Thursday, 20 August 2015

Memaknai Green Canyon Melalui Batu

                                       Memaknai Green Canyon Melalui Batu



                 Sambil menyusuri CukangTaneuh warga Cijulang Pangandaran menyebutnya, Sedang lebih terkenal dengan nama Green canyon (green = hijau dan canyon = tebing) Kaki-kaki kami yang terbiasa menapaki tanah, kini menjajal adrenalin dengan body rafting. Ini istilah olahraga yang menyusuri kali tanpa bantuan kapal, kami berenang sesekali menaiki gunung batu dan menepi menyusuri tebing-tebing bebatuan.
Sepanjang 3 km kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Rasa lelah itu dibayar tuntas dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Selama ini baru kutemui,ketika banyak orang menyengaja untuk cape dan berangkat dari berbagai kota, menyepakati pernyataan kang Hamas pemandu kami. Becermin dari sungai ternama seperti sungai ciliwung, Kalimalang dan sungai yang ada dikota besar lainnya tidaklah mungkin menyengajakan kegiatan tersebut mengingat kondisi sungai yang keruh dan terkontaminasi polusi.






                Mengingat bebatuan menyadarkanku pada Sang Pencipta. Saat aku terdiam sambil berenang telentang dan menendang-nendangkan kaki keair, beberapa kali kami ditarik oleh pamandu seperti ular. Aku semakin merasa diingatkan. Indonesia negeri yang sangat kaya raya alamnya. Aku haus diantara limpahan air sungai, tak lama pemandu menunjuk hujan abadi, meski kemarau air dari akar yang menjuntai mengalir dari ujungnya di pinggir tebing. Banyak juga air yang mengalir dari balik tebing yang menjulang tinggi. Aliran bisa langsung diminum tanpa proses. Menurut pemandu air tsb sangat alami jauh dari penduduk 7 km ke kanan dan ke kiri. Dan benar saja ketika seteguk air yang menyiram tenggorokan terasa ademnya.


           Berbeda saat perjalananku di negeri para nabi. Gunung-gunung batu itu gersang, cadas , kasar dan tidak ada lumut hijau menyelimuti permukaanya. Gunung batu itu memiliki pesona sejarah yang tak pernah lekang dimakan zaman. Sebut saja gunung yang kujumpai jabal Nur, jabal Rahmah, jabal Tsur, jabal magnet, tak kujumpai disana air yang melimpah, stalaktit yang menggantung di langit-langit gua,pohon rimbun. Gunung batu itulah yang menjadi saksi sejarah perjuangan Rasulullah menyebarkan syiar Islam.
barisan gunung batu uhud yang memanjang 7 km


         Sama seperti perjuangan Siti Hajar yang berlari-lari dari bukit Safa ke Marwa. Dari kedua bukit tersebut ditandai dengan adanya batu besar. Perjuangan seorang ibu yang mencari air untuk Ismail sang buah hati. Kondisi alam yang tandus dengan terik yang menyengat disertai selimut debu,  tentu ini perjuangan yang sangat berat bagi ibu beranak batita. Kembali pada kekuasaan Allah, mukjizat berupa mata air zam-zam itu muncul usai 7 kali berlarian bolak-balik. Inilah yang menjadi sumber mata air di Haramain yang tak pernah habis.
jabal magnet


        Satu lagi yaitu batu yang belum aku jumpai, meski sudah dekat. Jamaah dari penjuru dunia memadati bongkahan batu itu.Ya, itu hajar aswad, batu hitam yang diturunkan dari surga berada di kotak hitam yang disebut Ka'bah.Ribuan orang tiapdetik berupaya keras untuk meraihnya  dan memanjatkan doa hingga bercucuran air mata. Konon, batu ini dahulunya berwarna putih seperti salju,namun seiring dosa manusia,batu tersebut menjadi hitam.


Ka'bah dari lantai 3 menjelang sholat isya


                Lalu aku menyimpulkan, kekuasaan Allah yang maha Cantik. Setiap tempat mempunyai daya tarik masing-masing baik ditilik dari sisi history, kondisi alam ataupun budaya. Dan setiap perjalanan itu pula ada pembelajaran dengan bijak tanpa menggurui.


Sunday, 14 June 2015

Menikmati Tradisi Mantenan ala Laes Darul Mawar

       Tradisi Mantenan Sawer, Tumpek Ponje, Larang Pangkon


Lain lubuk lain belalang, lain padang lain ilalang, lain lubuk lain pula ikannya. Pepatah tersebut menggambarkan peristiwa tadi pagi menjelang siang. Prosesi pernikahan yang masih satu kabupaten sudah berlainan adat. Sang mempelai wanita verasal dari kampung Darul Mawar, sedang mempelai laki-laki berasal dari kampung Laes, Selikur, Kibin.

Usai ijab dan dinyatakan syah oleh penghulu dan para saksi. Dari luar masjid terdengar mercon meletup-letup jedar jedor jedar jedor. Baik mercon yang berbentuk rentengan ataupun yang batangan besar. Gambaran semarak kebahagiaan. Kalo para penduduk setempat  menamakan "bledogan"

prosesi pengecekan data sebelum ijab qobul

Sebelum kedua mempelai beranjak ke pelaminan, tepatnya dimulut pintu masjid. Tokoh setempat memanjatkan doa-doa yang iringi sholawat. Pengantin berada dibarisan paling depan disusul keluarganya. Tabuhan rebana dari ibu-ibu ta'lim ikut mengringi dengan lantunan "thola'al badru alaina, min tsani yaadi wada.."  Tak kalah seru rombongan bapak-bapak paling belakang menabuh bedug bertalut-talut.

Sesampainya dirumah, aroma sunda tercium kental. Ditambah musik khas Banten dengan serulingnya itu.

Usai tamu menyantap hidangan makanan, prosesi dilanjutkan dengan sawer. Saweran disini pengantin diberi uang para tamu dan masyarakat setempat. Karena pelaminan sempit, jadi pengantin diajak ke panggung. Didepan mempelai disediakan wadah ubtuk menampung uang. Ada juga mempelai disawer dengan dikalungi uang.

Mertua wanita menuturkan jika saja menikah di kampung Laes,tentu akan banyak sekali dapat saweran. Sambil menguntai senyum aku membalas ini terjadi jika menikah dengan sekampung. Tradisi di sana beliau menuturkan, usai ijab mereka disawer. Lalu dimalam hari mempelai lelaki diasingkan ke rumah saudaranya yang jauh tapi masih satu desa. Kemudian di susul mempelai wanita, nah dirumah saudara jauh itu disawer oleh warga sekitar kampung.
penganten disawer


Menurut ibu hajah Rohmati, sebenarnya ada prosesi buka pintu. Namun, karena tidak dipersiapkan dari mempelai wanita dan tidak ada komunikasi sebelumnya jadi tidak dilangsungkan. Tradisi ini dilakukan dengan menaruh pengantin wanita dibalik pintu yang dihalangi kain.  Dibalik kain tersebut ada pengantin lelaki. Supaya bisa diterima masuk rumah, terdapat 2 orang ahli pantun yang beradu keahlian berbalas pantun. Dan pada akhirnya ahli pantun wanita mempersilakan dan menerima pengantin wanita.

