Thursday, 26 October 2017

Merawat Usia Senja

Merawat Usia Senja

Emak dan bapa adalah cerminanku di masa depan. Bagaimana memperlakukan buah hati akan berbuah di masa tua kelak. Tidak sedikit orangtua yang dimasa senja sebatang kara, berteman sunyi dan hampa. Dan menjadi saksi teman hidup diusianya yang renta itu luar biasa. Raganya sehat, tapi kekuatannya melemah seiring dimakan usia. Tangan kanan bapa tak sanggup berlama-lama diajak bekerja, termasuk menimang cucu. Kakinya tak lincah lagi naik pohon kelapa. Begitu pula emak, batuk menggerogoti tubuhnya menjadi kian ceking. Belum yang lain, yang tak bisa disebutkan satu persatu. Keriput kulitnya itu pasti, namun semangat ibadah tak mengenal keriput. Yang ada terus mengencangkan amalan sholeh, "nggo sangu mati" ujar beliau.

Terpisah jarak dengan orang dikasihi,  misalkan anak dengan orangtua atau suami yang terpisah dengan istri karena kondisi tertentu. Hidup berumah tangga yang masih hidup dengan orang tua atau mertua, terkadang kabarnya lebih semerbak wangi dibanding yang setiap hari ada. Padahal orang terdekatlah yang paling ada untuk dimintai bantuan dan yang membantu. Sayangnya, kebanyakan manusia lebih sering mengingat keburukan yang pernah diperbuat dibanding kebaikannya. Istilah jawa mengatakan 'cedhak mambu tai, adoh mambu melati'. Ya sebagai orang tua banyak yang ingin tidak menyusahkan anak. Namun kebalikan, disusahkan anak adalah suatu kesenangan. Pada kenyataannya merawat di usia senja itu ujian.

Semakian senja tingkah orang tua semakin unik. Kadang kembali bertingkah bocah dengan tubuh yang tak wangi bak bayi lagi. Latar belakang masalalu mempengaruhi tingkah manula sekarang.  Jika diberi umur panjang, mungkin aku pun demikian. Yang dipinta menjadi manula mandiri dan tidak menyusahkan anak, hingga kembali ke pangkuanNya pun diberi kemudahan.  Ya, aku masih mempunyai pekerjaan rumah yang sangat panjang, buah hatiku Mika, bekal masa depanku.

Merumuskan masa tua tidak semua jalan yang ditempuh antara satu dengan yang lain sama. Ada semboyan nyeleneh 'muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga' Hugh! Ngarep hampir sebagian orang memang kedengarannya enak. Pada nyatanya, merangkak diusia senja itu sama seperti mesin tua, yang perlu banyak perbaikan, istirahat. Kadang masih bisa diberdayakan, kadang tidak. Atau bisa jadi menjadi barang antik yang sebagai 'pajangan'. Meski tidak diharapkan tapi ketakutan menjadi kembang kasur kerap terjadi. Dan pada akhirnya, yang diminta hanya kematian dengan khusnul khotimah itu menjadi bagian penting.

Walaupun bukan patokan sebuah kesuksesan, pada umumnya orang kampung menggambarkan kesuksesan merantau dilihat dari rumah yang direhab dan berlantai keramik. Seperti kemarin, di pagi yang sendu sengaja berkeliling kampung. Aku sebut berziarah menjelajahi tempat-tempat yang dulu pernah singgahi.

Dari percakapan dengan ibu tua itu hampir sama seperti ibu yang lain. Kursi tua dan lemari kaca kuno masih dengan tatanan yang dulu. Lantai semen berdebu menjadi alas menapak tiap hari. "Di masa tua, meskipun beranak banyak, tetap saja nanti mereka memilih hidup dijalannya dan meninggalkan orangtua yang sudah melahirkan dan merawatnya hingga besar". Di sinilah aku banyak merenung, kepada pasangan lah akan merajut masa tua dengan nyaman. Tidak merasa terbebani meski dengan anak kandung sendiri, walau nyatanya tidak demikian. Kemudian., bapa tua juga menuturkan "Kaki ketiga berupa tongkat, "bentong"  orang kami menyebutnya lebih setia dibanding cucu atau anak. Anak atau cucu hanya kapan-kapan jika ada keinginan, sementara tongkat bisa digunakan kapanpun" bapa tua menimpali. Mereka menjalani masa tua dengan kegiatan pelan, semacam kesibukan iseng. Hanya berdua, sepasang suami istri, teman hidup, teman berbagi. Ya, anak yang dikandung, dilahirkan dan dibesarkan kemudian pergi. Sadar, terlahir sendiri dan kelak pulang juga sendiri. Pula anak adalah harta titipan. Seperti kematian siap atau tidak itu pasti terjadi.

