi guru MAN baru mengajar 5 bulan. Mereka sedang duduk-duduk santai dan menyantap cemilan. Yogi sibuk bermain asap rokoknya yang ia beli hanya sebatang.

Keinginan untuk mengutarakan uneg-unegnya tak terbendung. "Ngopi-ngopi" ujar Iming menawarkan. "Boleh, boleh Yogi menegaskan". 4 gelas kopi hitam yu Sum sajikan diatas meja. Iming mentraktir mereka usai tadi ia mendapat gaji dari hasil mroyek di Haji Mitro. "cair, Wa", tanya Yogi. Iming mengurai senyum bahagia.

Gagasan ide tentang desa melek tekhnologi Iming disampaikan. Mereka bertiga ia sasar untuk berbagi karena anak muda yang kekinian dan berpendidikan.

Iming menguraikannya, Andai desa kita melek tekhnologi lalu pemerintah ikut mengelolanya insya Allah akan maju. Tidak apa jika desa kita disebut desa pemuja adsense. Toh, itu jalam rizki yang dijemput dengan berbeda. Bayangkan! Desa Adijaya dengan 14 dukuhnya  dengan jumlah warganya semisal 15.000 jiwa, menjadi subcriber 5000 jiwa saja sudah lumayan bisa didaftarkan di google adsense, konten dimonetisasi. Dan itu penghasilan yang bisa dimanfaatkan.  Konten tiap tayang berbeda tiap hari. Dari Senin  inspirtif, Selasa komedi ceria , Rabu pesona desa, Kamis minat dan bakat, Jumat pengajian berkah, Sabtu kerja bakti bantu membantu.

Para pemuda mendengar dengan seksama. Mereka kagum dengan Iming yang berpikir begitu jauh. "Hahaha, rika waras, Wa" Yogi tertawa puas.

Yogi bangkit dari duduknya. "Bagaimana desa Dukuh Slemped maju. Lihat, jalan saja dari jaman nabi Adam tidak tersentuh aspal. Ibu mau melahirkan, orang sakit parah saja digotong pakai tandu sarung untuk menghindari terjatuh. Infrastruktur tak terjamah apalagi sundulan unggul untuk sumber daya manusianya itu sendiri" yogi geram. Lalu kembali duduk dan menyeruput dalam kopinya yang masih berasap.

"Mimpimu jauh sekali, Wa. Inovatif dan nge-hits seperti anak muda. Sayang, kita berada dizona nyaman qonaah. Menerima apa adanya dan pasrah. Sebenarnya mungkin tidak demikian, warga tidak tahu prosedural mengkritisi pemerintah dan ada rasa takut. Kita memang butuh orang-orang yang berani, tegas dan lantang untuk menyuarakan aspirasi kita" Arman menimpali.

"Desa kita saja tidak transparansi soal dana desa, harusnya memang sudah mengenal dunia digital lawas. Desa memiliki website yang bisa dilihat warga. Atau membuat akun desa disosial media. Keterbukaan dan komunikasi yang saling menguntungkan dan menenangkan. Bukan fiktif atau sekedar pencitraan untuk sekedar laporan ke pejabat yang diatas. Supaya desa kita maju dan tidak tertinggal. Bukan pula semata-mata menjunjung kepentingan pribadi atau golongan" Fahmi berpendapat.

"Matur nuwun sedulur, ini jadi pencerahan yang bagus. Mimpiku nyampe nyundul langit tapi nyata keadaane terlindas yah, Lur" Iming puas dan nyengir kuda.

"Semisal benar membuat konten, aku akan membuat tutorial mengupas kelapa dengan slumbat" yogi sambil tertawa,
"Rika apa yu Sum?" tanya Iming
"Nyong akan membuat tutorial cara ngiles yang benar, tidak membuat gatal dan tidak cepat lelah, terus cara menapeni gabah dengan hasil maksimal" jawab Yu Sum, yang diam-diam memperhatikan obrolan.

😆😆😆😆 mereka tertawa
"Yuh, ngayal maning gratis ikih" Iming gembira sekali 😂😂😂


Sunday, 26 January 2020

Cerita Lucu Qismika



Asli ini true story membersamai anak setiap hari kerap ada kejutan lucu ditengah kesal. Mika belum genap 3 tahun, yang sudah mulai sekolah di RPTRA Pendawa dekat rumah semakin aktif saja.

Belajar Hijaiyah

Kebiasaan saat berjalan sambil menggendong Mika itu mengobrol. Diselingi nyanyi dan bermain tebak-tebakan.

Kalau soal menyambung lirik lagu. Mika jago menghapal lagu dengan cepat. Baik lagu anak bahasa indonesia atau inggris. Yang terupdate lagu "entah apa yang merasukimu" pun bisa disertai gerakannya 😆

Kembali saat dijalan sambil belajar
Mamah : alif, ba
Mika.    : ta, tsa, jim, ha, kho
Mamah  : dal, dzal
Mika    : wo, zai, sin, syin
Mamah : shod
Mika   : dhod, tho, dzo, ain, ghoin
Mamah : fa
mika.    : FAGINA
Mamah :😂😂 auto ngakak dijalan
            Qof, kaf bukan fagina 😅

Meski tersendat, alhamdulillah selesai sampai ya 😀 dan saat bertemu papah, aku pun menceritakan kejadian ini. Papah ngakak juga 😂😂

****

Mika naik odong-odong

Sejak usia 9bulan, Mika aku perkenalkan dengan odong-odong gowes. Seharga Rp.2000 untuk 3 lagu dan stay di tempat. Kemudian beralih odong-odong yang berrel dengan menaiki mobil-mobilan atau motor-motoran.

Tiap Minggu malam ada pasar malam di dekat rumah, hampir tidak pernah absen. Mika sudah mengenal warna dengan baik. Memilih menaiki mobil harus sesuai keinginannya. Mobil biru kesukaannya, dirayu apapun tetep mau mobil biru.

Papah : "Mika, papah mau naik odong-odong mobil merah"
Mika : "jangan, gak boleh" dengan nada tinggi
Papah :"kenapa?"
Mika : "gak muat" jawabnya ketus
Papah : "terus yang boleh siapa?"
Mika  : "dede"
Papah : "dede siapa?"
Mika : "dede yang lebih besar" jawabnya tegas

Aku cekikikan sendiri mendengar percakapan anak dan papah. Jawaban Mika tanpa dikomando, spontan. Mika slalu ada kejutan dengan diksi kata yang baru, 2T7B usianya.