Yang baru aku jumpai diprosesi itu adalah tradisi Tumpek Ponjen. Dimana penyerahan kantung yang terbuat dari kain yang berisi uang receh dan biji-bijian diberikan kepada mempelai perempuan. Sebagai syarat, biji-bijian minimal 3 warna atau jenis. Jumlah bilangan harus ganjil, maksimal 17 jenis biji. Tadi yang aku lihat isi gabah, kedelai dan kacang. Kedua mempelai diminta untuk saling berhadap-hadapan.
tradisi tumpek ponje

suami istri bekerja sama memasukkan kembali bebijian kedalam kantung

Ibu mempelai lelaki itu menumpahkan kantung tsb sebanyak 3 kali. Kedua mempelai bekerjasama untuk mengantongi kembali isi kantung yang ditumpah itu. Dan sebanyak 3 kali pula mempelai bekerja sama mengumpulkan bebijian dan receh itu.Sambil didampingi ibu sesepuh yang menerus melambungkan doa. Tradisi ini terjadi karena mempelai lelaki anak bungsu dikeluarganya.

 Prosesi selanjutnya yaitu Larang Pangkon. Sebuah boneka berkerudung dengan bantal sajadah diletakan diatas baki. Mempelai lelaki menyerahkan kepada mempelai wanita. Kedua tangan mereka bertumpuk diatas boneka itu. Lalu mempelai wanita mencium tangan suami. Masih menurut ibu Hajah Rohmiyati, filosofi prosesi itu menggambarkan harapan dan doa orangtua yang mengharapkan kesejahteraan, kemakmuran dalam menjalankan rumah tangga. Adanya pangan dan materi yang melimpah disimbolkan dengan biji-bijian dan uang receh. Lalu keberadaan berharap disegerakan kehadiran anak yang sholeh diantara mereka. Simbol sajadah dan berkerudung mengisyaratkan keutamaan penanaman pendidikan dan nilai-nilai Islam.
tradisi larang pangkon

Keseluruhan runut adat memang tidak lengkap, tetapi keseluruhan mencerminkan khasanah budaya Indonesia yang beragam.

Thursday, 11 June 2015

Merengkuh Cinta & Sejarah Di Kota Bogor

                             Merengkuh Cinta & Sejarah Di Kota Bogor

            Sebenarnya sudah berkali-kali melintas jembatan merah saat akan dan usai berkunjung ke rumah kakak tertua. Namun baru awal Mei 2015 itu kedua kakiku berjalan diatas jembatan yang memiliki nilai sejarah perjuangan pertumpahan darah. Jembatan merah disini berbeda dengan jembatan merah yang ada di Kebun Raya Bogor. Menurut mitos yang beredar jika sepasang kekasih yang melewati jembatan tersebut akan putus. Jembatan ini mengingatkanku pada Toko Merah yang ada di Kota Tua di jalan Sawah Besar.
 
aku dan keluarga kakak tertua 
            Jembatan ini dibangun pada tahun 1881 bersamaan dengan diresmikannya Stasiun Bogor. Sejak awal didirikan jembatan ini sudah diberi warna merah bata. Terlebih saat perang kemerdekaan, tempat ini juga menjadi saksi perjuangan tentara BKR yang dipimpin oleh Kapten Muslihat melawan penjajahan Belanda. Para pejuang yang datang dari arah Jalan Veteran berusaha memasuki wilayah yang dikuasai Belanda yaitu gedung di samping Matahari Dept Store yang kini menjadi Kantor Polresta Bogor tersebut. Di atas jembatan inilah pertempuran sengit terjadi. Banyak korban dari kedua belah pihak bergelimpangan di jembatan ini. Banyak darah berceceran, semakin menasbihkan nama jembatan merah yang lekat dengan darah. Pada saat era orde baru, jembatan tersebut di cat warna kuning, namun tetap saja orang menyebutnya jembatan merah. Mungkin di situ keunikannya. Jembatan warna kuning kok disebut jembatan merah.

jembatan merah

            Lokasi Jembatan merah sangat strategis. Tepat berada di pusat kota dan keramaian kota Bogor. Dekat dengan Stasiun Bogor dan Jalan Merdeka yang merupakan pusat perdagangan. Selain itu dekat juga dengan Pasar Devris yang siangnya berfungsi sebagai pasar tradisional namun jika malam berubah menjadi sentra kuliner.

            Saat ini kondisi Jembatan Merah dipercantik dengan hiasan tulisan JEMBATAN disisi sebelah kiri dan MERAH disisi sebelah kanan. Jika malam hari terlihat lebih cantik karena terdapat lampu yang memperjelas tulisan JEMBATAN MERAH.

            Nama jalan tersebut pada awal berdirinya adalah Bantammer Weg.Di sebelah Barat jalan ini bertemu dengan jalan Merdeka, jalan Veteran dan jalan Perintis Kemerdekaan. Di bagian Timur si bantammer weg berujung ketika bertemu dengan jalan Juanda.

mencoba menirukan gaya patung

mencoba menirukan gaya patung

            Hingga saat ini, jalan Kapten Muslihat masih merupakan akses utama bagi warga kota Bogor dari arah Barat Bogor untuk menuju ke tengah kota.Patung Kapten Muslihat ini berada di depan Taman Topi. Sambil melepas lelah kami duduk dan menikmati sarapan pagi dengan roti bakar. Mataku berselasar melihat tempat niagaa mungil di beratapkan seperti topi berbeton. Dari salon, percetakan, warung makan , agen travelling dll. Ada yang berbentuk jamur, buah-buahan juga disana. Taman Topi sendiri mengahadap Matahari dan  Plaza Taman Topi Square.

taman topi

menikamati roti bakar usai joging

es duriaaaan ampuuuuun

            Usai melahap roti bakar, gerobak es durian menggoda mata keluargaku untuk mencicipinya. Sayang aku sendiri bukan penggemar durian. Dari kami yang berenam hanya aku yang sungkan mencobanya. Mba Eva, Mada, Fildza, Talita dan Akbar menikmati satu cup es durian dengan begitu nikmatnya. Berulang-ulang bocah laki-laki paling mungil itu menawariku untuk mencicipinya meski sedikit. Tetap saja aku enggan, entahlah aku memang tidak berselera dengan bau durian.

            Nama Kapten Muslihat disematkan pada jalan ini sebagai penghormatan kepada Kapten Tubagus Muslihat. Seorang pejuang Indonesia yang gugur dalam pertempuran mempertahankan kemerdekaan di jalan ini. Lokasi gugurnya sang kapten berdekatan dengan dimana stasiun kereta Bogor berada saat ini. Sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya maka namanya diabadikan sebagai nama jalan ini.


