Monday, 13 November 2017

Wardan Advertising Sablon Syukak-syukak

Sablon Syukak-Syukak

Punya kepentingan yang beraroma cetak-mencetak. Kuy, di sini tempatnya soal undangan, sticker, kartu nama, name tag, banner apalagi soal sablon menyablon. Yuuuhuuu kita ahlinya.Ya, Wardan Advertising, usaha percetakan yang dikelola oleh suami saya sendiri, Andi Hermanto 085647847089. Tempatnya di Proyek Pasar Senen Blok III lantai 2 NO. AL.01 AKS Jakpus

 
Bisa dihubungi via whatsapp nomor m3



Ngomong-ngomong soal kualitas, dijamin tidak mengecewakan. Hasil rapi, sesuai pesanan dan harga miring. Alat yang digunakan untuk menyablon sendiri cat, screen, monel, meja dan tentu ada gambar sesuai pesanan. Sedangkan untuk media untuk disablon tidak hanya kaos, biasanya berupa payung, gelas, jam, korek, gantungan tali, suvenir, wadah untuk merk tertentu dll





Asal tahu sobat, usaha percetakan ini sudah berlangsung beberapa tahun silam, dimulai menjadi karyawan kemudian berdikari. Perlahan mencari pelanggan sendiri hingga sedikit demi sedikit ada pelanggan yang menetap. Alhamdulillah bisa mencukupi keluarga dengan satu anak. Tak apa sekarang masih ngontrak dengan sepetak kamar di ibu kota. Mudah-mudahan selanjutnya dari rizki usaha ini bisa menabung untuk membangun rumah. Aamiin 😊

Eh, biar tahu kelebihan dan kekurangan tentang sablon manual dan mesin ceki ceki dibawah ini. Biar gamblang, secara Wardan Advertising masih pakek yang manual.

SABLON MANUAL
Kelebihan :

   1. Warna sablonan tidak cepat pudar, tergantung tinta yang digunakan
   2. Bisa menggunakan teknik timbul, busa, discharge, foil dll
   3. Untuk pemesanan massal, biaya sablon lebih murah

Kekurangan :

   1. Kurang praktis
   2. Proses pengerjaan yang lebih lama karena ada proses pembuatan film afdruk, penyablonan,          penjemuran, dsb.
   3. Tidak bisa mengerjakan kaos dalam jumlah satuan, harus ada minimal order karena biaya              sablon untuk satuan relatif besar.


SABLON DIGITAL
Kelebihan :

   1. Praktis
   2. Proses pengerjaan bisa lebih cepat, karena menggunakan media kertas transfer (transfer              paper).
   3. Lebih cepat kering setelah proses "pengepressan" dengan mesin press digital.
   4. Bisa membuat kaos satuan tanpa batas pemesanan.

Kekurangan :
   1. Gambar/foto tidak tahan lama (cepat pudar), karena bergantung pada kualitas kertas transfer        dan tinta untuk mencetak foto di kertas transfer.
   2. Harga bisa lebih mahal, karena mahalnya kertas transfer dan investasi pada mesin press              serta printernya.
   3. Kaos yang digunakan tidak bisa variatif, hanya beberapa jenis kaos yang cocok digunakan            untuk sablon digital ini seperti katun combed.
   4. Luas / areal sablon digital tidak bisa lebih besar dari luas kertas transfer yang umumnya
       berukuran A4 s/d A3.

Semoga sobat makin paham, kenapa harus ke Wardan advertising πŸ˜‰
Mampir yuk, kali ajah jadi pelanggan
Eh, yang single mudah-mudahan cepet dapet jodoh yak, terus cetak undangan disini plus suvenirnya lho πŸ˜€πŸ˜ƒ

Berikut contoh blangko undangan, sebenarnya masih banyak bisa datang ke toko atau mau hasil design sendiri jugak boleh
😊







Bisa dilihat hasil sablon, inilah dia dengan berbagai media









Saturday, 4 November 2017

Semua Tentang Kita, Suamiku

Suamiku, kamu satu-satunya alasan

Sampai saat ini kesampaian menjadi pengusaha belum tercapai. Tapi yang sudah tercapai adalah menjadi istri pengusaha. Meniru mental pengusaha memang tidak mudah. Menawari jasa "Ada yang bisa dibantu, pak, bu, mas, mba" hampir semua orang lewat depan melewati toko. Bagi saya yang tidak terbiasa, honestly ada sedikit malu. Sabar, ya itu wajib. Di awal pernikahan, usai toko tutup lebih dari 2 minggu dan baru setahun merintis usaha itu menguras perjuangan. Merintis dari nol dan mencari-cari  pelanggan, terkadang ada order, terkadang  hanya mematung di toko. Kembang kempis napas dompet kerap terjadi. Bukan tidak ada, ada namun sedikit. Ala kulli haal rizki yang Allah beri cukup. Dan saat mendampinginya, saya memilih lebih banyak membisu melihat suami yang tampak tenang. Menjaga perasaanya sudah tentu. "Makasih ya by, sudah mengajarkan sabar tanpa bicara" saya menitikkan air mata.

Seiring berjalannya waktu, Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya. Perut yang kian membuncit, order-order datang. Suamiku lebih sering mengelus skreen dan mengoles cat warna ke media sablon. Entah itu kaos, tas, payung, pita, gelas atau pun media sesuai pesanan. Ilmu menyablon yang didapat setelah bertahun-tahun menjadi karyawan dan diterapkan mandiri. Dari gaji sehari hanya sepuluh ribu, hingga sekarang bisa menggaji karyawan. Walaupun disekeliling toko banyak berprofesi sama, yakin Allah telah membagi rizki yang cukup. "Tidak perlu iri, kalau pun mereka lebih banyak order karena mereka lebih banyak kebutuhan" ujar suami menenangkan.

Bergandengan tangan denganmu kini sudah tak sesering dulu. Aku sibuk di rumah mengurus anak dan tidak jauh dari dapur, sumur dan kasur. Masih belum lepas dalam ingatanku, sebab rasanya baru kemarin. Acap kali berangkat dan pulang dari toko, disepanjang jalan raya kau menggenggam erat tanganku dan sangat erat saat menyeberang jalan. Karakterku yang agak susah untuk memperhatikan riuh jalan raya, hehe sedikit meleng memang. Sering kali bibirmu terlihat kesal saat kepala ini tanpa menoleh kanan kiri saat menyeberang jalan dan langsung saja menerobos kendaraan yang berlalu lalang 😬 Kamu tahu, terkadang jika ada orang yang kupercayai, pasrah saja hidup merasa nyaman, sebab ada yang melindungi.

Itu hanya kisah kecil, yang membuat senyum-senyum kecil. Ada juga kisah yang menelan getir saat perut makin membuncit. Aku lihat kesabaranmu meningkat, ketika order yang sudah jadi dipesan ternyata tidak sesuai contoh yang ada. Padahal modal dari pelanggan sudah untuk belanja persiapan mudik. Dua juta melayang tak tergantikan oleh sipembuat pesanan yang tak sesuai. Uang yang dinilai tak sedikit, saat persiapan kelahiran harus dicicil dari sekarang, waktu itu. Bukan sekali itu saja, pelanggan seakan mengintimidasi, menagih hutang atas modal yang terpakai itu.  Tuhan, aku diam berpura-pura tidak tahu dan sebisa mungkin tidak menanyai jika kondisi parasmu tidak berbinar. Berbarengan itu pula gedung pertokoan Senen blok sebelah ludes dimakan jago api. Dua minggu di rumah menanti kabar listrik yang masih padam akibat kebakaran. Rizki memang sudah ada yang mengatur, kembalinya ke ranah rantau yakin akan janji Allah, yakni akan menambah rizki bagi yang menikah dan menyebar rizki bagi yang sholat.