***

Mika mau mandi

Mika : "Mamaaaah, maamaaah baknya terjebak" sambil lelarian menujuku
Mamah : "terjebak??" berpikir keras sambil mengambil handuk
Mika: "terjebak, mah"
Mamah : "itu ember bukan bak"
Mika : "tolong, mah"
Mamah :"ember masuk kloset, nok" ujarku sambil membetulkan 😂😂

Kata-kata 'terjebak' dari mana yak? 😀😀

***

Mika Jago Ngeles

Disaat malas jika Mika punya alasan yang masuk akal. Menaiki dan menuruni anak tangga setiap hari pasti lelah. Sejak usia 2 tahun lebih, aku mencoba mencoba memberanikan diri untuk tega. Tega membiarkan naik turun tangga sendiri dengan didampingi tentunya. Belajar mandiri juga terhitung olahraga. Selain berat badan yang makin berbobot juga kerepotanku membawa barang.

👧 "Mah, Mika gendong"
🙎 "Mika kan udah gede, mama berat kalau gendong terus. Coba, kaki buat apa?"
👧 "Buat pakai sendal"
🙎 "Terus, buat apa lagi?"
👧 "Buat pakai sepatu"
🙎"Selain itu?" mamah udah mulai kesel
👧 "Buat nendang bola"
🙎 "Kaki buat jalan, Mika" suaraku naik satu oktaf
👧 "Mamah, gendong 😕"
🙎 "ya sudah, sini" 😆


***
Setelah membuka dan melihat buku Balita cerdas tema pekerjaan. Tiba saatnya Mika dites

🙎"Sekarang waktunya belajar, yang mengendarai mobil, siapa?"
👧 "mmmmh, pak supiw" jawab mika sedikit berpikir.
🙎 "Heibbat!, Yang mengendarai delman?"
👧 "Pak kusiw" jawab Mika cepat
🙍 "Awasome!, Yang mengendarai pesawat siapa?"
👧 "Pilot"
🙍"Yang mengendarai kereta?"
👧 " mmm, mmmm, masitek"
🙍 "Masinis, sayang. Kalau arsitek yang merancang bangunan, kayak rumah, jembatan, gedung dll. Sekarang yang mengendarai kapal siapa?"
👧 "Nahkoda"
🙎 "Masya Allah, yang mengendarai motor siapa?" usai ku cium pipinya
👧 " Papaaah" riang sekali
🙎 " 😃😃😃😃😮"

****

Belajar panca indera

🙎 "Mika, mata untuk?"
👧 "Melihat"
🙎 "Bagus, Hidung untuk?"
👧 "Mencium"
🙎 "Heibbat, telinga untuk?
👧 "Mendengaw"
🙎 "Lidah untuk?
👧 "Mewasa"
🙎 "Coba, kalau mulut untuk apa?"
👧 "Mengomong"
🙎 "😂😂😂, ngomong atau bicara" jawabku sambil terkekeh

****

Saat Mamah Papah Jadi Pengantin

Kami pandangi galeri foto-foto digawai. Salah satu yang jadi perhatian Mika adalah foto pernikahan orangtuanya
👩 "Mika, waktu mamah papah jadi pengantin Mika dimana?"
👧 " Mika bobo sendirian"
👩 "Mika gak diajak" sambil senyum-senyun
👧 "Mamah lagi didandanin biar cantik"
👩 "Didandanin pakai apa?"
👧 "pakai listik, bedak, alis, bulu mata"
👩 "😂😂😂😃"



Saturday, 25 January 2020

Terimakasih Bu Saroh



Belajar Dari Bu Saroh

Beristirahatlah dengan tenang di keabadian, Bu

Bu Saroh guru ngaji dari saya kecil sampai SMA. Beliau yang mengajari ngaji Alquran di TPQ Daarul Quran secara presisi. Makhorijul sangat ditekan, begitu pula tajwid dan tartil. Artikulasi yang ditujukan  huruf sangat jelas mana yang harus mecucu, monyong, pipi melendung dsb. Rambu-rambu dalam membaca Alquran sangat diperhatikan, seperti waqaf. Kadang kita sendiri sering mencuri napas ditengah ngaji. Diajarinya mengulang kata tanpa mengurangi maknanya dan diajari pula dimana harus berhenti dimana harus washol. Sering sekali mengingatkan saat melafal Allah dengan lam jalalah secara tafhim (tebal).

Usai adzan dhuhur tiba, para santri berdatangan dan duduk diatas lantai. Sebelum mengaji, para santri secara serempak membaca surat pendek juz 30 dari surat Alfatihah hingga Adduha. Selanjutnya ngaji satu-satu. Diajarinya syair syair dan sholawat. Telinga beliau sangat tajam saat mendengar salah satu santrinya ada yang kurang, meski sedang aktifitas lain. Dengan tegas meminta diulang dan diperbaiki usai beliau memberi contoh.

Letaknya di desa Dukuh kweni RT 01  Adisana Bumiayu Brebes. Santri yang berdatangan dari tetangga desa seperti Baruamba dan Adisana. Bisa dipastikan muridnya sangat banyak dan dari generasi ke generasi. Dari kakak saya no 2 sampai adik bungsu yang ke-9 mengaji di TPQ Daarul Quran.

Selain mengaji, beliau juga yang mengajarkan berbahasa jawa halus. Meski terlahir darah ngapak,  namun unggah ungguh bebasan masih dipakai. Segan jika berbicara dengan ibu dengan bahasa ngapak, meski terseok seok menyusun kata menggunakan bahasa kromo halus. Bukan tidak jarang lagi, saat saya ingin berbicara dengan beliau bertanya dulu dengan teman bahasa halus 'x' itu apa. paling mutakhir keluar kata "duko" saat ditanya beliau, yang artinya tidak tahu.

Pada saat usiaku remaja, TPQ Darul Quran mendapat donasi dan mulai berbenah. Saya kebetulan ditunjuk sebagai ketua. Dengan dibantu suami beliau, pak Khaer.  Berbarengan saat itu dengan kedatangan KKN mahasiswa STAIN purwokerto. Program tafsir alfatihah, tajwid, tartil sedang berlangsung. Kami juga angkatan pertama yang bersertifikat, yang tentunya melalui ujian. Setelah sekian tahun mengaji baru saat itu dikenakan biaya ongkos cetak. Selebihnya gratis. Dan program sertifikat berlangsung hingga generasi selanjutnya.