            Selain itu di salah satu bagian jalan ini terdapat juga sebuah jembatan yang membuat Bogor memiliki kesamaan dengan kota Surabaya. Jembatan tersebut bernama Jembatan Merah. Kisah heroik yang terjadi di sekitar jembatan inipun sama dengan yang terjadi si Surabaya.

Memuncak Di Tebing Keraton

                                             
 
                                        Memuncak Di Tebing Keraton

            Tebing Keraton atau Tebing Karaton merupakan sebuah tebing yang berada di dalam kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tebing ini terletak di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Bandung. Merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman. Luasnya mencapai 590 hektar yang membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya. Dari Tebing Keraton dapat menikmati pemandangan spektakuler. Bukan lampu kota, melainkan hutan.
 
peta lokasi wisata
            Tahura berada di ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 spesies. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha. Saat ini pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kehutanan Pemda Provinsi Jawa Barat (sebelumnya berada di bawah naungan perum Perhutani).

            Tidak sulit untuk mencapai Tebing Keraton. Dari pusat kota Bandung, bertolak ke arah Dago Pakar, memang tidak ada kendaraan umum menuju goa pakar. Sewa ojeg banyak siap mengantarkan menuju wisata disana. Jika hanya sampai mulut gerbang pintu biaya Rp. 10000 sampai gerbang hutan. Jika jalan kaki sekitar 35 menit sepanjang 2.5 km jalanan yang menanjak dan berkelok. Kemudian ke arah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Setelah pintu gerbang Taman kami akan melewati rumah-rumah besar dan kemudian perkampungan. Setelah itu kamiakan sampai di sebuah warung dengan baliho besar bertuliskan 'Warung Bandrek' alias Warban. Perjalanan belum selesai, pacu kendaraan melewati tanjakan dan jalan berbatu sampai pos teratas, langsung di Tebing Keraton. Untuk mencapai tebing tersebut, Dibutuhkan waktu yang lebih lama,sebab lebih dari 5 km dengan jalan menanjak dan terjal yang hanya bisa dilalui motor dan pejalan kaki.
 
persahabatan di Tebing keraton eksis


niat narsis juga butuh perjuangan

Tarraaaa  inilah pemandangannya,maasyaaa Allaaah

            Sepanjang jalan menuju Tahura banyak para pesepeda gunung yang menjajal adrenalin meleawati track jalan beraspal yang menanjak dan berkelok. Kerap kami menyapa mereka dan menyemangati para lelaki matang yang sudah bercucuran keringat menggoes pedal. Mereka juga membalas sapaan dan dukungan kami dengan senyum ramah sambil terengah-engah. Isi botol yang mengait disepeda sudah tidak ada yang penuh. Peluh mereka bercucuran sama seperti kami yang berjalan kaki. Bedanya mereka berbaju terbuka dengan pengaman yang lengkap, sementara kami berhijab dan berjaket tebal. 

            Tebing Karaton ini ada di atas Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Sehingga dari atas tebing ini, kami menyaksikan hijaunya pemandangan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang menghampar luas sepanjang mata memandang. Pemandangan ini pun akan bertambah indah. Sayang sebelum matahari terbit atau kira-kira jam 6 pagi. Pada saat menikmati suasana kota Bandung yang masih berselimut kabut tebal, kami melewatinya. Termasuk keindahan matahari terbit di balik bukit yang ada di sebelah timur. Semua keindahan panorama alamnya ini memang paling pas, jika untuk diabadikan dengan mata kamera. Sisa kabut, hawa sejuk, cericit burung dan bunga bermekaran menarik perhatian kami.
goa Belanda

goa Jepang


                        Supaya meringkas waktu, aku dan Iis memakai jasa ojek yang mengantarkan kami dari Tebing Keraton, Curug Omas, Goa Belanda dan Goa Jepang. Usai proses tawar menawar maka jatuhlah harga 90 ribu untuk biaya perjalanan. Mengingat semalaman sudah tidur larut dan keesokan hari harus kembali bekerja. Lagipula jarak antara satu destinasi wisata ke wisata yang lain cukup jauh. Kurang lebih 200 km harus dilewati untuk 4 destinasi tersebut. Tidak apalah menguras kantong yang cekak, yang penting kepuasan dari perjalanan.

curug Omas

curug Omas


            Untuk berkunjung ke Tebing Keraton menguras keringat tapi hawa dingin masih terasa menyelimuti tubuh. Siaga kamera disetiap pemandagan yang memanjakan mata, jaket masih saja belum menghalau dinginnya udara, sesekali menenggak minum saat tenggorokan mulai kering. Sebab kami menyewa motor, karena jalanan yang dilewati belum terlalu bagus, kami bertahan agar tidak terjatuh dan tetap nyaman diatas roda dua. Mengingat perjalanan yang sempit, tidak mulus, naik turun dan berkelok. Walhasil, usai perjalanan keesokan harinya pegal-pegal melanda.

            Seperti yang diuraikan di atas,  berkat cerita pak Uyun dan saudaranya yang mengantarkan kami.  Kami bercakap-cakap dan  menceritakan tentang Tahura, keluarga dan obrolan ringan yang lainnya. Menurut pak Uyun, Tebing Keraton mempunyai cerita banyak legenda, dari kisah Raden Kian Santang sampai cerita Tangkuban Perahu. Konon cerita, Tebing Keraton dinamai itu karena tebing-tebing itu jika di lihat dari balik bukit yang bersebrangan menyerupai keraton,istana, tempat kediaman raja dan ratu. Disamping mempunyai histori kerajaan masa lampau.

           





Aku 11 12 Bapa (Masih aroma kota kembang)

                                                        Aku 11 12 Bapa

            Saat berjalan dibawah awan berarak di Kota Kembang, aku mendapati sepasang remaja belia duduk dikursi besi ukir jalan Asia Afrika. Terlihat gadis hitam manis sedang merajuk, mukanya masam membisu. Lelaki muda disampingnya menemani setia, ia lelaki yang beranjak remaja,paras bocahnya baru ditumbuhi jerawat di parasnya yang mulai tak polos. Rasa ingin tahuku menggebu, lalu aku menanyainya,
"Kalian pacaran?" ujarku sambil mengulum senyum
"Enggak, kakak adik" jawabnya singkat
"Kakak adik ketemu gede?" senyumku makin lebar.
Sambil memperhatikan bentuk wajah yang jauh beda diantara keduanya.
romantisme emak bapa