Ohya, berbicara soal vespa, tentu membuatmu girang. Tapi, sedikit trauma denganku. Ada rengek manja saat akan menaiki vespa biru telur asin kepunyaanmu itu. Kau, marah. Jujur, aku takut, bahkan takut sekali. Di usia kandungan yang sudah 7 bulan aku terjatuh dalam kondisi telungkup di jalan berbatu yang menurun. Aku membonceng miring, sementara bajuku licin dan jok yang memantul-mantul. Bruk!!! Betapa paniknya kita waktu itu, tidak begitu nyeri hanya sedikit pegal dikaki.  Janinku tak bergerak hampir satu jam, bahkan saat dukun bayi memijat perut yang buncit, masih saja janinku tak bergerak. Usai, dari dukun bayi, kita menanti bidan yang tidak berada ditempat. Dug! Tendangan super dari calon bayi yang membuat aku lumer menitikkan air mata. Yah, dan sampai sekarang aku tidak takut lagi berkendara dengan motor, walaupun nyata harus membonceng ngangkang hehe. Dan jika jok vespamu sudah ganti, aku mau kita keliling dengan vespa lagi, seperti waktu itu membelah Jakarta dengan vespa kesayanganmu. Tentu bersama Qismika, anak kita.

Mengingat proses bersalin yang mengharu biru. Ini tak lepas dari kehadiranmu yang melekat disampingku. Ah, sangat romantis. Jika saja suami masih menjadi karyawan, tidak bisa menungguiku lama di rumah pasca bersalin. Sejak dinyatakan positif, saya tidak diperkenankan  bekerja, meski pun hanya duduk manis di toko. Selain itu, beruntung bisa libur kapan pun. Berangkat kerja siang pun tanpa aturan yang mengikat.

Lelakiku, ada banyak kisah tentang kita. Termasuk saat kita mengurai rindu setelah sekian bulan terpisah jarak dan waktu. Bisa saja aku menyusulmu dengan nekad, tapi itu tidak aku lakukan. Tugasku menjaga, merawat anak kita. Membendung soal rasa rindu yang hanya terbayar dengan pertemuan. Dan kamu tahu, disetiap bait-bait doa, aku memanjatkan agar kita bisa hidup seatap, kelancaran rizki yang halal lagi berkah dan nanti bisa membangun rumah impian kita. Hidup bersama ada aku, kamu, Mika dan adik-adiknya Mika 😊

Pernah aku merasa benar-benar membutuhkanmu. Belum 24 jam kamu berangkat mencari nafkah, di sore yang ranum Mika yang baru berusia 3 bulan, dengan tubuh yang tengkureb hingga tertidur pulas, muka polosnya memelas memanggil nama "bapa". Nama yang disebut dari  mulut bayi mungil kita. Haru bercampur bahagia saat Mika bisa berucap dengan jelas, namun yang disebut tidak ada disampingnya.

Terimakasih cinta, hanya kepercayaanmu yang membawaku ikut ke ranah ibu kota. Bisa saja aku hidup di kampung halaman dengan fasilitas serba ada di rumah emak, dengan lingkumgan dan sosial yang bagus. Tapi tidak, lebih baik kita bersama, meski sepetak kamar di lantai 3 dengan fasilitas yang terbatas. Secangkir kopi disuguhkan dengan air dispenser kusajikan jika dipinta, bukan dari air panas yang bergolak diatas kompor. Ya, kopi hitam dan rokok teman setiamu. Minuman yang tak bisa lepas dan jika tak ada seakan ada yang hilang dari hidupmu.  Berkegiatan menantimu pulang kerja, kadang sore, sering lembur hingga dini hari. Dan, aku membuka mata yang masih sepet melihat keberadaanmu. Hanya karenamu aku bertahan, hanya denganmu satu-satunya alasan aku hidup di ibu kota. Demi apa? Tidak dipungkiri kebutuhan kasih sayang lahir batin kita yang saling terpenuhi untuk kita dan buah hati.

Tulisan ini sengaja aku tulis menjelang usiamu genap 30 tahun. Seorang suami dan ayah yang sedang bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Maju tidaknya seorang pengusaha tergantung kerja keras pengusaha sendiri, aku menjadi penyuplai doa-doa terbaik dari balik pintu rumah. Menjadi suami sholeh yak, yang sholat tanpa mengulur-ulur waktu. Begitu pula tidur dan makan pun tidak perlu di ulur-ulur. Kesehatanmu penting, ketika raga ini lelah kepada siapa aku bersandar selain pundakmu. Bagaimana akan kuat kalau kau tak sehat. Jaga kesehatan, aku, Mika dan adiknya kelak ingin bersama menua πŸ˜₯

Kamu tahu, diblog ini ternyata tulisan yang menceritakan sosok lelaki itu hanya kamu. Mungkin sudah tersurat kalau jalan takdir kita sudah berjodoh 😍 Dan dulu, didalam hati yang tersirat tipu pura-pura tidak sukak lebih kuat πŸ˜†

I love you
Aku sayang kamu
Ida sayang Andi
We love our family 😍😍

#happybirtday #wishyouallthebest #mylovelyhusband
#kulluaamwaantumbikhoir #barokalloh
#mestakung #weloveeachother
#pasutri #andyida #lovelovelove

Saat hamil 7 bulan

Kopi dan vespa yang tidak pernah lepas dari hidupmu

Ngalay lagi LDR 

Seminggu sebelum bersalin, semua bengkak BB naik 18 kg

Vespa kesayangan

Bertiga, aku, kau dan Mika

Absen dulu sebelum futsal

Balapan bobo, anak dan papah πŸ˜€

Hasil cinta kita yang pertama 😍

Thursday, 26 October 2017

Merawat Usia Senja

Merawat Usia Senja

Emak dan bapa adalah cerminanku di masa depan. Bagaimana memperlakukan buah hati akan berbuah di masa tua kelak. Tidak sedikit orangtua yang dimasa senja sebatang kara, berteman sunyi dan hampa. Dan menjadi saksi teman hidup diusianya yang renta itu luar biasa. Raganya sehat, tapi kekuatannya melemah seiring dimakan usia. Tangan kanan bapa tak sanggup berlama-lama diajak bekerja, termasuk menimang cucu. Kakinya tak lincah lagi naik pohon kelapa. Begitu pula emak, batuk menggerogoti tubuhnya menjadi kian ceking. Belum yang lain, yang tak bisa disebutkan satu persatu. Keriput kulitnya itu pasti, namun semangat ibadah tak mengenal keriput. Yang ada terus mengencangkan amalan sholeh, "nggo sangu mati" ujar beliau.

Terpisah jarak dengan orang dikasihi,  misalkan anak dengan orangtua atau suami yang terpisah dengan istri karena kondisi tertentu. Hidup berumah tangga yang masih hidup dengan orang tua atau mertua, terkadang kabarnya lebih semerbak wangi dibanding yang setiap hari ada. Padahal orang terdekatlah yang paling ada untuk dimintai bantuan dan yang membantu. Sayangnya, kebanyakan manusia lebih sering mengingat keburukan yang pernah diperbuat dibanding kebaikannya. Istilah jawa mengatakan 'cedhak mambu tai, adoh mambu melati'. Ya sebagai orang tua banyak yang ingin tidak menyusahkan anak. Namun kebalikan, disusahkan anak adalah suatu kesenangan. Pada kenyataannya merawat di usia senja itu ujian.