Berlangsung acara itu pula kami diajari menari lagu gambus oleh para mahasiswa. Sebab markas mahasiswa di Adisana, maka santri dari Adisana yang lebih fokus diajarkan. Nah, disitulah inisiatif kami berkembang. Santri dari Dukuh Kweni punya 2 grup. Terinspirasi dari kaset cinta Rasul garapan Hadad Alwi dan Sulis yang dilakoni oleh bapak Mukhalik dan Aisyah anaknya serta santriwati lain sebagai pengiringnya. Dan kami bu Iffa, Siska, Emi, Fika menampilkan tarian gambus yang lain hasil koreografi gabungan. Berkat kerja keras tim, TPQ Daarul Quran juga sering dipanggil diberbagai acara. Manggung di acara Agustusan, resepsi nikah, halal bihalal dan sampai di Bumiayu juga. Dengan segala kebaikan beliau, minum disediakan ibu dengan  suka rela. Bahkan cemilan seadanya pun dibagi. Walaupun tak seberapa, seberapapun santri yang ada dibagi rata.

Terakhir bertemu beliau kurang lebih setahun yang lalu. Masih mengingat namaku dengan lengkap. Selalu disetiap perjumpaan dengan beliau mendoakanku. Memegang dada sambil mendoakan dengan khusyuk lalu berlanjut mendoakan diatas ubun-ubun. Bukan hanya aku tapi setiap santrinya pun didoakan demikian. Terakhir beliau mencium pipi kanan dan kiri. Senyumnya ramah dan renyah, masih ingat sekali.

Mengenang kebersamaan dengan beliau tidak semua bisa tertulis disini. Kebaikan beliau tidak ternilai. Hanya Allah yang berhak menilai, layaknya semoga surga adalah terbaik untukmu, Bu

Allohummaghfirlaha warhamha waafihi wa'fuanha

****

Mengenang Masa Ngaji Di Bu Saroh

Sega punar adalah makanan paling enak dan sangat membanggakan saat ngaji di Bu Saroh. Sega punar ada hanya saat khotmil atau hatam alquran. Setahun hanya 1-2 kali saja kadang malah setahun sekali. Biasanya menjelang Ramadan. Hatam Alquran yaitu menamatkan 30 juz, 114 surat, 66666 ayat dalam Alquran, meskipun tidak menjadi hafidz, para peserta sudah mengaji dengan tartil, lancar, makhorijul huruf bagus dan sudah paham ilmu tajwid. Sebenarnya tidak ada patokan biaya, lebih banyak inisiatif wali murid yang menyuplai. Dengan beras sekian kilo dan jago yang gagah dan sehat berikut bumbunya.

Persiapan beberapa hari dibantu ibu-ibu yang mengaji dan tetangga beliau. Salah satu yang dipersiapkan banyak adalah kayu bakar dan daun pisang. Dengan dibungkus secara dipincuk bak ponggol. Nasi yang ditakar dengan mangkok lalu dibungjus dilipat kebawah dari dua sisi. Satu santri dapat satu bungkus. Warna nasi yang kuning, bersantan berempah-rempah. Aroma harumnya khas dari sereh dan daun salam. Dengan lauk ayam, mie dan urab. Rasanya menggugah selera sekali. Perjuangan yang didapat tidak mudah. Biasanya santri yang biasanya jarang hadir akan datang. Meskipun menanti cukup lama melalui serangkaian mengaji dan serangkaian doa yang panjang. Santri-santri mengamini setelah itu mengantri dibagi.

Ya, itu sega punar atau sega kuning. Jika tak diberi pewarna kuning kunyit maka menjadi nasi uduk. Dan sangat mudah dijumpai di pasar atau warung nasi tetangga apalagi untuk sarapan terutama wilayah Jakarta. Rasa enak yang didapat karena melalui proses perjuangan dan mimpi setiap santri. Menamatkan membaca Alquran, selain sebagai prestasi juga ada nilai ibadah.

Lanjut cerita lain,  saat membaca Alquran belum lengkap jika dibantu 'tuding' atau alat petunjuk. Tuding biasanya para santri berkreatifitas sendiri dengan menggunakan bambu. Ada yang dibentuk keris, bergerigi atau segitiga sembarang. Usia anak yang mencoba membuat perlu sekali bimbingan orang lain. Mengingat menggunakan benda tajam dan sebilah bambu yang bisa berbahaya juga. Saya sendiri pernah beberapa kali terkena pisau. Sebentar saja kapok kemudian hari lain bermain pisau lagi. Ada yang praktis dan tidak repot cara membuat tuding, yakni dari batang bulu ayam atau angsa dan lidi. Biasanya sapu lidi jadi sasaran santri, sering sapu lidi cepat pendek dan berserakan.

Nasib tuding hanya sementara. Bisa bertahan dalam hitungan jam dan hari. Kadang hilang, kadang ada yang meminjam dan tidak dikembalikan, kadang pula patah. Saat ini tuding dari plastik dijual dipasar dengan harga murah. Jadi tidak perlu repot-repot berperang dengan pisau dan bambu.

Selain itu, letak TPQ Daarul quran yang sangat dekat dengan sungai menjadi cerita sendiri. Ada yang mencari ikan sambil menunggu santri sepi bahkan ada yang hanya modus. Berbusana santri tapi hanya kedok untuk mencari ikan. Dengan cara marak atau nener. Ini menggunakan alat yang transparan bisa cepon, ayak atau jaring. Bisa juga dengan reregem alias keahlian tangan dengan merogoh lubang-lubang dan disela bebatuan. Suatu kebahagiaan tersendiri mendapatkan anak kutuk dan udang. Biasanya paling banter ikan blenduk, cici melik dan benter. Bukan rahasia umum, jika sepanjang sungai merupakan pembuangan limbah MCK warga dan sampah. Kebayangkan meskipun bening, tapi kotoran bisa terlihat sempurna.

Untuk melewati sungai tentu melewati jembatan. Kami mengenal dengan istilah powotan. Powotan masih menggunakan beberapa batang bambu yang dijejerkan rapat. Lalu diberi pegangan untuk keselamatan. Santri yang kebanyakan anak-anak sering bermain dipowotan itu. Jejingkrakan dan diayun-ayun. Padahal usia jembatan bambu tidak panjang, mudah rapuh terkena panas dan hujan sehari-hari. Dan saya adalah salah satu korban powotan itu. Sepulang mengaji bersama, santri melewati jembatan berdesakan. Waktu itu usiaku sekitar 9 tahun, "Bug!" saya terjatuh ke sungai. Bibir atas sebelah kanan sobek. Sakit dan perih rasanya. Bisa jadi terkena beling yang dibuang disungai. Alhamdulillah sudah puluhan tahun lalu dibuat jembatan permanen.

 Beberapa warga menolongku, mengganti baju dan diselimuti kain. Sementara darah dari bibir terus saja menetes meski ditahan dengan kain. Setelah bapa datang, saya dibawa ke puskesmas (sekarang RSUD),dokter menjahit robekan bibir. Alhasil hingga sekarang bekasnya masih, garis bibir menjadi tidak normal sedikit. Jika diperhatikan dari jauh tak nampak. Untung saja saya tidak menggunakan lipstik, jadi garis bibir yang tak biasa itu tak repot-repot diakali. Alhamdulillah masih berfungsi sebagai mana fungsinya.