Aku dan Iis bergegas meninggalkan mereka. Tapi ada ihwal yang mengganjal yang belum aku utarakan. Kaki ini mengerem dan berbalik arah.
"Neng, jadi perempuan harus bisa jaga diri ya, kudu hati-hati" pesanku
"Iya Teh"
 
senyum sumringah emak bapa
Tetiba aku menertawai diriku sendiri, mengingat cerita Mbaku tentang bapa. Saat diajak wisata ke kawasan agro wisata Kali Gua Bapa semangat mengejar sepasang muda-mudi yang berjalan menyepi diantara petak-petak kebun teh.
"Bapa mau apa?" mbaku penasaran
"Itu lho lanang wadon nggolet tempat sepi, buat apa kalau bukan pacaran itu kan dosa?"
Bapa membara sementara mbaku terkekeh diikuti cucunya yang sudah menginjak remaja.
"Sudah Pa, mereka sudah terlalu jauh. Lagi pula mereka bukan dari keluarga kita. Insya Allah anak dan cucu Bapa tidak demikian. Biar mereka yang menanggung sendiri akibatnya"
Ucapan itu sanggup meredakan Bapa. Kemudian Bapa dan keluarga menikmati pemandangan dengan nikmat syukur yang tak terkira.

bapa berkebun dan kesederhanaannya

Lebih tepatnya tegas bukan galak. Ini juga salah satu karakterku yang melekat. Bisa dibilang tidak jauh beda dengan Bapa. Rahang di wajahnya dikala muda menempel tegas di wajahku.

emak bapa

Usia beliau yang sudah berkepala 7, kini tinggal berdua dengan Emak, sementara ke-8 anaknya. Hanya seorang yang tinggal di kampung sebelah yang tidak jauh dari rumah. Kesibukan sehari-hari beliau bahu membahu berdagang dan berkebun.Di masa senjanya, beliau sangat intim dengan Gusti Allah. Ketika adzan berkumandang beliau mengejar sholat jamaah di suro kecil yang tak jauh dari belakang rumah.



Ketemu Naruto Di Braga

                                                                        Ketemu Naruto Di Braga

            Kami tak berhenti mengagumi sepanjang sudut jalan Braga. Sedari persimpangan sebelah taman Vanda enggan rasanya melewatkan mengabadikan moment diatas jalanan yang bersih dan tertata rapi. Sembari melangkah dengan riang, langkah kami terhenti dengan suatu pemandangan yang langka kami jumpai.
"Mba, mba ada Naruto" Iis memanggilku sumringah
Aku mendekati dua orang yang berkostum dalam tokoh karakter yang ada dikomik manga Naruto. Mereka sedang duduk di depan swalayan kecil yang bersebrangan dengan City work Bandung.

            Beruntung, mereka dengan senang hati menemani kami berfoto-foto. Sambil berbincang ringan tentang kostum yang mereka kenakan. Sebenarnya kami ingin mengambil foto di atas kursi besi ukir yang cantik. Ya sudahlah berlatar pintu ruko yang sedang libur tak berjualan sudah cukup.
 
ciee Iis 
            Sedikit mengulas tentang Anime (アニメ) (baca: a-ni-me, bukan a-nim) adalah animasi khas Jepang, yang biasanya dicirikan melalui gambar-gambar berwarna-warni yang menampilkan tokoh-tokoh dalam berbagai macam lokasi dan cerita, yang ditujukan pada beragam jenis penonton. Anime dipengaruhi gaya gambar manga, komik khas Jepang.
Kata anime tampil dalam bentuk tulisan dalam tiga karakter katakana a, ni, me ( アニメ) yang merupakan bahasa serapan dari bahasa Inggris "Animation" dan diucapkan sebagai "Anime-shon".

            Anime pertama yang mencapai kepopuleran yang luas Astro Boy karya Ozamu Tezuka pada tahun 1963. Sekarang anime sudah sangat berkembang jika dibandingkan dengan anime zaman dulu. Dengan grafik yang sudah berkembang sampai alur cerita yang lebih menarik dan seru. Masyarakat Jepang sangat antusias menonton anime dan membaca manga. Dari anak-anak sampai orang dewasa. Mereka menganggap, anime itu sebagai bagian dari kehidupan mereka, Hal ini yang membuat beberapa televisi kabel yang terkenal akan beberapa film kartunnya, seperti Cartoon Network dan Nickelodeon mengekspor kartunnya

            Masyarakat Indonesia terutama para anak mudanya menyukai Jepang karena budayanya yang mulai masuk dan terkenal di Indonesia decade 90an. Budaya Negara Jepang yang masuk ke Negara Indonesia melalui fashion seperti harajuku style, kartun-kartun anime dan cosplay (costum player),
 
            Menurut mereka, kostum yang mereka kenakan sesuai tokoh karakter yang mereka sukai. Terlebih dalam rangka kompetisi yang ada di dalam mall yang saat itu sedang berlangsung. Penilaian meliputi kemiripan kostum, karakter, gaya, gestur tubuh sesuai aslinya. Untuk soal dandan dengan bedak seputih itu menyapu wajah, mereka memoles sendiri tanpa bantuan.
ini gayaku hehe


            Saat mengambil gaya dimata kamera hp, aku meminta berpose sesuai karakter yang diperankan. Nikmatnya perjalanan itu ketika menjumpai hal baru dan kita bisa mengorek dan berbagi di dalamnya, tuturku kepada Iis. Namun yang membuat Iis tersenyum lebar ialah ia bisa pamer foto ke sosok kekasih hatinya yang menggemari tokoh Naruto.


Backpaker Satu Malam Di Kota Kembang

                                         
                                  Backpaker Satu Malam Di Kota Kembang

            Paris Pan Java menjadi incaran kota di hari libur pertengahan Mei. Tanpa bantuan google map kami melangkah dengan sumringah. Menyapa orang-orang yang baru ditemui meski hanya melempar senyum. Bertanya arah kepada orang yang aku sangka baik dan netral. Nikmat mana lagi, hampir semua orang yang aku tanyai berkata jujur. Sungguh ini bukan karena kebetulan, tapi ada campur tangan Allah SWT. Sedari sebelum berangkat hingga safar kami mengencangkan doa agar selamat dan diberi kemudahan.
 
Asia Afrika
            Meraba kota baru yang cantik memang baru kali. Tak henti-hentinya terkagum-kagum dengan tata ruang kota Bandung. Bangunan kuno masih berdiri kokoh dengan dihiasi lampu jalan yang klasik nan elok. Sampah memang ada,tapi tidak sebanyak sampah yang aku jumpai dikota lain. Lantai trotoar yang bersih berhias batu-batu bulat, kursi elegan dan vas bunga nan bermekaran disepanjang jalan Braga, Asia Afrika, Alun-alun dan sekitarnya.

bersama tokoh pendiri KAA


            Di sepanjang jalan Asia Afrika kami tidak melewatkan berfoto dengan para tokoh Asia Afrika yang dibuat poster seukuran tubuh. Tiang-tiang bendera itu kini tak berwarna-warni dengan berndera berbagai negara. Setelah sebelumnya kota Paris pan Java sebagai tempat perhelatan konferensi Asia Afrika selain kota metropolitan Jakarta. Aku lebih memilih berfoto dengan bapak proklamator Indonesia ir. Soekarno dan bangga berfoto dengan wali kota Bandung Ridwan Kamil.
Bandung rasa Eropa kata Iis


            Tatanan kota yang keren dan seindah itu tidak lain ada campur tangan petinggi. Hal ini Ridwan Kamil sebagai sosok wali kota yang mempunyai predikat insinyur terbaik di Indonesia, kiranya wajar membuat Bandung makin keren. Salut dengan kerja kerasnya yang didukung warga Bandung. Aku sepakat jika Bandung dengan slogan kota “Bandung Juara”.