Semakian senja tingkah orang tua semakin unik. Kadang kembali bertingkah bocah dengan tubuh yang tak wangi bak bayi lagi. Latar belakang masalalu mempengaruhi tingkah manula sekarang.  Jika diberi umur panjang, mungkin aku pun demikian. Yang dipinta menjadi manula mandiri dan tidak menyusahkan anak, hingga kembali ke pangkuanNya pun diberi kemudahan.  Ya, aku masih mempunyai pekerjaan rumah yang sangat panjang, buah hatiku Mika, bekal masa depanku.

Merumuskan masa tua tidak semua jalan yang ditempuh antara satu dengan yang lain sama. Ada semboyan nyeleneh 'muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga' Hugh! Ngarep hampir sebagian orang memang kedengarannya enak. Pada nyatanya, merangkak diusia senja itu sama seperti mesin tua, yang perlu banyak perbaikan, istirahat. Kadang masih bisa diberdayakan, kadang tidak. Atau bisa jadi menjadi barang antik yang sebagai 'pajangan'. Meski tidak diharapkan tapi ketakutan menjadi kembang kasur kerap terjadi. Dan pada akhirnya, yang diminta hanya kematian dengan khusnul khotimah itu menjadi bagian penting.

Walaupun bukan patokan sebuah kesuksesan, pada umumnya orang kampung menggambarkan kesuksesan merantau dilihat dari rumah yang direhab dan berlantai keramik. Seperti kemarin, di pagi yang sendu sengaja berkeliling kampung. Aku sebut berziarah menjelajahi tempat-tempat yang dulu pernah singgahi.

Dari percakapan dengan ibu tua itu hampir sama seperti ibu yang lain. Kursi tua dan lemari kaca kuno masih dengan tatanan yang dulu. Lantai semen berdebu menjadi alas menapak tiap hari. "Di masa tua, meskipun beranak banyak, tetap saja nanti mereka memilih hidup dijalannya dan meninggalkan orangtua yang sudah melahirkan dan merawatnya hingga besar". Di sinilah aku banyak merenung, kepada pasangan lah akan merajut masa tua dengan nyaman. Tidak merasa terbebani meski dengan anak kandung sendiri, walau nyatanya tidak demikian. Kemudian., bapa tua juga menuturkan "Kaki ketiga berupa tongkat, "bentong"  orang kami menyebutnya lebih setia dibanding cucu atau anak. Anak atau cucu hanya kapan-kapan jika ada keinginan, sementara tongkat bisa digunakan kapanpun" bapa tua menimpali. Mereka menjalani masa tua dengan kegiatan pelan, semacam kesibukan iseng. Hanya berdua, sepasang suami istri, teman hidup, teman berbagi. Ya, anak yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkan kemudian pergi. Sadar, terlahir sendiri dan kelak pulang juga sendiri. Pula anak adalah harta titipan. Seperti kematian siap atau tidak itu pasti terjadi.

Wujud berbakti seorang anak terhadap orangtua tidak semua sama. Mungkin untuk urusan uluran materi kurang, tapi hadiah yang melambung ke langit menerus untuk keduanya.  Semestinya bekal yang kekal bukan hanya urusan materi, melainkan soal akherat yang akan dipertanggung jawabkan kelak. Dan bentuk kebanggaan dan sukses yang sesungguhnya ketika berhasil mendidiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Emak bapa menjadi panutan sebagai ortu

Kumpul lebaran bersama keluarga besar 

Emak, diusia senja badannya tidak bisa diam

Bapa, terus aktif diorganisasi dan menjadi anggota aktif tertua

Wednesday, 25 October 2017

Tumbuh Kembang Mika Anakku

Mika Anakku,

Belum genap usiamu 100 hari, namun hari-hari bersamamu mama merasa menjadi wanita sempurna. Mengandungmu, mengeluarkanmu dari jalan lahir, menyusuimu dan merawatmu seutuhnya 24 jam penuh.

Mama tidak sepenuhnya tidur saat kau terjaga. Kekuatan cinta dan kasih sayang Allah lah yang membawa raga ini kuat. Dan kamu tahu, nak? Justru disaat kau menjelang terlelap dan saat lelap, sejuta ekspresi milyaran kejutan. Meluluhkan rasa capek dan mengurai kesedihan. Senyummu mampu menghancurkan rasa letih, lunglai raga ini, yang belum terbiasa dengan perubahan-perubahan yang pesat.

Bonus ee tengah malam, sering terjadi. Diemban sambil menyusui dan makan pun tak jarang lagi. Belum lagi bonus dipipisi padahal baju baru ganti, haha itu sudah biasa. Pundak mama setiap hari terlatih seperti belajar mengangkat besi. Bobotmu kian hari kian bertambah.

Dan heibatnya kamu nak, sosok yang pantang menyerah. Ketika teman seusiamu belum bisa tengkureb, kamu sudah perlahan mencoba dan beberapa kali berhasil.

Akan ada banyak kejutan-kejutan lain yang luar biasa. Dan mama menanti dan tidak berhenti berdoa untuk kesehatanmu, nak. Begitu juga untuk papah.

Menjadi anak yang sholehah adalah harapan terpenting buat orang tua. Kelak suaramu merdu seperti papah, dan bakat menulismu seperti mamah serta rupamu yang ayu perpaduan mamah papah.

*****

Mika anakku,

Sesekali bola mata indahmu melirik saat tengah terjaga. Kau jadi detektor mungil keberadaan sang mamah. Mamah tahu, tidak sepenuhnya menjaga saat terlelap, terlebih saat bobo pagi dan siang. Mamah harus pandai mencuri-curi waktu untuk berbenah rumah. Saat mamah tak disampingmu, kamu bangun dengan tangisan. Sementara jika mamah ada disampingmu, kamu melirik manja dan tertidur kembali. Namun terkadang terbelalak dengan mata berbinar dipoles senyum melebar. Masya Allah, mika lucu dan menggemaskan.

Diusiamu yang melewati tri semester awal sudah menghujani warna hidup mamah. Tubuhmu kian gempal, senyum dan gelak tawamu makin renyah, lagi menyusumu kian kuat. Dan baju-bajumu cepat sekali harus beli baru. Ah, itu tugas papah, nak

Cinta Allah dan semesta lah yang membawa mamah kuat merawatmu. Ditengah mamah terserang radang penyumbatan kelenjar ASI, Mika tetap sehat , bobot tubuhmu makin padat.  Penawar itu saat kau memasang sebaris senyum dengan mata berbinar saat terbangun. Itu lebih dari obat, nak  πŸ˜Dan mamah pun selaku kuat untuk menjadi pelindungmu lebih dari 24 jam penuh.

Mika sayang, sekarang keberadaanmu bukan hanya penawar mamah papah, tapi ada mbah uti dan mbah kakung disampingmu tiap hari. Bahkan kemarin sore celoteh lucu itu memanggil "mbah" dengan lantang. Sementara mamah belum disebut dari bibir tipismu.
Kamu tahu nak, diam-diam beliau menyebutmu dalam doa.

Begitupun mamah dan papah. Sehat selalu Mika anakku, mbah uti dan mbah kakung, semoga kasih sayang Allah selalu melingkari keluarga kami.