Wujud berbakti seorang anak terhadap orangtua tidak semua sama. Mungkin untuk urusan uluran materi kurang, tapi hadiah yang melambung ke langit menerus untuk keduanya.  Semestinya bekal yang kekal bukan hanya urusan materi, melainkan soal akherat yang akan dipertanggung jawabkan kelak. Dan bentuk kebanggaan dan sukses yang sesungguhnya ketika berhasil mendidiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Emak bapa menjadi panutan sebagai ortu

Kumpul lebaran bersama keluarga besar 

Emak, diusia senja badannya tidak bisa diam

Bapa, terus aktif diorganisasi dan menjadi anggota aktif tertua

Wednesday, 25 October 2017

Tumbuh Kembang Mika Anakku

Mika Anakku,

Belum genap usiamu 100 hari, namun hari-hari bersamamu mama merasa menjadi wanita sempurna. Mengandungmu, mengeluarkanmu dari jalan lahir, menyusuimu dan merawatmu seutuhnya 24 jam penuh.

Mama tidak sepenuhnya tidur saat kau terjaga. Kekuatan cinta dan kasih sayang Allah lah yang membawa raga ini kuat. Dan kamu tahu, nak? Justru disaat kau menjelang terlelap dan saat lelap, sejuta ekspresi milyaran kejutan. Meluluhkan rasa capek dan mengurai kesedihan. Senyummu mampu menghancurkan rasa letih, lunglai raga ini, yang belum terbiasa dengan perubahan-perubahan yang pesat.

Bonus ee tengah malam, sering terjadi. Diemban sambil menyusui dan makan pun tak jarang lagi. Belum lagi bonus dipipisi padahal baju baru ganti, haha itu sudah biasa. Pundak mama setiap hari terlatih seperti belajar mengangkat besi. Bobotmu kian hari kian bertambah.

Dan heibatnya kamu nak, sosok yang pantang menyerah. Ketika teman seusiamu belum bisa tengkureb, kamu sudah perlahan mencoba dan beberapa kali berhasil.

Akan ada banyak kejutan-kejutan lain yang luar biasa. Dan mama menanti dan tidak berhenti berdoa untuk kesehatanmu, nak. Begitu juga untuk papah.

Menjadi anak yang sholehah adalah harapan terpenting buat orang tua. Kelak suaramu merdu seperti papah, dan bakat menulismu seperti mamah serta rupamu yang ayu perpaduan mamah papah.

*****

Mika anakku,

Sesekali bola mata indahmu melirik saat tengah terjaga. Kau jadi detektor mungil keberadaan sang mamah. Mamah tahu, tidak sepenuhnya menjaga saat terlelap, terlebih saat bobo pagi dan siang. Mamah harus pandai mencuri-curi waktu untuk berbenah rumah. Saat mamah tak disampingmu, kamu bangun dengan tangisan. Sementara jika mamah ada disampingmu, kamu melirik manja dan tertidur kembali. Namun terkadang terbelalak dengan mata berbinar dipoles senyum melebar. Masya Allah, mika lucu dan menggemaskan.

Diusiamu yang melewati tri semester awal sudah menghujani warna hidup mamah. Tubuhmu kian gempal, senyum dan gelak tawamu makin renyah, lagi menyusumu kian kuat. Dan baju-bajumu cepat sekali harus beli baru. Ah, itu tugas papah, nak

Cinta Allah dan semesta lah yang membawa mamah kuat merawatmu. Ditengah mamah terserang radang penyumbatan kelenjar ASI, Mika tetap sehat , bobot tubuhmu makin padat.  Penawar itu saat kau memasang sebaris senyum dengan mata berbinar saat terbangun. Itu lebih dari obat, nak  πŸ˜Dan mamah pun selaku kuat untuk menjadi pelindungmu lebih dari 24 jam penuh.