***

Terimakasih Bu, saya bukan penerus yang mengajarkan mengaji pada banyak orang. Sekarang saya rutin mengajari anakku mengaji diusianya yang belum genap 3 tahun. Sedari beberapa bulan yang lalu anakku sudah terbiasa melafalkan surat pendek dan belajar huruf hijaiyah sesuai makhorijul huruf yang ibu ajarkan.

Alfaatihah buat ibu

Friday, 24 January 2020

Menjadi Konten Kreator


*Awal Desember 2019

Mencoba Keberuntungan

Usaha boleh sama, menyoal rizki tentu berbeda dan sudah diatur Allah. Bekal pengalaman dan fasilitas yang ada mencoba terus menggali potensi. Melihat potensi dari dunia digital terjadang menggiurkan, namun kembali ke rumus pada umumnya sebuah usaha adalah ketelatenan.

Menjadi youtuber adalah mimpi suamiku saat ini. Setelah sekian lama menggali ide akhirnya memutuskan dengan konten cover lagu. Sebab musik dan lagu merupakan bahasa universal. Belum dimulai upload dan membuat akun memang. Kegigihannya sudah dimulai dengan menyicil belajar dan membeli alat yang diperlukan. Jika ditotal ada banyak yang dipersiapkan dari software dan hardware. Komputer kerja, kamera, tripod, hp dan gitar akustik sudah siap. Nyatanya perlu sound card, kondensor, mic belum terwujud, biaya masih sekitar dibawah 5jt lagi. Haaah, ternyata mahall juga untuk membuat konten seperti itu😆

Selama ini merintis karir mengurus usaha sablon bertahun-tahun. Kadang ramai kadang juga sepi, alhamdulillaah cukup untuk membiayai hidup anak istri dan seorang karyawan di ibu kota. Berawal dari karyawan, perlahan memberanikan membuka usaha sendiri setelah mental mampu serta tahu ilmu dan pasarnya.

Sambil bekerja meruncingkan telinganya untuk menghafal lirik lagu. Sadar betul, dari referensi youtuber cover lagu untuk diterima di seluruh dunia harus bisa membawakan lagu berbahasa Inggris. Selain itu, lagu dengan berbagai genre sering didengarkan juga. Mengingat pecinta musik dan lagu di youtube tidak semua sama.

Sebagai istri, ada berbagai rasa. Kecemasan saat sering begadang untuk mengutak atik software, mencari kunci lagu, menghafal lirik dsb. Senang saat hobi membawa manfaat, dari pada keluyuran atau tidak positif. Sebagai istri, aku percaya suara vokal suami tidak jelek dan memiliki karakter vokal yang khas. Sejak dibangku SMP sudah ngeband, pernah menjuarai lomba menyanyi juara 2 disebuah stasiun radio, lanjut beberapa tahun silam juga sering manggung dari kafe ke kafe. Nyalinya sudah teruji, bahkan sempat iseng mengamen bersama temannya saat masih bujang dulu 😄

Kami berteman sejak kecil, teman se TK, MI, MTs dan berpisah sekolah saat masa abu-abu putih. Di saat sama-sama merantau aku pun pernah mendaftarkannya secara online, untuk ikut audisi indonesian Idol. Sayang, selalu ditolak. Hahaha jodoh tak kemana, teman, tetangga dan menjadi teman hidup. Mungkin ini jalan untuk mengekapresikannya dengan bernyanyi.

Semangat suamiku, seberapapun subcriber atau viewer tidak menyurutkanmu berkarya. Minimal ada jejak digital positif untuk anak cucu kita. Jikapun nanti menjadi pundi uang atau terkenal adalah bonus. Tetap rendah hati dan menjadi lelakiku yang bersahaja. Menjadi lelaki yang takut Tuhan 😍😘

*Pertengahan Januari 2020

Menikmati Proses

Lebih dari satu purnama melewati tengah malam jarang membersamai suami. Membiarkannya memilih menggali ilmu baru. Belajar dari keinginan yang sedang menjadi mimpinya.

Menjadi konten kreator ia pilih disaat pekerjaannya tidak banyak. Berbekal modal yang sudah ada berupa komputer, hp, kamera, gitar dan kuota. Perlahan rezeki yang ada dibelikan alat yang mendukung. Dari uang yang terkumpul gitar akustik, sound card, microphone kondensor, stand mic, stand hp terbayar tunai.

Memilih konten cover lagu setelah pertimbangan yang matang. Mengingat musik dan lagu adalah bahasa universal. Dari sekian banyak referensi dari youtube. Youtuber cover lagu sering ia tonton begitu juga finger style dalam memetik gitar. Seperti channel milik Alif ba-ta seorang finger style dengan kesederhanaannya. Berlatar belakang dinding yang ditutupi oleh poster edukasi anak dan berbusana seadanya. Namun skillnya tidak terbantahkan. Sudah ada ratusan ribu subcriber, jutaan viewer dan komentar memuji.

Tidak menyangka, rupanya suamiku sosok yang perfeksionis. Dari menghafal lirik lagu, kunci lagu, tempo lagu, kontrol mic dll sangat diperhatikan. Ujung jemari kelingking, manis dan tengah kapalan. Berulang kali recording, berulang take kamera, berulang kali juga memperbaiki. Sampai benar-benar suara dan musik bening serta tidak mengurangi khas suara suami yang memiliki falset tinggi. Mengambil jenre pop rock yang sesuai karakter suaranya.

Software penyaring suara dan edit video sudah diunduh dan diinstal. Software driver soundcard pun juga diinstal. Dipelajarinya secara mendalam. Kendala sinyal kacrut saat mendownload awalnya, bisa lancar diunduh tengah malam. Selanjutnya menu-menu dalam aplikasi dicobanya. Didengarkannya secara presisi. Telinganya diruncingkan.

Sebagai istri yang awam soal menyanyi bagus bagus saja. Nyatanya tidak bagi pendengaran suami. Pernah berantem atau marah? Jawab iya. Saat ditengah malam suara itu mengganggu lupa dikecilkan volumenya. Saat mengingatkan sholat dengan emosi sebab diundur waktunya.

Esoknya kami kembali hangat seperti biasa. Koreksi sedikit dari hasil record yang terdengar mendengung. Saling mengingatkan dan mengisi hari-hari. Paling banter saat berantem adalah saling diam untuk beberapa hari. Namun, soal uang belanja, mencuci, menyediakan makanan, bermain dengan anak dll masih normal.