*********

Terimakasih "Pilot Projec"ku

Gelak tawa renyah kini sudah terdengar menghiasi ruang-ruang rumah. Ada banyak kegembiraan yang mengisi jiwa-jiwa yang sepi. Keajaiban demi keajaiban terus bergulir seiring berjalanya waktu. Dari proses ada manusia di dalam manusia, hingga menyaksikan pertumbuhan bocah mungil.

Setelah seperempat abad lamanya tangis tawa bayi dari anak bungsu emak, kini cucu ke-17 hadir diantara mereka. Kehadiranya menghempas sepi, mengukir canda. Ada keisengan baru mengisi hari-hari. Ada yang dinanti, ditimang, bikin geregetan, dirindukan namun didepan mata.

Serba pertama, diantaranya memandikan bayi yang tadinya tenang, sekarang sudah menendang-nendang keras kecipak-kecipuk membuat lantai becek. Bisa jadi tendanganya seperti dalam kandungan  πŸ˜€Hingga lebih dari sebulan, mamah tak berani memotong kuku lembutnya. Ketakutan kerap  menghantui pikiran. Sangat hati-hati, itu yang dilakukan, meski pernah tergores kulit arinya oleh pemotong kuku. Dan itu harus dilakukan demi menjaga kebersihan.  Termasuk mengenakan baju yang sedikit menyulitkan, ingin hati mendandani gadis imut. Perlahan baju perempuanku dikenakan cantik.

Keajaiban itu bernama Mika, anak pertamaku. Aku menyebutnya "pilot projec", dimana sebagai orangtua baru banyak belajar darinya. 40 hari pertama yang menguras emosi, mental, jiwa dan raga. Hampir lebih dari 100 hari begadang, dimulai dari pipis, lapar atau pun hanya menatap nanar. Ada titipan Allah yang harus dirawat. Ada panik saat napasnya yang sering tersumbat, ada resah saat jadwal imunisasi tiba yang membuat demam. Ah, anak pertama :-* Dan dari saran-saran ibu pengalaman ditampung. Merepotkan yang membawa nikmat. Lebih dari syukur bahwa Allah telah menunjukan kekuasaanya dengan ciptaan yang sesempurna itu.

Kelak, Mika menjadi bahan pembanding untuk adik-adiknya. Menjadi contoh pengalaman berbagi. Menjadi anak tertua dalam rumah, anak pertama yang membawa kebahagiaan melangit-langit. Dan selamat, hampir perlengkapan bayi semua baru. Lalu, adikmu mengenakan baju mu yang bekas. Mika, sehat selalu, nak. Temani mamah, papah hingga tua nanti 😍😍

******

Mika Anakku

Kelak, besar nanti pendidikanmu harus lebih tinggi dibanding orangtuamu. Tantangan hidup ke depan jauh lebih gila dibanding hari ini. Tekhnologi semakin gencar dan canggih, nantinya mau tidak mau merambah mendekat dan mengikuti. Hanya kewarasan yang sebenar-benarnya waras dapat menalari.

Bukan hanya masalah tekhnologi, namun kekhawatiran orang tuamu ini adalah tentang menjaga akhlak. Apapun gelarmu nanti, tindak tanduk yang sopan, jiwa yang bersih, lisan yang tidak menyakiti dan langkah kaki yang tidak meleset ke arah dholim itu harus dijaga dan dimiliki.

Mika tahu,
banyak yang tersakiti karena lisan yang tak bertulang. Sedang hati yang rempa membawa perasaan yang tak karuan. Diam yang wajar atau sesekali pergi piknik menghilangkan penat. Jika pun belum ampuh, mungkin ada yang harus diperbaiki, terutama amalan stholat.

Esok, jika mengikuti hobi menaiki gunung atau bermain musik seperti papah tak apa. Mamah tidak mempermasalahkan soal gender dalam hal ini. Kenyamanan dan aturan main wajib diketahui dan diikuti.  Tak sekedar paham kodratnya menjadi wanita, apalagi keinginan hampir setiap muslimah bergelar 'sholihah'. Mmmh, minimal mengamalkan menjadi sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.

Mika Mika Mika 😍😍😍😍😘😘😘😘😘












Usai Jihad Perjuangan Bersalin

Usai Jihad

Pukul 13.47 air mengalir dari jalan lahir tanpa kendali meski sudah berusaha ditahan. Kaget rasanya dan terus mencoba menenangkan diri. Sebab ketidak tahuan, aku mencoba berkonsultasi dengan bidan terdekat via ponsel. Beliau menyarankan untuk mendatanginya agar bisa memantau dan memeriksa keadaan berikutnya, lagi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Ketuban pecah" ujarnya usai fiti. Ini istilah menengok kondisi didalam jalan lahir dengan jemari yang dilapisi antiseptik dan sarung tangan higienis. Awalnya kegiatan ini hanya dilakukan ketika ayam yang hendak bertelur. Jika istilah di lingkungan kami di 'cendol' 😬 Sakit? 😯 ya itu bagian dari sebuah nikmat πŸ˜†.

Pembukaan satu baru seukuran 1 cm, seiring berjalan waktu terus menggeliat yang ada di rahim. Sesekali hanya satu menit angin putih beliung itu hinggap diperut bawah. Dan seakan ada bara api dipunggung bawah. Semakin larut rasa yang sama semakin rapat. Mencengkram, dahsyat, nikmat πŸ˜‚ tak boleh sedetikpun suamiku berhenti mengelus-elus punggungku. Sesekali matanya terpejam menahan kantuk yang berat, aku membangunkannya dengan sedikit rengekan. Maklum saja, malam hampir menanggalkan gelapnya. Murottal tiada henti memanjatkan ayat-ayat suci selama kontraksi berlangsung. Termasuk bibir ini yang terus beristighfar dan berdzikir semampu jiwa raga.

Pukul 03.00 WIB dini hari, dengan mempertimbangkan keadaan yang tidak memungkinkan hanya ditolong tenaga bidan, aku dilarikan ke RS. Allam Medika. Sudah berbagai sugesti bidan 3 anak itu memberi masukan. Namun usahanya belum maksimal aku wujudnya. Aku kurang power untuk mengejan, sementara baby kontraksi bayi tidak begitu panjang dan berhenti.  Keputusan vacum dengan gerak cepat ditanda tangani dan dikerjakan. Ya, dengan segala konsekwensinya,  billah wa lillah perjuangan menjadi ibu.