Mika sayang, sekarang keberadaanmu bukan hanya penawar mamah papah, tapi ada mbah uti dan mbah kakung disampingmu tiap hari. Bahkan kemarin sore celoteh lucu itu memanggil "mbah" dengan lantang. Sementara mamah belum disebut dari bibir tipismu.
Kamu tahu nak, diam-diam beliau menyebutmu dalam doa.

Begitupun mamah dan papah. Sehat selalu Mika anakku, mbah uti dan mbah kakung, semoga kasih sayang Allah selalu melingkari keluarga kami.

*********

Terimakasih "Pilot Projec"ku

Gelak tawa renyah kini sudah terdengar menghiasi ruang-ruang rumah. Ada banyak kegembiraan yang mengisi jiwa-jiwa yang sepi. Keajaiban demi keajaiban terus bergulir seiring berjalanya waktu. Dari proses ada manusia di dalam manusia, hingga menyaksikan pertumbuhan bocah mungil.

Setelah seperempat abad lamanya tangis tawa bayi dari anak bungsu emak, kini cucu ke-17 hadir diantara mereka. Kehadiranya menghempas sepi, mengukir canda. Ada keisengan baru mengisi hari-hari. Ada yang dinanti, ditimang, bikin geregetan, dirindukan namun didepan mata.

Serba pertama, diantaranya memandikan bayi yang tadinya tenang, sekarang sudah menendang-nendang keras kecipak-kecipuk membuat lantai becek. Bisa jadi tendanganya seperti dalam kandungan  πŸ˜€Hingga lebih dari sebulan, mamah tak berani memotong kuku lembutnya. Ketakutan kerap  menghantui pikiran. Sangat hati-hati, itu yang dilakukan, meski pernah tergores kulit arinya oleh pemotong kuku. Dan itu harus dilakukan demi menjaga kebersihan.  Termasuk mengenakan baju yang sedikit menyulitkan, ingin hati mendandani gadis imut. Perlahan baju perempuanku dikenakan cantik.

Keajaiban itu bernama Mika, anak pertamaku. Aku menyebutnya "pilot projec", dimana sebagai orangtua baru banyak belajar darinya. 40 hari pertama yang menguras emosi, mental, jiwa dan raga. Hampir lebih dari 100 hari begadang, dimulai dari pipis, lapar atau pun hanya menatap nanar. Ada titipan Allah yang harus dirawat. Ada panik saat napasnya yang sering tersumbat, ada resah saat jadwal imunisasi tiba yang membuat demam. Ah, anak pertama :-* Dan dari saran-saran ibu pengalaman ditampung. Merepotkan yang membawa nikmat. Lebih dari syukur bahwa Allah telah menunjukan kekuasaanya dengan ciptaan yang sesempurna itu.

Kelak, Mika menjadi bahan pembanding untuk adik-adiknya. Menjadi contoh pengalaman berbagi. Menjadi anak tertua dalam rumah, anak pertama yang membawa kebahagiaan melangit-langit. Dan selamat, hampir perlengkapan bayi semua baru. Lalu, adikmu mengenakan baju mu yang bekas. Mika, sehat selalu, nak. Temani mamah, papah hingga tua nanti 😍😍

******

Mika Anakku

Kelak, besar nanti pendidikanmu harus lebih tinggi dibanding orangtuamu. Tantangan hidup ke depan jauh lebih gila dibanding hari ini. Tekhnologi semakin gencar dan canggih, nantinya mau tidak mau merambah mendekat dan mengikuti. Hanya kewarasan yang sebenar-benarnya waras dapat menalari.

Bukan hanya masalah tekhnologi, namun kekhawatiran orang tuamu ini adalah tentang menjaga akhlak. Apapun gelarmu nanti, tindak tanduk yang sopan, jiwa yang bersih, lisan yang tidak menyakiti dan langkah kaki yang tidak meleset ke arah dholim itu harus dijaga dan dimiliki.

Mika tahu,
banyak yang tersakiti karena lisan yang tak bertulang. Sedang hati yang rempa membawa perasaan yang tak karuan. Diam yang wajar atau sesekali pergi piknik menghilangkan penat. Jika pun belum ampuh, mungkin ada yang harus diperbaiki, terutama amalan stholat.