            Aku ikut bercengkrama dengan alam disana, rumput sintetis dihalaman masjid Bandung Raya melepas lelah. Anak-anak berlarian melempar, menangkap dan menendang bola. sesekali kami leyeh-leyeh di atas hamparan hijau itu. Sambil mengabadikan moment dengan foto selfie hehe



            Tepat di shof paling depan kami menunaikan sholat asar berjamaah. Seorang bertanya kepada kami tentang menara pandang Bandung. Kami hanya menyunggingkan senyum dan berkata tidak tahu. Usai sholat, kami mencari info tentang menara pandang tersebut.  

di atas menara kembar

masjid Raya Bandung


         Menara tersebut ternyata berada di kanan dan kiri masjid. Biasa disebut menara kembar yang dibangun selama 2 tahun dari tahun 2001-2003 yang diresmikan oleh gubernur Jawa Barat waktu itu H. R Nuriana. Harga tiket sangat terjangkau hanya 4 ribu. Menurut info penjaga tiket tinggi menara 81 meter yang dimaknai dengan asmaul husna. Tak sampai 60 menit, kami mengular di depan tiket sampai mulut pintu lift. Dengan kapasitas 10 orang di dalam kamar lift yang mencapai lantai 19, kami menaiki menara yang berdinding keramik itu. Sesampainya di sana kami bisa melihat landscape Bandung dari ketinggian. Bangunan tinggi terlihat lebih pendek, jalanan yang dipenuhi mobil-mobil yang merayap dan rumah-rumah yang terlihat sangat kecil seperti mata dadu.

            Yang membuat sedih itu dengan ribuan orang yang meghabiskan liburan di Alun-alun dan sekitarnya tetapi masjid sepi jamaah usai adzan merdu berkumandang. Latar masjid yang bercorak Arab itu paling banyak jamaah di waktu magrib tiba dan yang paling sepi saat Shubuh tiba. Masjid dengan kapasitas 12000 – 14000 jamaah hanya 1 – 3 shof jamaah, itupun bukan shof yang rapat, tapi renggang.

            Kenapa aku tahu? Hehe usai sholat Isya pukul 20.30 kami mengurai lelah. Tetiba pukul 22.30 pengurus DKM mengusir kami. "Kalau Neng mau i'tikaf silakan di masjid, tapi kalau tidur dimasjid silakan keluar, pintu akan dikunci" ujar bapak berpeci hitam.

                                                                       ****
            Permadani sintetis menjadi alas tidur dan beratapkan langit. Ah, kami banyak teman bahkan anak-anak masih asik bermain saling merebut bola. Angin malam dari kota Bunga menusuk hingga sumsum. Kaos kaki panjang dan jaket tebal masih saja ter tembus. Hingga tengah malam rasanya makin tak kuat dengan rangkulan hawa dingin. Akhirnya kami menepi ke halaman masjid.

            Baru saja kami mulai terlelap, beberapa orang berseragam dinas satpol PP membangunkan kami.
“Neng, bangun neng. Masjid ini mau dibersihkan. Neng kemalaman pulang yah”
“iya pak”suara parauku menjawab
Kami bangun dengan setangah sadar dan berdiri dengan sempoyongan
“Silakan ke kantor kami Neng, disebelah kanan masjid. Disana banyak mahasiswa dari Jakarta yang kemalaman juga”

            Kami sebenarnya menertawai diri sendiri, baru saja semalam menjadi gelandangan langsung disergap satpol PP. Beruntungnya kami, mereka bertugas dengan santun, malahan menawari kami tidur diruang tugas. Awalnya tidur diatas kursi panjang berdua, lumayan menyiksa tapi memang sudah resiko. Yaaa, setidaknya angin malam tidak ganas menerobos tubuh kami yang ceking. Sementara musafir yang lain tidur dikursi lain, selang lama salah satu mereka berpindah. Kami bisa leluasa tidur hingga kumandang shubuh tiba.



Sunday, 3 May 2015

Membentang Jejak Dakwah Rasulullah Di Haramain (Part Madinah)


          Membentang Jejak Dakwah Rasulullah Di Madinah

Kali ini posisi Hanif sebagai muthawwif digantikan oleh Azmi karena suatu kesibukan, rekan sesama mahasiswa Universitas Islam Madinah. Logat melayunya sangat kental, tidak seperti Hanif yang bisa menyesuaikan mana jamaah asal Indonesia dan Malaysia. Pelajar asal negeri Jiran ini memang sedang belajar menangani handling dan urusan jamaah umroh.Azmi sudah berupaya keras menerangkan apa-apa yang berada disekitarnya yang berkaitan dengan jejak perjuangan Rasul. Meski demikian banyak diksi saat pengucapan dalam cerita tercampur dengan bahasa Melayu.

Dalam hitungan detik usai memimpin doa perjalanan, sepatah doa patah sudah Azmi dihujani komplain oleh para jamaah terutama dibarisan depan. Mengingat ada beberapa dari jamaah berprofesi sebagai dosen disebuah Institut Islam di Serang. Sedikit adu pendapat yang dicampur canda tawa, akhirnya supir yang berpengalaman itu menawarkan diri untuk membimbing kami, menjadi pemandu wisata sepanjang city tour Madinah.Demi kepentingan bersama akhirnya supir mengikhlaskan diri menjadi pemandu wisata. Dengan pekerjaan multi tasking menyetir dan menguraikan semua situs-situs dan sejarah nabi dengan jelas dan rinci.

Berkat izin Allah, dengan pengalaman yang tak sebentar supir tersebut diberi banyak kemudahan melafalkan setiap sejarah tempat demi tempat dan hal-hal kecil yang sebelumnya belum kami ketahui.

Berikut destinasi wisata yang dirangkum dalam torehan cerita dari penerangan pak Asep supir paruh baya yang masih nampak gagah.

Misteri Jabal Magnet

FENOMENA alam tak kunjung habis di Madinah dan Mekah. Kini, Jabal (Gunung) Magnet menjadi fenomenal dan banyak dibicarakan jemaah umrah.Kelebihannya, mampu mendorong kendaraan dengan kecepatan 120 km per jam dengan posisi persneling netral.