Proses persalinan yang menguras tenaga dan menguras rasa penasaran sesuai obrolan orang-orang. Beda persalinan beda cerita dengan beda kronologi yang pada akhirnya berbuntut kebahagiaan usai kepala itu keluar dari jalan lahir. Betapa bahagianya saat pukul 04.15 bayi itu dapat melihat dunia, aku dihujani ciuman dikening oleh suami. Sementara tangan kiriku terus menggenggam, meremas tangannya hingga usai persalinan berlangsung. Beruntunganya aku didampingi suami siaga dari awal persalinan hingga selesai. Saat nikmat itu menghamtam beberapa kali aku menjambak rambut ombaknya, meremas lengannya yang hitam, memarahinya. Rasanya ingin menangis saja, namun tangis itu hanya sesaat. Tak ingin mengurangi tenaga gegara reaksi tangis yang memang lumrah ketika menahan lara. Tegas, suamiku melarang menangis πŸ˜„

Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Sambutan bahagia menyeringai dari sekitar bahkan alam pun ikut menyambut kebahagiaan itu. Bayi perempuan dengan berat 3,1 kg dan panjang 50 cm melihat dunia dengan jerit tangis yang kencang. Badannya berlumur darah langsung diringkus suster untuk dibersihi. Dan di pagi yang belum sepenuhnya terang, emak menengokku yang sedang terkulai lemah di atas bangsal persalinan yang masih bersimbah darah. Aku mengusap wajah keriput emak, matanya berkaca-kaca. Yang ada dibenakku adalah beliau adalah wanita tua yang heibat. Melahirkan 8 anak tanpa tersentuh tenaga medis dan hanya 1 anak yang menggunakan jasa tenaga medis. Aku menjadi anak pertama pasca melahir di rumah emak. Hampir semua cucu emak lahir diranah rantau bersama suami. Kebetulan, aku menikah dengan suami yang hanya berbeda RT saja. Begitu juga mama mertua yang single parent sejak hampir 3 tahun lalu, raga kuatnya tak henti membantu mengurus bayi cantik kami usai seharian berdagang. Bahkan hingga saat ini rela matanya tak terpejam saat rengek tangis bayi pecah.

Rupa bayiku perpaduan dari kami. Hidung besarnya diwarisi oleh papahnya, sedang kulit bersihnya dariku. Sementara lesung pipi dikedua sisi saat mengurai senyum dari kami berdua 😘😘 Ah, perpaduan yang cantik. Ohya, lentik jemarinya yang runcing diwarisi oleh mbah dari mama mertua. Lucu dan sangat menggemaskan, bukan 😘😘 Kalau pun ada kelebihan itu bagian dari bonus dan kekurangan itu pelajaran untuk memperbaiki seiring tumbuh kembang buah hati, ya wajar ☺ tidak ada kesempurnaan, yang sempurna milik Allah SWT.

Jihad itu baru awal perjuangan. Terimakasih Nak, sudah sama-sama memperjuangkan untuk hidup. Kamu adalah satu dari banyak proses yang berhasil tembus.

Hamil jalan 8 bulan

Naik 18 kg dari 40 kg BB asal

Tampak dari samping, pakai T shirt suami kekecilan πŸ˜€


Beberapa menit pasca keluar dari jalan lahir

Qismika Misha Shafana, namanya pemberian nama papah 

Mika masih dalam box karena efek sisa fakum belum hilang

Sehari pasca bersalin, perut masih sedikit besarπŸ˜€

Mika usia hitungan hari, 4 hari







Nano-nano Jakarta

Nano-nano Jakarta

Yuuhuuu, welcom blogger amatir.
Ini sudah lebih dari 12 bulan gak ngutak-ngatik blog. Sebenarnya banyak yang ingin dituangkan. Berhubung kesibukan menjadi ibu rumah tangga yang baru melahirkan 7 bulan yang lalu. Jakarta, kini aku kembali. Mungkin ini tidak lama. Awalnya memang keegoisanku untuk ikut satu atap dengan suami. Sudah berulang, emak, mama juga suami berkata, "Jakarta panas" tapi tidak menyurutkan niatku untuk hidup bersama. Ini pelajaran berharga bagi pemula yang mengarungi bahtera rumah tangga. Hmm, cintav ini bagian dari perjalanan kita. Suatu saat nanti kita pulang, pulang ke kampung dan membangun rumah sederhana penuh berkah. Dan, tentu kita hidup dalam satu atap, aku, suamiku, Qismika dan adik-adiknya kelak.

Sampai mendekati sebulan,  tak seperti sembilan bulan yang lalu.  Kutinggalkan Jakarta saat hamil besar dan pasca persalinan.  Ada yang berbeda dari sebelumnya.  Dangdut gerobak dorong yang biasanya wara-wiri dengan gonta-ganti personil. Tiga empat gerobak bisa melintasi jalan kampung Rawa Sawah juga jalan Paris-Baladewa, kini sepi. Jika malam Minggu tiba,  dangdut dorong bisa sampai larut malam.

Menyoal suhu panas di Jakarta,  sangat aku rasakan sekarang.  Bisa saja google mengukur suhu hari ini 30 derajat,  tapi rasanya bisa 34 derajat.  Suer terkewer-kewer, dulu waktu perubahan hormonal sebab aku hamil, mudah sekali berkeringat rasa gerah cepat sekali hinggap. Tetapi,  sekarang bahkan kondisi tidak hamil pun panasnya melibihi waktu hamil.  Istilah jawa menyebutkan, sumuk,  ngelekeb. Seperti akan hujan tapi tak hujan 😬 Dan hampir-hampir anak yang baru merasakan panasnya Jakarta terkena biang keringat. Adanya ruam memerah di kepala,  leher,  dada,  punggung,  seperti yang dialami bayiku (jalan 7bulan), Tetangga kontrakan anak 3 tahun dll.

Mungkin panas yang menyengat itu yang membuat dangdut dorong enggan menarik umpan tutun ke jalan.  Ini hanya perkiraanku saja.  Dengan mendorong gerobag berisi salon besar dan organ tentu memerlukan energi yang banyak.  Jarak tempuh yang berkilo dengan terik matahari yang menyengat disertai kabut polusi,  rasanya menambah berat melangkah.

Entah itu kabar baik atau tidak sebenarnya. Semoga para seniman dangdut itu kini sudah mempunyai pekerjaan yang lebih baik.  Kabar baiknya,  iringan ondel-ondel beserta musik khas betawi masih eksis menyusuri jalan setiap hari. Ini pengenalan budaya sekaligus hiburan murah untuk warga.  Pagi dan sore ada saja yang melintas.  Dengan ember bekas wadah cat, salah seorang dari grup ondel-ondel menyusuri warga yang menonton, berharap ada uang receh yang dibagi.

Kemudian, kaget menghampiriku saat melihat tembok tebal penghalang di jembatan. Ini memang tidak mirip tembok Berlin atau tembok yang ada di Korsel.  Tembok ini ada 2, saling  menutup jalan untuk kedua kampung. Keduanya tepat berdiri kokoh diujung kanan kiri jembatan.  Menurut penuturan seorang warga, untuk menghadang sekaligus mencegah terjadinya tawuran antar pemuda.  Dan benar saja,  sejak kembali ke ibu kota biasanya seminggu bisa 2 kali tawuran warga, kini sudah menjauh. Dimulai dengan mercon yang ditembak ke langit,  kedua kubu saling lempar. Nah,  disitulah emosi darah muda tertumpahkan.  Mhhh.kalau pun ada cekcok perorangan atau sekedar ocehan ibu-ibu yang menanggapi orang gila 😜

Panas ya panas,  cukup panas secara fisik saja yang hinggap. Tak sampai lah untuk menyelami.  Cukup tahu saja mereka menggunakan bahasa betawi yang nyablak dan sering menggunakan istilah kotor.  Cukup diam saja jika melihat ketidak warasan yang ada disekitar.  Toh,  masih ada adzan berkumandang di tiap masjid 5 waktu,  ada pengajian rutin yang diselenggarakan,  ada santunan anak yatim. Sebuah simbol dan tanda masih tetap adem meski kegaduhan didepan mata. Yakin,  bahwa sebenarnya sepanas-panasnya keadaan akan adem tatkala hati selalu berdekatan terus dengan pencipta hati.