Sejauh ini aku mendukungnya penuh. Dari pada bermain game online, keluyuran atau berbuat yang tidak baik. Kontennya positif, belajar dari nol yang didapatnya dari google dan youtube. Ilmu baru bagi suami dan aku. Soal haram bermusik itu kembali kepada pilihan. Jika pun nanti diupload yang menonton bagi yang mau dan memiliki kuota tentunya. Kembali kepada niat dan berkarya positif.

Kini saatnya unjuk gigi. Usai berlelah-lelahan belajar. Selanjutnya akan terus belajar lagi. Asli orang Dukuh Kweni, Adisana, Bumiayu.

Jangan lupa subcribe, like, komen & share🥰

https://youtu.be/-Y4nDJu1Odo

Friday, 25 January 2019

Pasar Slumpring, Pasar Kuno Yang Kekinian

Pasar Slumpring, Pasar Kuno Yang Kekinian


Menjelang akhir tahun 2018 kemarin, baru saja tiba di kampung halaman, eh keluarga dari suami mengajak kami jalan-jalan. Pasar Slumpring di desa Cempaka,Bumijawa, Tegal. Pasar ini sudah setahun berjalan yang diresmikan bupati alm. H. Entus. Letaknya diatas sumber mata air bulak.



Berkonsep mengusung konvensional, tradisional dan instagramable. Pasar ini mengharuskan pengunjung membeli dengan menukar uang rupiah dengan koin. Slumpring sendiri diambil dari nama kulit bambu yang menutupi rosan bambu, biasanya berwarna coklat muda. Satu koin dihargai Rp. 2500 dan hanya buka di hari Ahad dan hari-hari tertentu. Letaknya yang berada ditengah rumpun-rumpun bambu membuat teduh dan rindang disekelilingnya. Pasar ini menjual jajanan tradisional juga lengkap dengan peralatan yang kuno. Seperti kendi  dari tanah liat, piring dari rotan, gelas dari tanah liat dsb.




Begitupun para penjual, berseragam kebaya brokat hitam, berkerudung hijau dan bawahan batik. Pasar ini selalu bersih, sebab petugas kebersihan yang berkalung (sing resik-resik) selalu sigap membersihkan kotoran. Para pengunjung disuguhi alunan musik bambu yang dipersembahkan remaja-remaja setempat. Mereka tergabung dalam Grup Musik Amuba, dengan memainkan alat musik dari tanaman beruas seperti angklung, kentongan, seruling, dan lainnya. musik yang dibawakan langsung membuat syahdu suasana. Beralaskan tikar sambil makan ditemani live musik suasana makin asik dan ceria bareng orang tercinta.


Adapun makanan tradisional yang dijual antara lain serabi, oyek, ocar-acir, nasi jagung, nasi ketan dsb. Untuk minuman ada cendol, bandrek dll. Aku sendiri memilih makanan atas referensi mams mertua. Memilih sega ponggol dengan hidangan nasi merah berlauk sayur daun singkong, oseng kacang, gudeg, sambel hijau dan ikan asin. Jangan tanya rasanya, manja banget dilidah pengin nambah hehe. Walau pun sebebarnya sudah kenyang, ups. Untuk minumnya es pasar slumpring dengan menukar 2 koin. Minuman warna hijau rasa pandan campur kacang ijo dan agar-agar menyejukkan tenggokan.



Ingat yak, di hari libur ngantrinya ampun. Rela datang hanya memenuhi rasa penasaran dan memenuhi kebutuhan sosmed juga. Dibalik cerita ngantri koin ini ada cerita inspiratif. Mama mertua mengambil inisiatif membeli banyak koin untuk dijual kembali. Dengan meraih untung gopek perkoinnya, warga mau saja dari pada mengantri lama dan capek. Mama memang jago soal bisnis dan memang berotak bisnis hehe



Thursday, 8 November 2018

Menikah Adalah Pengorbanan

Menikah Adalah Pengorbanan
Acara pernikahan yang sederhana


Menurut banyak orang, ujian pernikahan bisa mulus jika sudah melewati usia pernikahan 5 tahun. Sejatinya, belum banyak pengalaman yang aku alami diusia pernikahan yang ke-3. Seperti roller coaster, ya memang betul. Berawal dari teror nikah oleh orangtua sebab akan dilangkah untuk kedua kalinya. Lalu aku meminta sahabat dekat untuk menikahiku. Bukan tanpa alasan, dia juga pernah mengutarakan keinginan untuk menikah denganku sebelumnya. Tidak bermodal banyak, ala kulli haal semua Allah yang mempermudah hingga selesai walimatul ursyi. Kemudian memulai di kontrakan tanpa isi barang kecuali isi tas berupa beberapa baju, sprei, mukenah dan sajadah. Aku nangia sejadinya. Usai sholat magrib, dengan sisa uang menikah kami ke pasar membeli kasur, lemari dan perlengkapan yang lainnya.

Jadi teringat masa lalu saat masih jomblo. Capek kerja dijawab dengan menikah tidak sepenuhnya benar. Teror nikah yang kadang membuat geram, meski terkadang niatan orang  hanya iseng. Jadi,buat para jomblo yang ingin menikah karena capek kerja tolong diperbaiki lagi niatnya. Setelah menikah keduanya harus rela berbagi. Ada dua kepala yang mempunyai satu tujuan. Seperti rel yang mengarahkan kereta api melaju menuju tujuan. Saling mengisi, saling melengkapi hingga menua bersama.


Contoh kasus dari tetangga sebelah yang menikah dengan rela menjadi istri kedua. Hidup dikontrakan sepetak dan dikunjungi saat akhir pekan. Wanita tersebut dengan badan tinggi putih dan cantik seperti paras SPG mall. Mereka boleh saja memilih dengan alasan cinta tidak bisa memilih. Tapi cinta yang seperti apa yang dibawa hingga berlama-lama. Sebagai wanita yang tahu hanya bisa berdoa dan banyak istighfar. Sangat jauh berbeda kiranya, menikah resmi, hanya dengan satu pasangan dengan menikah siri. Bisa dikatakan perbedaan nikmat dan tersiksa. Namun kadang seorang wanita lebih mencintai rasa tersiksa itu. Termasuk untuk urusan cantik. Ini tidak jauh dengan kasus hamil menikah dan hamil diluar menikah. Nikmat kehamilan itu diganti ketakutan bagi mereka yang diluar menikah. Sekarang, kembali kepada kita masing-masing untuk menentukan pilihan. Sebab, menikah adalah ibadah terlama sepanjang hidup pilih yang membawa keberkahan.