Esok, jika mengikuti hobi menaiki gunung atau bermain musik seperti papah tak apa. Mamah tidak mempermasalahkan soal gender dalam hal ini. Kenyamanan dan aturan main wajib diketahui dan diikuti.  Tak sekedar paham kodratnya menjadi wanita, apalagi keinginan hampir setiap muslimah bergelar 'sholihah'. Mmmh, minimal mengamalkan menjadi sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.

Mika Mika Mika 😍😍😍😍😘😘😘😘😘












Usai Jihad Perjuangan Bersalin

Usai Jihad

Pukul 13.47 air mengalir dari jalan lahir tanpa kendali meski sudah berusaha ditahan. Kaget rasanya dan terus mencoba menenangkan diri. Sebab ketidak tahuan, aku mencoba berkonsultasi dengan bidan terdekat via ponsel. Beliau menyarankan untuk mendatanginya agar bisa memantau dan memeriksa keadaan berikutnya, lagi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

"Ketuban pecah" ujarnya usai fiti. Ini istilah menengok kondisi didalam jalan lahir dengan jemari yang dilapisi antiseptik dan sarung tangan higienis. Awalnya kegiatan ini hanya dilakukan ketika ayam yang hendak bertelur. Jika istilah di lingkungan kami di 'cendol' 😬 Sakit? 😯 ya itu bagian dari sebuah nikmat πŸ˜†.

Pembukaan satu baru seukuran 1 cm, seiring berjalan waktu terus menggeliat yang ada di rahim. Sesekali hanya satu menit angin putih beliung itu hinggap diperut bawah. Dan seakan ada bara api dipunggung bawah. Semakin larut rasa yang sama semakin rapat. Mencengkram, dahsyat, nikmat πŸ˜‚ tak boleh sedetikpun suamiku berhenti mengelus-elus punggungku. Sesekali matanya terpejam menahan kantuk yang berat, aku membangunkannya dengan sedikit rengekan. Maklum saja, malam hampir menanggalkan gelapnya. Murottal tiada henti memanjatkan ayat-ayat suci selama kontraksi berlangsung. Termasuk bibir ini yang terus beristighfar dan berdzikir semampu jiwa raga.

Pukul 03.00 WIB dini hari, dengan mempertimbangkan keadaan yang tidak memungkinkan hanya ditolong tenaga bidan, aku dilarikan ke RS. Allam Medika. Sudah berbagai sugesti bidan 3 anak itu memberi masukan. Namun usahanya belum maksimal aku wujudnya. Aku kurang power untuk mengejan, sementara baby kontraksi bayi tidak begitu panjang dan berhenti.  Keputusan vacum dengan gerak cepat ditanda tangani dan dikerjakan. Ya, dengan segala konsekwensinya,  billah wa lillah perjuangan menjadi ibu.

Proses persalinan yang menguras tenaga dan menguras rasa penasaran sesuai obrolan orang-orang. Beda persalinan beda cerita dengan beda kronologi yang pada akhirnya berbuntut kebahagiaan usai kepala itu keluar dari jalan lahir. Betapa bahagianya saat pukul 04.15 bayi itu dapat melihat dunia, aku dihujani ciuman dikening oleh suami. Sementara tangan kiriku terus menggenggam, meremas tangannya hingga usai persalinan berlangsung. Beruntunganya aku didampingi suami siaga dari awal persalinan hingga selesai. Saat nikmat itu menghamtam beberapa kali aku menjambak rambut ombaknya, meremas lengannya yang hitam, memarahinya. Rasanya ingin menangis saja, namun tangis itu hanya sesaat. Tak ingin mengurangi tenaga gegara reaksi tangis yang memang lumrah ketika menahan lara. Tegas, suamiku melarang menangis πŸ˜„

Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Sambutan bahagia menyeringai dari sekitar bahkan alam pun ikut menyambut kebahagiaan itu. Bayi perempuan dengan berat 3,1 kg dan panjang 50 cm melihat dunia dengan jerit tangis yang kencang. Badannya berlumur darah langsung diringkus suster untuk dibersihi. Dan di pagi yang belum sepenuhnya terang, emak menengokku yang sedang terkulai lemah di atas bangsal persalinan yang masih bersimbah darah. Aku mengusap wajah keriput emak, matanya berkaca-kaca. Yang ada dibenakku adalah beliau adalah wanita tua yang heibat. Melahirkan 8 anak tanpa tersentuh tenaga medis dan hanya 1 anak yang menggunakan jasa tenaga medis. Aku menjadi anak pertama pasca melahir di rumah emak. Hampir semua cucu emak lahir diranah rantau bersama suami. Kebetulan, aku menikah dengan suami yang hanya berbeda RT saja. Begitu juga mama mertua yang single parent sejak hampir 3 tahun lalu, raga kuatnya tak henti membantu mengurus bayi cantik kami usai seharian berdagang. Bahkan hingga saat ini rela matanya tak terpejam saat rengek tangis bayi pecah.

Rupa bayiku perpaduan dari kami. Hidung besarnya diwarisi oleh papahnya, sedang kulit bersihnya dariku. Sementara lesung pipi dikedua sisi saat mengurai senyum dari kami berdua 😘😘 Ah, perpaduan yang cantik. Ohya, lentik jemarinya yang runcing diwarisi oleh mbah dari mama mertua. Lucu dan sangat menggemaskan, bukan 😘😘 Kalau pun ada kelebihan itu bagian dari bonus dan kekurangan itu pelajaran untuk memperbaiki seiring tumbuh kembang buah hati, ya wajar ☺ tidak ada kesempurnaan, yang sempurna milik Allah SWT.

Jihad itu baru awal perjuangan. Terimakasih Nak, sudah sama-sama memperjuangkan untuk hidup. Kamu adalah satu dari banyak proses yang berhasil tembus.

Hamil jalan 8 bulan

Naik 18 kg dari 40 kg BB asal

Tampak dari samping, pakai T shirt suami kekecilan πŸ˜€


Beberapa menit pasca keluar dari jalan lahir

Qismika Misha Shafana, namanya pemberian nama papah 

Mika masih dalam box karena efek sisa fakum belum hilang

Sehari pasca bersalin, perut masih sedikit besarπŸ˜€

Mika usia hitungan hari, 4 hari







Nano-nano Jakarta

Nano-nano Jakarta

Yuuhuuu, welcom blogger amatir.
Ini sudah lebih dari 12 bulan gak ngutak-ngatik blog. Sebenarnya banyak yang ingin dituangkan. Berhubung kesibukan menjadi ibu rumah tangga yang baru melahirkan 7 bulan yang lalu. Jakarta, kini aku kembali. Mungkin ini tidak lama. Awalnya memang keegoisanku untuk ikut satu atap dengan suami. Sudah berulang, emak, mama juga suami berkata, "Jakarta panas" tapi tidak menyurutkan niatku untuk hidup bersama. Ini pelajaran berharga bagi pemula yang mengarungi bahtera rumah tangga. Hmm, cintav ini bagian dari perjalanan kita. Suatu saat nanti kita pulang, pulang ke kampung dan membangun rumah sederhana penuh berkah. Dan, tentu kita hidup dalam satu atap, aku, suamiku, Qismika dan adik-adiknya kelak.

Sampai mendekati sebulan,  tak seperti sembilan bulan yang lalu.  Kutinggalkan Jakarta saat hamil besar dan pasca persalinan.  Ada yang berbeda dari sebelumnya.  Dangdut gerobak dorong yang biasanya wara-wiri dengan gonta-ganti personil. Tiga empat gerobak bisa melintasi jalan kampung Rawa Sawah juga jalan Paris-Baladewa, kini sepi. Jika malam Minggu tiba,  dangdut dorong bisa sampai larut malam.

Menyoal suhu panas di Jakarta,  sangat aku rasakan sekarang.  Bisa saja google mengukur suhu hari ini 30 derajat,  tapi rasanya bisa 34 derajat.  Suer terkewer-kewer, dulu waktu perubahan hormonal sebab aku hamil, mudah sekali berkeringat rasa gerah cepat sekali hinggap. Tetapi,  sekarang bahkan kondisi tidak hamil pun panasnya melibihi waktu hamil.  Istilah jawa menyebutkan, sumuk,  ngelekeb. Seperti akan hujan tapi tak hujan 😬 Dan hampir-hampir anak yang baru merasakan panasnya Jakarta terkena biang keringat. Adanya ruam memerah di kepala,  leher,  dada,  punggung,  seperti yang dialami bayiku (jalan 7bulan), Tetangga kontrakan anak 3 tahun dll.