Jembatan terhalang tembok dari arah Paris

Jembatan terhalang tembok dari arah Kampung Rawa

Suasana Jakarta saat terik dari lantai 3 kontrakan sepetak



Thursday, 4 August 2016

Jendela Lantai Tiga

Jendela Lantai Tiga

Sore yang muram membawaku larut dengan perasaan sendiri. Entah ini pengaruh raga ini yang lelah baru tiba dari kampung halaman atau suasana yang mengajakku bergabung. Tangis itu sudah pecah saat menginjak lantai tiga kontrakan yang sangat minimalis. Ada fasilitas kipas angin hitam telanjang yang sangar tanpa pengatur. Sekotak kamar berlangit-langit asbes ukuran 2,5 x 2 meter dengan kamar mandi di luar. Baru setengah purnama aku menapaki dunia yang disebut rumah tangga. Memutuskan menjadi makmum dari imam yang memutuskan tuk hidup seatap 24 jam 7 hari, ini adalah keputusan hebat yang aku pilih menurutku. Ruang kerjaku sangat nyaman dengan gaji yang cukup dan kini aku tanggalkan, termasuk sahabat-sahabatku yang sering bersenang-senang bareng. Sekarang benar-benar yang orang bilang menempuh hidup baru. Seperti dinegeri antah berantah saat berada lingkungan baru.

Semburat senja memancar cerah dari balik rumah-rumah dan gedung tinggi. Tak ada halaman untuk berlarian para bocah, yang ada pemandangan dinding-dinding triplek, atap asbes dan gang-gang sempit yang dipenuhi rumah warga beserta kendaraan roda dua. Rasanya harus belajar lebih banyak bersyukur. Tak elok memandang terus ke bawah sementara tak mungkin dikatakan meninggi jika bukan tidak ada pembanding bawah. Tak berarti melemah, memandang ke bawah sering membawa hati yang tenang. Becermin dari yang bawah diri ini lebih baik dari segi sudut mata. Tembokku keras dari semen, bukan dari papan atau seng berkarat. Ada dua jendela pelenyap pengap, ada banyak sirkulasi udara meski ibu kota panas. Kami mengontrak perbulan dengan harga setengah juta, ini tak apa juga dari pada menyicil dengan cara riba.

Dua malam ini menghabiskan satu dua jam di pasar. Malam pertama dikosan tanpa sehelai barang bawaan pun, kecuali tas travel dan rangsel dari kampung halaman. Pasar Jihong, untuk pertama kalinya aku kesana. Pertama yang dituju adalah kasur dan almari. Sepanjang jalan di Pasar Jihong lebih banyak yang jualan baju-baju yang kekinian, baik yang didalam toko atau di emperan, ada barang elektronik disana. Tapi kami belum butuh 😊 Tangan kami tak lepas bergandengan tangan, kami melepas jemari saat di depan eceran kelontong gerabah yang digelar di atas tikar. Ember, gantungan, gelas, sendok, garpu masing-masing 2 biji dan barang kebutuhan yang lain. Sengaja tak membeli mangkuk dan piring, lebih sering makan dibungkus kertas minyak dan dimakan berdua. Itu juga tidak mengurangi kenikmatan makanan yang kami lahap. Suamiku lebih pandai menawar harga, aku lebih memilih diam dan menyodorkan uang jika harga sudah disepakati.

Kasur dan lemari tak kami jumpai di Pasar Jihong Kemayoran. Aku melihatnya seperti pasar Tambak yang ada di Serang. Ketika malam justru pembeli berhamburan memenuhi jalan. Sampai menuju pulang, kami berhenti di tepat toko kasur yang hampir tutup. Meski kekurangan uang dalam dompet, encik penjual itu mau menerima kekurangannya usai menggesek ATM terlebih dahulu. Sambil dibawakan barang hingga sampai dalam kontrakan. Malam pertama tanpa guling, biar kami saling memeluk.

Pasar Johar Baru, menjadi malam kedua yang kami datangi berburu rak, cermin, jam dll. Perdebatan dimulai usai melihat guling antara perlu dan tidak perlu. Kami saling memandang, malu untuk berkata iya.
"Satu atau dua My?"
"Satu boleh gak By?, nanti gantian yah" aku mengurai senyum

                      ***

"Semua kemeja tak ada yang rapi bagian kerah" nada pelan itu seperti sambar petir. Aku menggosok dari kardus yang baru dibongkar lima hari lalu. Dari kontrakan yang lama saat ia masih membujang. Puluhan kemeja itu dianggap tak ada yang rapi.
"Yaudah gosok aja sendiri"
"My, kalau dibilangin ngelawan"
"Tapi tidak begitu pemilihan katanya, yang minoritas jadi mayoritas, jadi kesannya semua salah"
"Tapi memang begitu keadaannya koq"
"Apa sudah dicek satu persatu, bisa jadi ada yang rapi kemeja yang lain"
"Emang gitu koq, dulu hubby bisa menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menyetrika sebuah kemeja. Terutama bagian kerah, lengan dan jahitan kanan kiri. Bagian yang pertama dilihat itu wajah. Dan bagian kerah paling dekat, jika kusut, ya sudahlah semua terlihat tidak rapi"
Bulir mata ini menderas tanpa terbendung lagi. Rasanya ingin membela diri lagi. Berada lingkungan keluarga besar perempuan dan merantau dilingkungan perempuan sangat jarang menyetrika baju lelaki. Baju berkerahku sangat sedikit, lagi pula detail bagian leher hingga dada tertutup uluran hijab. Sehari bersamanya membisu. Kami seperti patung dengan seribu bahasa. Tapi tanggannya masih menggenggam erat sat kami menyebrang jalan raya. Di meja kerja kami asik mencolek layar sentuh, ditemani kepulan asap rokok yang tiada putus. Aku tahu dia marah, aku juga kesal.

Kutarik tumpukan kemeja yang sudah tersusun menggunung itu. Satu demi satu kusertika kembali tanpa bicara. Kali ini aku absen tanpa ikut suami ke toko. Waktu yang tak sebentar menyelesaikan kemeja yang hampir semua kotak-kotak warna gelap itu.
"Hubby berangkat" ku ulurkan tangan dan mencium punggung tangannya
"Maafin Amy, By" kami berpelukan, dikecupnya ubun-ubun kepalaku
Kupandangi kepergiannya dari balik pintu hingga punggungnya sampai menghilang dari edaran pandang. Berlari menuju jendela, hal serupa yang kulakukan. Ku pandangi dari belakang lelakiku berjalan santai sambil membakar putung rokok tanpa sepengetahuannya.