Bagi seorang wanita, setelah menikah kebebasan terenggut. Semisal bepergian, bersolek atas izin suami. Memberikan sisa hidupnya bersama pasangan. Keduanya saling melayani. Ketika istri mengabdikan hidupnya di rumah, sementara suaminya mengandikan diri untuk menghidupi anak, istri dan keluarganya. Berat? Iya. Seorang suami bertanggung jawab secara dunia dan akhirat terhadap anak dan istrinya. Mengangkat derajat, menghormati, menghidupi  ke-3 wanita yaitu istri, ibu kandung & ibu mertua.


Tak cukup urusan cinta yang membawa pernikahan langgeng. Dalam rumah tangga semakin mengerucutkan urusan hidup kepada Allah, insya Allah makin ringan. Tidak ada rumah tangga tanpa goncangan. Ada saja ujian silih berganti, entah kecil atau besar. Namun keduanya ringan karena dipikul bersama. Seberapa pun masalah, tetap untuk tidak lari. Jika perlu tidak sampai suara pertengkaran melewati pintu dan daun telinga buah hati. Kembali, perbuatan kita adalah cermin dari sholat kita. Semakin paham makna sholat, semakin dekat dengan hati yang tentram. Semakin jauh dari nafsu dan emosi jahat.

Contoh kasus lagi, ketika suami rajin nge game. Kita tahu lah, usai booming COC (Cash Of Clans) lalu ML (Mobile Legende). Keduanya games online yang sering membuat lupa waktu jika sedang 'war' tiba. Hampir semua wanita kesal melihat pasangan yang enggan lepas dari gadget disaat kumpul bersama. Pertengkaran pun sering terjadi. Ini bagian dari pengalaman pribadi. Setelah semalaman saling diam, lalu bermaafan. Hikmahnya, nge game lebih baik dari pada berbuat yang tidak baik di luar ataupun keluyuran. Biarkan pasangan kita nge game, setelah lelah mencari nafkah. Mungkin itu me time_nya atau sekedar refresing. Selama pasangan masih sholat 5 waktu dan menafkahi lahir batin. Ya sudahlah, biarkan saja. Intinya jalin komunikasi yang baik, utarakan keluh kesah dan gundah gulana.

Jadi, bagi kalian yang berpikir menikah untuk sekedar melepas status kelamaan jomblo, capek kerja atau takut tidur sendiri coba gali lagi tentang ilmu nikah. Serius, menjalaninya butuh kesabaran terus menerus. Pasangan hidup tidak selalu yang digambarkan sosok Hanan Attaqi seorang hafidz bersuara merdu atau Ardi Bakri anak konglomerat yang tidak diragukan hartanya. Hampir kebanyakan lelaki biasa dengan ilmu agama seadanya. Tidak menuntut lebih, yang pasti 5 waktu sholat yang tidak terlewatkan, mengarah kepada hal yang lebih baik itu lebih dari syukur. Selain itu doa secara presisi tak berhenti untuk apa saja membolak-balikkan hati. Seperti meminta pasangan untuk mau sholat sunnah bersama atau meminta pasangan untuk tidak mengulur-ulur pekerjaan.

Tulisan yang lumayan panjang, sedikit mengurai kegelisahan. Rumah tangga punya cerita tangisnya masing-masing. Menikah itu ibadah. Dan nikmatnya itu ada rezeki yang tak terduga. Ada banyak kejutan didalamnya. Selalu libatkan Allah dalam segala urusan, insya Allah godaan lebih mudah teratasi.

Saturday, 25 August 2018

BOLT Ultra Unlimited Teman Setia Menemani Hari-hari Tanpa Khawatir

BOLT Ultra Unlimited Teman Setia Menemani Hari-hari Tanpa Khawatir

Hari gini kebutuhan pokok tak lagi sandang, pangan, pangan. Tambah lagi, Hp tanpa kuota seakan membuat semua mati gaya. Hidup tak mau mati pun tak segan hehe. Perkara yang ini, kami sudah menemukan solusinya. Malah ada sebagian orang yang lebih takut ketinggalan hp dari pada dompet.

Ya, kehadiran BOLT home Ultra Unlimited sejak beberapa bulan ini sudah mengubah kegelisahan menjadi ketenangan. Kenapa? Sebab dengan kuota 4G unlimited tak lagi dag dig dug tetiba kuota habis sedang berselancar di dunia maya. Tanpa disadari, lanjutnya, kuota semakin cepat habis dan harus membayar lebih mahal, karena semakin banyaknya konten besar dan berkualitas tinggi yang bisa dinikmati, namun menguras kantong. Mengingat pengalaman sebelumnya sudah menggunakan produk mifi merk sebelah. Hasilnya mengecewakan, menguras kantong. Ini menjawab kebutuhan suami yang berprofesi di dunia percetakan, membuat ia tak jauh-jauh dari design grafis. Pesanan gambar atau logo dari pelanggan yang dikirim via sosmed atau email, ia racik sendiri hingga menjadi karya sablon di atas media sesuai pesanan. Kebetulan pengerjaanya semua di rumah. Kebutuhan internet unlimited bolt dan manfaatnya setia menemani hari-hari. Tanpa khawatir dan gelisah, lancar selancar glek tegukan air minum ke kerongkongan.
Meja kerja suami dan hasil karyanya, tanpa internet unlimited bolt apalah artinya 


Kita tahu dengan kuota 4G tentu lebih mahal dan lebih boros menyedot kuota internet meski kecepatan lebih kencang.  Kenapa BOLT! Ultra Unlimited jadi pilihan? Tidak ada batasan kuota atau FUP (Fair Usage Policy). Pengguna bisa browsing dan download sepuasnya. Tidak perlu khawatir lagi koneksi internet mati. Untuk lebih lengkapnya kunjungi  http://bolt.id/bolt-unlimited. Dengan BOLT! Ultra Unlimited ini mencukupi kebutuhan internet semua. Dengan pengguna internet, suami, saya, komputer dan seorang karyawan, dalam sebulan sangat puas dan tagihan yang tidak jebol dikantong. Stalking sosial media facebook, twitter, instagram, whatsapp  dll tanpa ketar ketir kuota habis. Dengan kecepatan tanpa hambatan update status, chating pun lancar. Menonton film, mendengarkan lagu di youtube tidak buffering. Berselancar seperti mencari jalan tikus, jadi cepat sampainya tanpa nyasar lagi.