Namanya memang tak setenar dengan tempat bersejarah lainnya yang ada di kota suci Medinah dan Mekah, seperti Jabal Uhud, Baqi’ Jabal Rahmah, dan lainnya. Tapi, belakangan ini, Jabal Magnet mengundang jemaah Arab maupun umrah untuk datang merasakan kelebihannya.

rombongan Zidny Travel 26 Maret - 2 April 2015
Lokasinya memang cukup lumayan dari Kota Medinah, sekitar 40 km menuju arah Kota Tabuk. Jabal Magnet berada di luar daerah haram, sehingga bebas dikunjungi warga non muslim.
Jika dilihat secara kasat mata, sebetulnya tidak jauh beda dengan daerah lainnya, yakni berupa bukit-bukit batu gersang seperti yang banyak mengelilingi Kota Medinah. Hanya ketika kendaraan sampai di jalan raya di antara perbukitan tersebut, baru akan merasakan ada suatu keanehan.
–
Persneling Netral, Mobil ‘Didorong’ Menjauhi Jabal Magnet

Sebab jalan sepanjang sekitar 4 km di kawasan perbukitan ini diyakini memiliki daya dorong. Mobil akan berjalan dengan kecepatan tinggi menjauhi Jabal Magnet, meskipun persneling mobil dalam posisi netral.

Hal itu dirasakan saya dan jamaah lainnya, Saat bus yang kami tumpangi menuju arah selatan, pak Asep supir bus asal Indonesia ini mengaku kendaraan menjadi sangat berat meskipun medan jalan tidak begitu menanjak.

Makin lama bahkan ia terpaksa memindahkan persneling mobil ke posisi satu, karena kesulitan bergerak hingga kecepatannya hanya 15 hingga 20 km per jam. Padahal, dengan kondisi jalan yang tidak terlalu menanjak, seharusnya dengan persneling dua, taksi masih kuat.

Dengan laju yang berat itu, Pak Asep yakin ada pengaruh magnet yang menahan gerakan mobil. Sebaliknya, ketika mobil berbalik arah menuju Medinah, sopir yang sudah lebih enam tahun tinggal di kota ini mengaku saat mengemudi melaju dengan kecepatan tinggi, meskipun persneling dalam posisi netral. Namun demi keamanan demi menjaga keselamatan para jamaah, beliau menahan kendali laju. Kian lama kecepatan kendaraan makin tinggi. Bahkan, baru sekitar 3 km, kecepatan taksi ini sudah menunjukkan angka 120 km per jam.
–
Bisa Mencapai 120 Km per Jam 
tidak lupa mengabadikan moment dibalik bukit jabal magnet


Untuk membuktikan keanehan tersebut, Pak Asep meminta untuk bergantian menyetir kendaraan, namun kondisi yang kurang memungkinkan kami diberi kesempatan melihat speedometer yang bergerak cepat padahal masa dalam posisi netral, kecepatan mobil bisa sampai 120 km per jam.Ternyata benar, ini suatu keajaiban. Ini pasti ada daya dorong dari gunung tersebut.. Saat persneling dikembalikan ke posisi netral, perlahan-lahan mobil tersebut berhenti. Sebaliknya, saat pak Asep mencoba ke arah Madinah dengan posisi persneling netral, jarum kilometer mobil malah memutar sampai ke titik 120 km per jam. Para jamaah benar memperhatikan gerak-gerik kemudi pak Asep berkemudi dari kaki yang menginjak rem dan pengukur kecepatan yang direkam.

Memang medan jalan menuju Kota Medinah agak menurun, namun dengan kondisi demikian tidak wajar akselerasi mobil begitu cepat. Bahkan, sebetulnya laju kendaraan bisa lebih tinggi lagi, tapi pak Asep tidak berani lalu mengeremnya karena tidak mampu mengendalikannya.
–
Batas Area Jabal Magnet

Tidak ada batasan yang jelas, mulai dari mana jalan yang memiliki daya magnet itu. Tapi jika dirasakan, pengaruh magnet itu mulai bila kendaraan melaju dari bendungan air yang letaknya tak jauh dari putaran hingga bukit menjelang belokan ke Medinah. Setelah sekitar melaju lima km, kecepatan mobil mulai berkurang sedikit demi sedikit, padahal jalan masih menurun. Akhirnya, mobil memiliki kecepatan lambat saat berada di depan bendungan air.

Namun, dari sejumlah informasi yang berkembang di Medinah, menyebutkan, dulunya Jabal Magnet ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang Arab Baduy. Saat itu si Arab ini menghentikan mobilnya karena ingin buang air kecil. Namun karena sudah kebelet, ia mematikan mesin mobil, tapi tidak memasang rem tangan.

Ketika sedang enak-enaknya pipis, ia kaget bukan kepalang, mobilnya berjalan sendiri dan makin lama makin kencang. “Ia berusaha mengejar, tapi tentu saja tidak berhasil. Dan menurut kisahnya, mobilnya tersebut baru berhenti setelah melenceng ke tumpukan pasir di samping jalan,

Obyek Wisata Baru

Sejak itu, cerita tersebut menyebar ke berbagai pelosok dan ramai dikunjungi warga, baik dari Arab sendiri maupun dari negara lain. Bahkan menurut ceritanya, sebagian warga ada yang melakukan berbagai ritual agama di sana. Namun, karena di lokasi ini bukan merupakan tempat untuk melakukan ritual, pemerintah Arab Saudi melarangnya dan menjadikan kawasan ini sebagai objek wisata semata.

Untuk itu, pemerintah Arab Saudi sudah membangun jalan raya yang begitu lebar agar pengunjung bisa merasakan dorongan magnet ketika melaju dengan kendaraannya. Di bagian ujung dibuat jalan melingkar untuk putaran ketika pengaruh medan magnet sudah lemah.
Selain itu, di kedua sisi jalan sudah dibangun tenda-tenda untuk pengunjung dan sudah ditanam pohon-pohon agar kelihatan lebih hijau. Bahkan, di sebuah dataran yang berpasir, terdapat arena bermain mobil-mobilan untuk anak-anak. Kawasan ini juga sudah dilengkapi dengan sejumlah toilet untuk umum.

Jalan dari Kota Madinah menuju kawasan ini juga sudah lebar dan mulus, sehingga untuk sampai ke lokasi tidak sampai 45 menit dengan mobil kecil atau bus. Pemandangan di kedua sisi jalan menuju kawasan ini juga cukup indah dan menakjubkan. Sebelah kanan dan kiri jalan dikelilingi oleh gunung berbatu. Terdapat juga areal peternakan domba, unta, serta kebun kurma yang membuat gurun menjadi agak menghijau.

Menurut pak Asep, yang masih menggunakan satu tanganya untuk menyetir dan yang kiri memegang mikrofon. Beliau menuturkan keunikan hukum menabrak pohon dibanding menabrak tiang listrik penerang jalan. Jika menabrak lampu listrik dengan mengganti seharga tiang tersebut sekitar 2000 riyal, namun jika menabrak pohon harus mengganti sejumlah kubik air yang dihabiskan selama pertumbuhan pohon itu. Mengingat negara Arab dengan wilayah yang tandus dan gersang tentu akan sulit mengembangkan jenis pepohonan. Itupun dengan pohon jenis tertentu yang cocok dengan keadaan lahan di jazirah Arab.

Kini Jabal Magnet sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung untuk melihat dan merasakan adanya fenomena alam yang masih misterius. Bahkan, orang-orang dari negara asing saat berkunjung ke Medinah jarang yang melewatkan peristiwa langka ini.