 Menjadi istri yang bertitel sholihah sesuai syar'i, bagiku tidak semudah teori yang sudah kubaca. Diperintah tanpa ah, melayani tanpa keluh kesah. Entah itu berangkat dari rasa cinta atau tidak. Merangkak mengarungi bahtera perlahan menyesuaikan, tak selamany indah terjalin. Justru pertengkaran kecil itu yang membuat rindu, mengikat kuat rasa memiliki. Sedari Taman Kanak-kanak aku mengenalnya. Mengenal seutuhnya setelah mengikrarkan janji suci, tanpa pacaran. Ya, dia terkadang seperti bukan yang aku kenal sebelumnya. Sempat tak direstui sebab masalalunya yang terekam hitam dimata orangtuaku. Dia yang memintaku meninggalkan celana berganti rok atau gamis dan membuang kerudung mungil dan bersalin khimar yang menjulur lebih lebar, kalau bisa menutup pantat πŸ’—


                             *****

"Tumben hari ini sepi, tidak ada gerobag dangdut keliling bertubi-tubi" obrolanku mulai
"Emang biasanya?" Suamiku santai membalas
"Saat kita rebahan usai magrib saja biasanya susah tiga sampai empat potongan lagu dangdut berlalu"
"Mungkin mereka kapok, jarang ada yang mengulurkan tangan, kita aja gak pernah kan?"
"Tapi kita berada dilantai paling atas, apa sopan jika melempar receh dari balik jendela?"
"Maulah, mereka butuh duit buat makan"
"Gak setega itu juga cara memberinya, mereka mendapatkan rizki menginginkan dengan cara terhormat"

Musik berseliweran kencang telah menjadi pemandangan yang lumrah. Semacam hiburan gratis yang silih berganti. Entah berapa kilo meter mereka tempuh untuk menjajakan musik dan suara pas-pasanya. Bunyi gendang yang bertalut-talut dikemas dalam gerobag yang berisi salon, mesin disel dan keyboard elektrik. Ada yang mengedarkan ember bekas cat dari pintu ke pintu sambil membunyikan kecrekan. Mereka terbiasa dengan angkat rangan sebagai pertanda penolakan. Semangat mereka tercermin dari ketidakmenyerahan berjuang untuk menghidupi hidup. Untuk makan, biaya sekolah anak, bayar kontrakan dan membeli bedak lagi gincu πŸ‘„

Kampung Galur, kelurahan Johar Baru yang padat penduduk. Bertetangga dengan Kampung Rawa, kampung terpadat di Asia. Tak jauh dari tetangga, ukuran rumah ideal tak menjadi patokan hidup bahagia. Kamar 3x3 saja ditumpangi satu keluarga lengkap, ayah, ibu, kakak, adik, bahkan ada mertua atau sanak famili yang lain. Sudah tak terhitung semenjak bermukim disana, lelagi ada pengumuman dari towa masjid tentang berita duka. Sudah tak terhitung lelagi ambulan bersirine kencang wara-wiri tepat didepan kontrakanku. Kepadatan penduduk yang tak sangat mengakibatkan tingkat kematian yang cepat dan begitu pun kelahiran lebih cepat lagi.

Takut? Tidak. Lebih baik sendiri tanpa siapapun dari pada ada orang namun meresahkan. Dari balik jendela tanpa rasa takut kami melihat tawuran antar kelompok dini hari. Pernah juga kejar-kejaran polisi dengan bandar narkoba ditengah pekat malam. Melihat para warga yang tenang dan tidak panik membawaku ikut tenang juga. Pemandangan itu kerap ada dikawasan kampung itu, gang -gang bisu menjadi saksi darah muda itu menumpahkan emosinya kasar. Sampai beritanya masuk koran berulang, beberapa bulan lalu ada korban tawuran. Tawuran yang selanjutnya biasanya juga gegera balas dendam, nyawa dibalas nyawa. Bapak-bapak paruh baya hanya menonton dari kejauhan. Begitu pun suamiku, kegaduhan yang mengganggu tidurnya hanya ditengok sebentar kemudian terlelap lagi. Usai mendengar sirine polisi itu menguing, mereka kocar-kacir terpencar. Sambil menerobos kerumunan pemuda yang terlibat tawuran mengumpat kekesalan. Ihwal ini, aku mencocokkan polisi sebagai inspektur vijay dalam film India, yang datang usai pertempuran terjadi πŸ˜€

                                                                        ***
Baiklah, mengalah untuk menang. Tidak ingin kebencian ini timbul sementara kita tak pernah saling mengenal. Sejak kembali usai lebaran, statusmu berganti menjadi tetangga terdekat. Aku tidak bermaksud untuk sombong, namun suara gaduh dan tangis tengah malam hingga pagi berhasil membunuh ingin tidurku, jiwaku terbalut kalut. Tak cukup jendela itu ditutup rapat-rapat. Kalau pagi saja, biar musik cadas memutar kencang, biar kalah saing suara kalian yang saling membantah.

"Beberapa hari ini kita terdzalimi tetangga yah Bi" ujarku membuka percakapan pagi,
"Hehe, yang ada mereka yang merasa saling mendzalimi, suami mendzalimi istri dan begitu pun sebaliknya"
"Ada hak anak yang wajib dijaga di sana"
"Terkadang dalam kondisi emosi, mereka mengusung tinggi ego masing-masing dan melupakan kehadiran buah hati" suamiku membalas
"Sebagai tetangga juga kita harusnya dijaga, didalam hadits disebutkan (Tidak akan masuk surga tetangga yang tidak membuat tetangganya nyaman) "
"Sudahlah, bagaimana mau menghormati tetangga kalau orang terdekat saja diperlakukan demikian, (Sebaik-baik suami adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya (Alhadits).
"Berarti kita berbuat tergolong selemah-lemahnya iman dong Bi, ketika melihat kemungkaran hanya bisa mendoakan dan mendiamkan" cetusku
"My, mereka warga sini asli, sudah tahu bukan kebiasaan orang sini? Hubby khawatir jika ikut campur muka kita sudah dicatat dikepala mereka. Kita cari aman saja, kita numpang di ranah ibu kota"
"Baiklah Bi, toh tinggal menghitung hari kita bermukim dikotak lantai tiga ini" πŸ˜€

Barangkali benar, dimana pun tanah seringnya jika bumi sudah dipijak memilih diam menjadi jalan paling aman. Menuruti imam lebih baik, orang terdekat mana lagi akan melindungi diri kita jika hidup hanya berdua, aku dan suami. Memilih untuk pindah jadi pilihan yang tepat. Bukan perkara tetangga yang beradu emosi saja, tetapi tetangga yang lain ada yang membawa wanita ditengah malam kedalam kamar. Lalu, pagi hari jejak wanita itu lenyap. Mulanya alasan pindah tak kunjung dijumpai. Tespek minggu shubuh menunjukan garis merah dua. Segala puji bagi Allah, tiga purnama usia pernikahan rahim ini sudah dihuni makhluk yang manis itu. Dan menjaga janin untuk tidak capek naik turun tangga ini menjadi alasan.

Tuesday, 26 July 2016

Kirab Pengantin Dukuh Kweni

Kirab Pengantin Dukuh Kweni

Yuuhuuu kali ini aku benar menceritakan tentang prosesi mantenan ala desa Dukuh Kweni Kelurahan Adisana Kecamatan Bumiayu. Bukan pernikahan ala kerajaan atau royal wedding kayak di Backinghum Inggris. Pernikahan yang sangat sederhana tanpa menyebar undangan atau ulem-ulem dalam istilah jawa. Yang membuat spesial kali ini adalah pernikahan orang sekampung.