Sedikit cerita, selama bekerja suami tidak pernah sepi. Selalu ada musik yang didengar melalui channel youtube. Dilansir dari kompas.com, beragam riset ilmiah telah dilakukan untuk membuktikan pengaruh mendengarkan musik saat bekerja terhadap performa individu. Sebuah studi pada tahun 2014 digelar oleh Mindlab International terhadap sekelompok pekerja yang mendengarkan musik saat diminta menyelesaikan berbagai tugas, seperti mengeja, menghitung secara matematis, urut kata, memasukkan data, dan berpikir abstrak. Studi tersebut melibatkan 26 pekerja sebagai partisipan. Hasilnya, 88 persen pekerja mengerjakan tugas dengan sangat akurat, dan 81 persen menyelesaikan tugas dengan sangat cepat. Para partisipan mampu mengerjakan tugas dengan akurat dan cepat saat mendengarkan musik.
Lebih anteng makan ditemani tontonan dari youtube tanpa tersendat-sendat


Sebagai ibu muda kekinian. Trik untuk membuat anak anteng itu dengan menonton video lagu anak di youtube. Cara ini cukup ampuh saat saya kesulitan meninggalkannya untuk sholat atau aktifitas lain. Begitu juga saat makan, anak usia 1.5 tahun tidak bisa diam dan ingin makan sendiri. Sambil duduk, makan sendiri dan menonton youtube anakku makan selesai, meski tetap berantakan hehe. Dan kesalnya, menonton youtube menjadi kebiasaan yang sering membuat anak merengek untuk menonton lagi dan lagi.

Meski kadang kesal dengan sikap candunya kepada youtube. Tapi cara anakku menyampaikan untuk dibukakan aplikasi itu sangat menggemaskan. Tangan kami diraih dan dibukanya jemari kami lalu diletakkan hp diatasnya sambil bilang "beep beep" (salah satu bunyi dalam nyanyian anak The Wheel On The Bus). Kemudian badanya bersandar ditubuh kami, atau kadang anak dipangkuan kami. Terkadang mamah atau papahnya. Saat kami menonton dengan bersandar dan obrolan itu terasa sekali itu momen romantis. Kedekatan anak dan orangtua, sentuhan kulit dan kulit membuat kedekatan semakin kuat. Aih, jadi curhat 😀

Dengan dukungan jumlah BTS 4G terbanyak dan Network Optimization yang dilakukan, BOLT! 4G Ultra LTE meluncurkan paket unlimited di saat operator lain tidak memilikinya. Dan wajar, #BoltLebihBaik dengan keunggulan tersebut, BOLT! Ultra Unlimited sangat cocok untuk penggunaan pribadi, keluarga di rumah atau untuk bekerja dengan kebutuhan akses internet yang tinggi.

#BoltLebihBaik

Wednesday, 15 August 2018

Menjadi Apapun, Jadilah Orang Baik, Nak

Menjadi Apapun, Jadilah Orang Baik, Nak

Usia putriku hampir 1.5 tahun. Anak pertama diusia pernikahan hampir 2.5 tahun. Sebagai ibu baru banyak kebahagiaan dan kecemasan yang datang. Era sekarang tidak seperti dulu.

Melihat drama sosial media setiap hari, membuat hati seorang emak seperti saya was-was. Entah seperti apa kehidupan 10 tahun ke depan dengan segala kemajuan tekhnologi. Ketakutan itu salah satunya menjauhkan kedekatan orang tua dan anak. Ruang-ruang mesra itu diisi dengan kelakar jemari di dunia maya dan merangkai alfabet dan emotikon.

Merangkul kembali dunia nyata. Ini sedikit ketakutan aku sebagai ibu di era seperti sekarang. Takdir yang tak bisa ditebak, membawaku untuk menitipkan keluh kesah. Mengurai kegelisahan dengan menyusun alfabet.

Ini tulisan aku persembahkan untuk anakku. Merasakan ketenangan keberkahan atas rizki yang diberikan melalui berdagang tanpa resah dan takut. Belajar dari papahmu yang senang membeli barang bekas yang masih dari pada kredit dan tercekik riba. Lebih baik mengontrak sepetak dari pada membeli perumahan dan menyicil selama belasan tahun.

Tuntutlah ilmu setinggi mungkin. Jika perlu sampai ke negeri seberang. Mamah tidak melarang. Tidak mengapa jika kelak akhirnya berujung menjadi ibu rumah tangga. Ilmu itu akan tetap berguna untuk anakmu kelak. Kamu tahu, perjalan yang ditempuh sepanjang perjalananmu tidak akan pernah mulus. Ada naik dan turun, ada susah ada bahagia. Namun itu yang akan menempa kesabaran, yang membangkitkan dalam keterpurukan. Yang mengingatkanmu tentang arti syukur.

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.”[Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”[QS. Attalaq :2-3)

Berdasar ayat diatas mengingatkan kita, betapa jika bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah yang akan menyukupkan rizki dengan jalan yang tak diduga-duga. Teringat teman umrohku dulu, betapa bangganya seorang anak lelaki membawa kedua orangtua dan mertuanya umroh bersama. Ayah kandungnya sangat sepuh dan sedikit pikun. Dengan telaten dan sabar, beliau mendampingi dengan mendorong kursi roda dari thawaf, sai hingga sampai kembali ke hotel. Kebetulan aku sekamar dengan ibu dan mertuanya. Teringat jelas pesannya, "carilah pasangan yang bertaqwa, insya Allah Allah yang mencukupkan kebutuhannya". Waktu itu masih jomblo hehe. Lelaki itu berprofesi guru dan sangat fasih berbahasa Arab, masya Allah.

Melihat perkembangan dunia profesi di zaman now terus berkembang. Honestly sebagai ibu, tidak menginginkanmu menjadi ASN, PNS, guru, pegawai pajak atau bank. Semua hasil jerih payah dari profesi yang memakan riba atau pun yang subhat.

Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Namun, pada kenyataannya sertifikasi dan tuntutan lainnya membuatmu mengejar nilai uang lebih dari sekedar honorer. Menjadi guru tidak harus dibangku sekolah. Justru alam dan sekitar semua adalah guru. Tergantung kita pandai mengambil hikmah atau tidak dari setiap perkara. Aku lebih menyukai pribadi relawan dan filantrophi pada seseorang. Yang tanpa diminta selalu ada, yang memberi tanpa harus diminta, yang berjuang tanpa pamrih. Belajar lillah, billah dan fillah (karena Allah, dengan Allah dan di jalan Allah).

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7) Intinya, teruslah berbuat baik. Sejalan dengan kutipan firman Allah diatas, juga ada hadits yang menerangkan, "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat yang lainnya".

Berat, ya itu berat. Bukan rindu ya bukan. Tapi soal ikhlas. Mengerjai tanpa keluh kesah, dibungkus syukur dan tawakkal.