Gunung Uhud

Jabal Uhud (gunung Uhud), adalah gunung batu berwarna kemerahan, tidaklah begitu besar, tingginya hanya 1.050 meter dan terpisah dari bukit-bukit lainnya. Berlokasi sekitar 5 kilometer sebelah utara kota Madinah.

Bentuk Jabal Uhud, seperti sekelompok gunung yang tidak bersambungan dengan gunung-gunung yang lain. Sementara umumnya bukit di Madinah, berbentuk sambung menyambung. Karena itulah, penduduk Madinah menyebutnya Jabal Uhud yang artinya ‘bukit menyendiri’.
Jabal Uhud selalu dilewati oleh jamaah yang masuk ke Madinah maupun yang menuju Makkah. Letaknya memang di pinggir jalan raya menuju kedua kota itu.
dipelataran jabal Uhud banyak pedagang, nah salah satunya topi yang saya pakai
 
jauh dibelkang para pedagang, distulah jabal uhud berada
Di bukit inilah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin melawan kaum musyrikin Mekah. Dalam pertempuran tersebut gugur 70 orang syuhada di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Kecintaan Rasulullah saw pada para syuhada Uhud, membuat beliau selalu menziarahinya hampir setiap tahun. Untuk itu, Jabal Uhud menjadi salah satu tempat penting untuk diziarahi.

Anas radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw memandang ke Uhud sambil bersabda,”Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang sangat mencintai kita, dan kita pun mencintainya.” (HR. Muslim : 1393).

Didepan makam syuhada uhud kami memanjatkan doa yang dipimpin oleh ustad Abdul Hakim. Kondisi makam tidak seperti makam di Indonesia dengan nisan marmer yang beraneka ragam, keseluruhan nampak kehijauan dan tiap makan terdapat gundukan. Pemandangan sangat berbeda ketika melihat dipemakaman umum Ma’ la atau Tsurayya dan makam syuhada Uhud. Semua makam rata dengan tanah, dengan nisan tanpa nama dengan ukuran yang sama dan sangat sederhana. Nah, inilah gambaran makam yang sesuai tuntunan Islam.

Disunnahkan ketika berziarah ke Jabal Uhud ini kita member salam kepada para suhada Uhud serta mendoakannya. Sebelum dibangun jalan baru yang menghubungkan Kota Makkah dan Madinah oleh pemerintah Kerajaan Saudi, Jabal Uhud selalu dilewati oleh jamaah yang hendak menuju Madinah maupun yang menuju Makkah. Letaknya memang di pinggir jalan raya menuju kedua kota itu.
Namun, sejak tahun 1984, perjalanan jamaah haji dari Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah, tidak lagi melalui jalan lama tersebut. Melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir jabal.

Sejarah Jabal Uhud

Di kawasan Uhud itu, pertempuran spiritual dan politik dalam arti sebenarnya memang terjadi. Ketika itu, pasukan diberi pilihan antara kesetiaan pada agama dan kecintaan pada harta. Melihat lokasi dan kawasan perbukitan yang mengelilinginya, maka orang bisa membayangkan bagaimana sulitnya medan perang ketika itu.

Perang di kawasan Uhud, bermula dari keinginan balas dendam kaum kafir Quraisy seusai kekalahan mereka dalam Perang Badar. Mereka berencana menyerbu umat Islam yang ada di Madinah. Peristiwanya terjadi pada 15 Syawal 3 H, atau sekitar bulan Maret 625.

Menghadapi rencana penyerbuan tersebut, Rasulullah saw memerintahkan barisan pasukan Muslimin menyongsong kaum kafir itu di luar Kota Madinah. Strategi pun disusun. Sebanyak 50 pasukan pemanah, oleh Rasulullah saw yang memimpin langsung pasukannya, ditempatkan di atas Jabal Uhud. Mereka diperintahkan menunggu di bukit tersebut, untuk melakukan serangan apabila kaum Quraisy menyerbu, terutama pasukan berkudanya. Sedangkan pasukan lainnya, menunggu di celah bukit.

Maka, perang antara pasukan kaum Muslimin yang berjumlah 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah yang berjumlah 3.000 orang, akhirnya berkobar. Dalam perang dahsyat itu pasukan Muslimin sebenarnya sudah memperoleh kemenangan yang gemilang.

Namun, kemenangan tersebut berbalik menjadi kisah pilu, karena pasukan pemanah kaum Muslimin yang tadinya ditempatkan di Bukit Uhud, tergiur barang-barang kaum musyrikin yang sebelumnya sempat melarikan diri. Melihat kaum musyrikin melarikan diri dan barang bawaannya tergeletak di lembah Uhud, pasukan pemanah meninggalkan posnya dengan menuruni bukit. Padahal, sebelumnya Rasulullah saw telah menginstruksikan agar tidak meninggalkan Bukit Uhud, walau apa pun yang terjadi.

Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh panglima kaum musyrikin, Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) untuk menggerakkan kembali tentaranya guna menyerang umat Islam. Khalid bin Walid ini, sebelumnya memang digambarkan sebagai seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda.

Akibat serangan balik tersebut, umat Islam mengalami kekalahan tidak sedikit. Sebanyak 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Termasuk paman Rasulullah saw, Hamzah bin Abdul Muthalib. Rasulullah saw sangat bersedih atas kematian pamannya tersebut.

Kematian paman Rasulullah saw ini, akibat ulah Hindun binti Utbah, istri seoran kaum musyrikin, yang mengupah Wahsyi Alhabsyi, seorang budak, untuk membunuh Hamzah. Tindakan balas dendam dilakukan Hindun, karena ayahnya dibunuh oleh Hamzah dalam Perang Badar. Wahsyi dijanjikan akan mendapat kemerdekaan bila dapat membunuh Hamzah dalam peperangan ini.

Dalam pertempuran itu, Rasulullah saw juga mengalami luka-luka yang cukup parah. Bahkan, sahabat-sahabatnya yang menjadi perisai pelindung Rasulullah saw, gugur dengan tubuh dipenuhi anak panah.

Setelah perang usai dan kaum musyrikin mengundurkan diri kembali ke Makkah, Nabi Muhammad saw memerintahkan agar para sahabatnya yang gugur dimakamkan di tempat mereka roboh, sehingga ada satu liang kubur untuk memakamkan beberapa syuhada. Jenazah para syuhada Uhud ini, akhirnya dimakamkan dekat lokasi perang serta dishalatkan satu per satu sebelum dikuburkan.
Adapun Sayidina Hamzah bin Abdul Muthalib, dishalatkan sebanyak 70 kali. Beliau pun dimakamkan menjadi satu dengan Abdullah bin Jahsyi (sepupu Nabi Muhammad saw) di lokasi 
terpisah dengan lokasi para syuhada yang lain.