Sedikit tidak menyangka kalau jodohku berada di pantat rumah. Selisih se RT, aku di RT 6 dan lelakiku di RT 07, mungkin jika dataran rata jaraknya tidak lebih dari sepuluh meter saja. Mmmh bisa dikatakan tetanggaku idolaku atau suami lima langkah hehe gak papalah. Banyak yang berspeklulasi kami berdua saling menanti. Mhhh sama-sama memendam dan menahan cinta, lalu keduanya tersangkut ke orang lain. Yang benar, kami diperjalankan Allah di saat yang tepat.Tepat 25 April 2016, usai 26 Maret lalu dipinang. Sehingga aku memutuskan mahar yang sama dengan hari perjanjian suci sehidup semati, Rp 250.416 dibayar tunai. Syah! Halal :)

Proses yang begitu cepat menjadi bagian kejutan dalam sejarah hidupku. Awal konsep nikah sangat sederhana, tanpa perayaan besar dan bawaan yang seadanya, begitu pula dengan nominal mahar. Terlahir dari keluarga biasa menginginkan pernikahan yang benar-benar mengikuti sunnah Rasul. Berupaya keras menyampingkan adat dan hura-hura berharap berkah dan sedikit mengurangi kendala. Kembali, kami harus tunduk dan patuh dengan anjuran orang tua. Kami sadar dengan kepatuhan itu sama dengan menjaga perasaan beliau. Menjadi omongan orang kampung masih menjadi alasan momok jika tidak menuruti adat. Bisa dilihat dari bawaan, prosesi dan apa saja yang bisa diungkit menjadi sebuah keburukan, yang sudah dibumbui suudzan (:naudzubillah mindzalik).
Terlahir dari dua keluarga besar, sekarang rumah tangga kami seperti keluarga raksasa. Aku terlahir dari 9 saudara, terdiri dari 1 laki-laki dan 8 perempuan. Sedangkan suamiku terlahir dari 8 bersauda terdiri dari 7 laki-laki dan 1 perempuan. Emak sendiri terlahir dari 10 bersaudara, mamah mertua jugak terlahir dari rahim ibu beranak banyak, tepatnya ber-8 saudara dan mamah sebagai anak tertua. Bisa dibayangkan, tanpa mengundang banyak orang saja, isi rumah sudah dipenuhi banyak orang.

Judulnya mengikuti adat kampung desa Dukuh Kweni, kelurahan Adisana kecamatan Bumiayu, dari persiapan untuk seserahan hingga usai ijab ditunaikan. Mau tidak mau harus mengikuti tutur pitutur petuah orang tua. Dari pihak mempelai wanita diminta untuk mempersiapkan kemeja putih, celana hitam, songkok, sarung, benting (bengkung = kain panjang untuk mengencangkan perut usai melahirkan) yang diganti korset ☺, baju untuk mertua. Sedang untuk acara kirab (kunjungan mempelai wanita ke rumah mempelai pria dalam kondisi masih riasan pengantin) mempelai wanita membawa kasur, rantang yang berisi nasi dan lauk pauk lengkap. Sementara dari pihak lelaki mempersiapkan seserahan, pemberian untuk mempelai wanita. Pada umumnya semampunya, tetapi yang berwujud perlengkapan semua busana termasuk dalaman, mukena, perhiasan, kue-kue, beras, sepasang ayam. Semua itu dibawa rombongan keluarga yang dikemas rapi dan cantik. Mengingat kami memutuskan untuk hidup di Jakarta seserahan yang berupa gerabahan ditiadakan, termasuk kambing. Nantinya, usai hajatan usai kambing itu dipotong dan dikirim penganten ke saudara-saudara dari kedua pihak. Kosmetik pula ditiadakan, meskipun sudah ditawari aku menolak. Toh aku tak menyukai berdandan, harga sepaket make up saja sudah mahal. Honestly, takut memberatkan ☺ Semua bisa berubah berdasar kesepakatan kedua belah mempelai.

Memutuskan menikah di KUA menjadi alternatif yang menyenangkan. Selain tanpa dipungut imbalan, berbondong-bondong diiring warga tentu sesuatu hal yang menggembirakan. Tak perlu waktu lama menanti, tak sampai 30 menit prosesi ijab qobul berjalan tanpa halangan yang berarti . Kebetulan, ketua KUA sudah berteman dekat dengan adik ipar. Keluarga besar dan rombonhan tetangga ikut menyaksikan ikut heboh.


Kami digiring ke Kawedanan, sebuah gedung terbuka yang tak jauh dari KUA. Gedung terbuka yang biasa digunakan untuk kepentingan pemerintah kecamatan Bumiayu. Dengan banyaknya saudara yang ada, kami diminta berpose sesuai keinginan mereka. Berlatar belakang ukiran jepara berhasil mengumpulkan memuat keluarga besar dalam satu bingkai, dengan berbagai gaya dan tak terhitung berapa kali jepretan mata kamera.

Acara kirab sendiri diawali dengan tamu dari keluarga mempelai pria yang menjemput pengantin untuk ke rumah pengantin lelaki. Seperti acara sebelum seserahan, keluarga lelaki yang menjemput. Kami diiring dengan keluargaku sambil sepayung berdua dengan lelaki meski tak hujan dan tak begitu menyengat. Awalnya tanpa payung, berhubung omongan ibu-ibu yang bertubi-tubi tak terelakan lagi. Sepupuku mengambil payung cantik dari rumahnya yang tak jauh dari rumahku.
Proses seserahan dalam perjalanan dari calon mempelai pria ke wanita



Sesampainya dimulut rumah mertua, kami tak langsung memasukinya. Keluarga di dalam sedang mempersiapkan saweran (uang receh yang dicampur beras kuning dan permen kemudian disebar di halaman rumah dan jadi rebutan pengiring pengantin dan tamu kondangan). Ini yang disebut kirab atau ngirab. Tak lama ngobrol dan berfoto ria, aku dibawa ke kamar oleh mertuaku. Sedikit dandanan hijab ala rias pengantin dibongkar agar terlihat rambut. Perias mengambil bagian atas telinga, biasanya bagian pelipis, berhubung detail hijab bagian tsb sedikit rumit. Sisir dan minyak sayur dipiring kecil mertua bawa ke dalam kamar. Dengan membaca basmalah, sedikit rambut yang terlihat diberi minyak kemudian disisir manja. Ada ciuman gemas dan pelukan hangat berulang dari mamah mertua, sambil memberi amplop putih, "buat beli kosmetik" kata mamah.
Proses saweran sebelum memasuki rumah mertua




Aku bersama adik, kakak dan keponakan

Halal


Sampai sekarang, 3 purnama aku menjalankan rumah tangga tak satu pun jawaban yang jelas tentang makna dari kirab. Kata bu Lik Soliha (adik emak) "Ini simbol pertanda mamah mertua sudah tua, harus lebih dewasa lagi", berbeda dengan Lik Hikmah (adik mamah) " Biar malas hilang" sambil senyum sumringah. Sementara emak dan bapa sama-sama menjawab "itu mah adat wong kuno" sambil tertawa lebar. Emak menambahi, jika zaman dulu lebih lengkap. Ada tradisi sebelum malam pertama mertua membalikkan kasur pengantin dan mempelai wanita menadahi kotoran yang ada dengan bajunya. πŸ˜€

Lumayan seru mengikuti ritual menjadi pengantin adat sekampung. Tak ada pecah telur, tarik-tarikan ayam atau lempar-lemparan daun sirih. Tak ada aturan yang membelenggu semua berjalan mengalir tanpa halangan yang berarti. Ohya, ada satu yang ingin aku ceritakan tentang sarung BHS. Sebenarnya sarung katun tenun, karena harganya bisa dapat 5 biji dari sarung biasa jadi cara merawatnya berbeda. Dari Bu Lik, Mbah, Emak komplain saat sarung itu dicuci dan dijemur seperti sarung biasa. Harusnya sarung tsb cukup dikucek tanpa sabun dan dijemur membentang bagian bawah diberi pemberat. Wajar, dengan harga yang cukup menguras buat orang kampung wajar dengan perawatan yang sangat diperhatikan. Sarung ini dibuat dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dari benang sutera yang ditenun bisa sampai sepekan baru jadi.
Bersama keluarga besar dari suami