Mika anakku,
Mama menuliskan ini bukan tanpa alasan. Kembali, maut, jodoh, rizki, rahasia ilahi. Betapa mama sangat bahagia dengan kehadiranmu. Menulis ini dengan raga yang sadar tanpa tekanan apapun. Semoga bisa dikenang sampai kapan pun. Bahkan mungkin sampai mamah dipanggil mbah oleh cucuku nanti.

Mika, mamah sayang Mika. Peluk ciyum anak sholihah, cerdas, pinter, sehat 😍






Saturday, 11 August 2018

Menjadi Orang Tua Pintar Dan Kekinian Untuk Anak

Menjadi Orang Tua Pintar Dan Kekinian Untuk Anak
Dokumen pribadi, lokasi taman barat Monas

Menjadi orang tua adalah anugerah yang paling indah sekaligus ujian yang berat. Di dalamnya ada saja peristiwa yang melibatkan anak dengan pertumbuhannya yang cepat mengikuti zaman. Kita kenal sekarang anak zaman now. Selain sudah terpapar dengan teknologi sejak lahir, generasi ini juga sudah terbiasa mengakses informasi via internet hingga kepiawaian menggunakan tombol touchscreen untuk mengakses program Android yang banyak tersedia secara bebas.

Kemajuan teknologi yang pesat ini pun ke depannya akan mempengaruhi mereka, mulai dari gaya belajar, materi yang dipelajari di sekolah, sampai dengan pergaulan mereka sehari-hari. Ruang dan waktu tidak lagi menjadi batasan, jarak semakin tidak berarti,pergaulan tidak lagi ditentukan dari faktor lokasi.

Tidak heran, dari semua yang mereka dapatkan membuat generasi sekarang ini menjadi lebih cerdas dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Makadari itu, mengimbangi anak dengan ikut menjadi pintar itu sangat penting. Menjadi orangtua yang mau belajar. Percaya, generasi zaman old sudah sangat jauh berbeda dengan zaman now perkembangannya. Belajar terus sepanjang hayat, mengikuti perkembangan zaman pada saat itu sesuai kebutuhan, tidak ketinggalan zaman dan tetap dijalur yang tidak meninggalkan agama.

Menjadi orangtua dari generasi paling pintar ini bukan berarti hal yang mudah. Tidak dapat dipungkiri, semua teknologi yang mereka dapatkan tersebut juga dapat berdampak buruk. Kemudahan mengakses informasi dengan jangkauan luas juga membuka peluang terhadap hal-hal yang tidak baik. Baiknya orang tua tidak memberikan apa yang anak pinta, terlalu dimanjakan dengan segala fasilitas, membiarkan anak bermain gadget dan menonton televisi terlalu lama, mengajarkan hidup mandiri dan bermain di luar atau berolahraga.

Dengan bermain di luar, anak akan bersosialisasi dengan temannya dan meninggalkan gadget. Selain itu, anak akan sehat dengan gerak aktifnya gerak badan. Melatih komunikasi secara verbal dan belajar berempati, simpati dan berbagi. Mengenal dunia luar secara nyata adalah proses belajar yang alami dan bisa bersentuhan langsung. Tidak seperti yang ada di layar gadget, secara virtual.


Namun, bukan berarti mengurung mereka dari teknologi menjadi jalan keluar. Karena teknologi itu jugalah yang membuat mereka tidak tertinggal. Lantas peran yang harus dilakukan orangtua disini adalah mendidik mereka untuk bisa memanfaatkan berbagai teknologi yang ada dengan benar. Orangtua juga harus memberikan bekal sejak dini kepada generasi ini untuk menghadapi tantangan di masa depan. Terpenting membekali anak dengan pondasi ilmu agama yang kuat.

Beberapa cara mendidik anak kekinian yakni

Menjadi contoh yang untuk anak. Seperti pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ini menyimpulkan hal yang berkaitan dengan anak tidak jauh berbeda dengan kebiasaan orang tuanya. Memberi teladan yang baik. Bukan banyak bicara sedikit bekerja, namun banyak memberi contoh dan sedikit bicara. Memberi contoh adalah pelajaran secara alami dan membentuk kebiasaan baik bersama.

Saat sedang bersama anak, hadirlah untuk mereka. Buatlah hubungan yang nyata dengan anak-anak, menikmati waktu bersama dan mendengarkan ceritanya. Momen sederhana yang akan terus terekam sepanjang hidupnya.  Mengajaknya bermain, membacakan cerita, masak, olahraga bareng, atau ngobrol.

Jangan terlalu menyibukkan anak. Banyak orangtua yang mengikutkan anak-anaknya dalam berbagai aktivitas di luar sekolah. Walau kegiatan itu bisa memperkaya pengetahuan dan pengalaman anak, tetapi memberi waktu luang di rumah juga penting. Bagi anak, waktu luang itu bisa berarti waktu untuk rileks dan mengistirahatkan diri.

Mendengarkan anak merupakan salah satu cara untuk memahami mereka dan mengetahui apa yang mereka butuhkan. Anak akan mendapatkan kenyataan yang selama ini belum pernah diketahui tentang si kecil. Kuncinya adalah berhenti melakukan aktivitas lain dan dengarkan apa yang disampaikan anak. Beri tanggapan yang tidak membuat anak merasa malu karena sudah bercerita. Jika anak merasa orangtunya mau mendengarkannya, ia akan selalu datang kepada Anda saat senang atau sedih. Ini merupakan fondasi yang berharga untuk mendampingi anak melewati setiap tahap kehidupannya.

Berhenti mengejar kesempurnaanTidak membandingkan diri kita dengan orangtua lain adalah setengah dari pertempuran dalam modern parenting. Yang dibutuhkan anak hanyalah "ada" untuk mereka. Kuncinya anak dan orang tua yang bahagia, tanpa mengenal syarat tapi dan ini itu.

Dalam generasi yang lebih beragam secara etnis, orangtua millennial terus belajar mengasah parenting. Belajar parenting sekarang begitu mudah dengan adanya kecangggihan tekhnilogi, melalui buku atau ikut kajian maupun seminar. Intinya bukan hanya sekedar tahu informasi, tapi menerapkan dan berproses hijrah menjadi orang tua yang lebih baik. Yang diperlukan sebuah gaya parenting yang terbentuk dari heterogenitas dan keterbukaan pikiran.

Hampir semua orangtua menginginkan anaknya untuk menjadi anak yang sholeh. Anak yang penurut dan berprestasi. Ini semua tidak instan. Ingat proses yang panjang ditempuh untuk mencapai cita-cita. Seperti dari awal memilih pasangan, mendidik anak sedari dalam kandungan, mengenalkan agama sejak dini, kasih sayang yang penuh dari keluarga besar sehingga anak-anak nyaman di rumah.

#sahabatkeluarga