Kini, jika kita datang ke lokasi tersebut, kompleks pemakaman itu akan terlihat sangat sederhana, hanya dikelilingi pagar setinggi 1,75 meter. Dari luar hanya ada jeruji, sehingga jamaah bisa melongok sedikit ke dalam. Bahkan, di dalam areal permakaman yang dikelilingi pagar itu, tidak ada tanda-tanda khusus seperti batu nisan, yang menandakan ada makam di sana.

Namun demikian, ziarah ke Jabal Uhud telah menjadi menu penting bagi segenap jamaah haji atau umrah, ketika berada di Kota Suci Madinah. Dari manapun mereka berasal, mereka bisanya akan berusaha berziarah ke kompleks makam tersebut.

Seperti yang dikisahkan, lantaran kecintaan Rasulullah saw kepada para syuhada Uhud, beliau senantiasa berziarah ke Jabal Uhud hampir setiap tahun. Langkah beliau kemudian juga diikuti oleh beberapa sahabat sesudah Rasulullah saw wafat. Bahkan, dikisahkan bahwa Umar dan Abubakar, juga selalu mengingatkan Rasul jika perjalanannya telah mendekati Uhud.

Rasulullah saw bersabda,”Mereka yang dimakamkan di Uhud tak memperoleh tempat lain kecuali ruhnya berada did alam burung hijau yang melintasi sungai Surgawi. Burung itu memakan makanan dari taman surga, dan tak pernah kehabisan makanan. Pada syuhada itu berkata siapa yang akan menceritakan kondisi kami kepada saudara kami bahwa kami sudah berada di surga.”

Maka Allah SWT berfirman ,” Aku yang akan memberi kabar kepada mereka.” Maka dari situ kemudian turun ayat yang berbunyi,” Dan janganlah mengira bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah SWT itu meninggal (Qs 3:169)

Hingga kini, Jabal Uhud menjadi tempat penting untuk diziarahi oleh para jamaah haji. Di tempat ini, biasanya banyak mutawwif yang memandu memimpin doa. Di dalam buku panduan haji sendiri telah dicantumkan doa ketika ziarah ke Bukit Uhud. Biasanya di tempat ini panas amat terik. Ada yang menganjurkan berziarah ke Uhud pada hari Kamis dan Jumat sebagaimana Rasulullah saw melakukan.

Masjid Qiblatain

Kami memang tidak sempat untuk melihat kedalam masjid, dari dalam bus yang berkaca bening kami melihat menara-menara masjid Qiblatain yang elegan.
Masjid Qiblatain termasuk salah satu masjid yang menjadi tonggak sejarah syiar Islam. Di masjid inilah Nabi Muhammad Saw menerima wahyu untuk mengubah arah kiblat shalat, dari Baitul Maqdis di Yerussalem (Palestina) ke Baitullah di Masjidilharam (Mekah).
 
masjid Qiblatain
Masjid ini berjarak sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi, di tepi jalan ke jurusan Wadi Aqiq, di atas bukit kecil di utara Harrah, Madinah. Semula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.
Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab, Rasulullah berkunjung ke perkampungan Harrah untuk sekadar bersilaturrahmi dengan warga Muslim di sana. Ketika memasuki waktu Dhuhur, 
Rasulullah melaksanakan shalat di Masjid Salamah ini.

Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah Saw menghadap ke arah Masjidil Aqsa. Namun, pada rakaat kedua Rasulullah mendapat wahyu (Al-Baqarah: 144) untuk mengubah arah kiblat tersebut. Setelah turun ayat tersebut, Rasulullah pun menghentikan sementara shalatnya, kemudian meneruskan kembali dengan menghadap ke Masjidilharam di kota Mekah.

Adapun wahyu yang diturunkan Allah untuk mengubah arah kiblat tersebut: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Albaqarah: 144).

Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini (Masjid Bani Salamah) dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.

Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran di antaranya pada tahun 893 H atau 1543 M oleh Sultan Sulaiman. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sekarang juga mengadakan perluasan dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri kas masjid tersebut.

Masjid Quba

Alhamdulillah di Masjid Quba ini, saya beserta rombongan menyempatkan diri untuk tahiyatul masjid. Dengan waktu yang tak lama, namun kami sanggup menempuh dan bersholat dengan khusuk. Perjumpaan dengan rumah Allah yang lain yang mengharukan sekaligus membahagiakan.

Masjid Quba adalah masjid yang mempunyai nilai historikal yang paling tinggi. Karena, Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah saw. pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba. Quba adalah suatu tempat pinggiran kota Madinah atau berjarak sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah. Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa masjid Quba adalah mesjid yang dibangun atas dasar takwa (Surat At Taubah:108).
 
di halaman masjid Quba
Nabi Muhammad memulai dengan membangun masjid Quba dan kemudian masjid Nabawi, mempersatukan muslimin pribumi (Anshar) dan pendatang (Muhajirin), mempersatukan seluruh masyarakat Yatsrib, membangun pakta pertahanan bersama dan mempertahan diri dari serangan kafir Quraisy melalui jihad perang—yang akhirnya terbangun peradaban baru, maka kita, umat muslimin, setidaknya juga bisa “hijrah” dan membagun peradaban baru dengan meninggalkan kondisi yang negatif kepada yang positif, dari yang mungkar kepada yang makruf, dan dari yang makruf kepada yang lebih makruf.

Sejarah

Allah s.w.t memuji masjid ini dan orang yang mendirikan sembahyang di dalamnya dari kalangan penduduk Quba’ dengan Firman-Nya: Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri…….(At Taubah, 108).

Masjid ini telah beberapa kali mengalami renovasi. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid ini. Sakarang renovasi masjid ini ditangani oleh keluarga Saud. Mengutip buku berjudul Sejarah Madinah Munawarah yang ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani, masjid Quba ini telah direnovasi dan diperluas pada masa Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986. Renovasi dan peluasan ini menelan biaya sebesar 90 juta riyal yang membuat masjid ini memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah.

Masjid Ideal


Meskipun sangat sederhana, masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk dari pada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya.

Di sebelah utara dibuat serambi untuk tempat sembahyang yang bertiang pohon korma, beratap datar dari pelepah dan daun korma, bercampurkan tanah liat. Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu, mengambil air sembahyang. Kebersihan terjaga, cahaya matahari dan udara dapat masuk dengan leluasa.

Masjid ini memiliki 19 pintu. Dari 19 pintu itu terdapat tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama mesjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Keutamaan :
Beberapa hadist mengatakan bila shalat sunah di masjid ini setelah mendekati tengah hari maka pahalanya sama dengan pahala berhaji umrah satu kali
Panduan di masjid Quba
  • Saat akan memasuki bagian dalam masjid, sebaiknya memperhatikan petunjuk di dinding luar masjid. Itu adalah penunjuk pintu masuk yang dikhususkan bagi jamaah laki-laki atau perempuan. Akan terpampang pada sebuah plakat yang ditempelkan ke dinding pintu masuk untuk jamaah laki-laki maupun perempuan.
  • Tidak diperbolehkan mengambil gambar didalam masjid.



Masjid Quba dari kejauhan, beserta penjula tasbih yang dijual dengan harga rupiah