Mungkin panas yang menyengat itu yang membuat dangdut dorong enggan menarik umpan tutun ke jalan.  Ini hanya perkiraanku saja.  Dengan mendorong gerobag berisi salon besar dan organ tentu memerlukan energi yang banyak.  Jarak tempuh yang berkilo dengan terik matahari yang menyengat disertai kabut polusi,  rasanya menambah berat melangkah.

Entah itu kabar baik atau tidak sebenarnya. Semoga para seniman dangdut itu kini sudah mempunyai pekerjaan yang lebih baik.  Kabar baiknya,  iringan ondel-ondel beserta musik khas betawi masih eksis menyusuri jalan setiap hari. Ini pengenalan budaya sekaligus hiburan murah untuk warga.  Pagi dan sore ada saja yang melintas.  Dengan ember bekas wadah cat, salah seorang dari grup ondel-ondel menyusuri warga yang menonton, berharap ada uang receh yang dibagi.

Kemudian, kaget menghampiriku saat melihat tembok tebal penghalang di jembatan. Ini memang tidak mirip tembok Berlin atau tembok yang ada di Korsel.  Tembok ini ada 2, saling  menutup jalan untuk kedua kampung. Keduanya tepat berdiri kokoh diujung kanan kiri jembatan.  Menurut penuturan seorang warga, untuk menghadang sekaligus mencegah terjadinya tawuran antar pemuda.  Dan benar saja,  sejak kembali ke ibu kota biasanya seminggu bisa 2 kali tawuran warga, kini sudah menjauh. Dimulai dengan mercon yang ditembak ke langit,  kedua kubu saling lempar. Nah,  disitulah emosi darah muda tertumpahkan.  Mhhh.kalau pun ada cekcok perorangan atau sekedar ocehan ibu-ibu yang menanggapi orang gila 😜

Panas ya panas,  cukup panas secara fisik saja yang hinggap. Tak sampai lah untuk menyelami.  Cukup tahu saja mereka menggunakan bahasa betawi yang nyablak dan sering menggunakan istilah kotor.  Cukup diam saja jika melihat ketidak warasan yang ada disekitar.  Toh,  masih ada adzan berkumandang di tiap masjid 5 waktu,  ada pengajian rutin yang diselenggarakan,  ada santunan anak yatim. Sebuah simbol dan tanda masih tetap adem meski kegaduhan didepan mata. Yakin,  bahwa sebenarnya sepanas-panasnya keadaan akan adem tatkala hati selalu berdekatan terus dengan pencipta hati.


Jembatan terhalang tembok dari arah Paris

Jembatan terhalang tembok dari arah Kampung Rawa

Suasana Jakarta saat terik dari lantai 3 kontrakan sepetak



Thursday, 4 August 2016

Jendela Lantai Tiga

Jendela Lantai Tiga

Sore yang muram membawaku larut dengan perasaan sendiri. Entah ini pengaruh raga ini yang lelah baru tiba dari kampung halaman atau suasana yang mengajakku bergabung. Tangis itu sudah pecah saat menginjak lantai tiga kontrakan yang sangat minimalis. Ada fasilitas kipas angin hitam telanjang yang sangar tanpa pengatur. Sekotak kamar berlangit-langit asbes ukuran 2,5 x 2 meter dengan kamar mandi di luar. Baru setengah purnama aku menapaki dunia yang disebut rumah tangga. Memutuskan menjadi makmum dari imam yang memutuskan tuk hidup seatap 24 jam 7 hari, ini adalah keputusan hebat yang aku pilih menurutku. Ruang kerjaku sangat nyaman dengan gaji yang cukup dan kini aku tanggalkan, termasuk sahabat-sahabatku yang sering bersenang-senang bareng. Sekarang benar-benar yang orang bilang menempuh hidup baru. Seperti dinegeri antah berantah saat berada lingkungan baru.

Semburat senja memancar cerah dari balik rumah-rumah dan gedung tinggi. Tak ada halaman untuk berlarian para bocah, yang ada pemandangan dinding-dinding triplek, atap asbes dan gang-gang sempit yang dipenuhi rumah warga beserta kendaraan roda dua. Rasanya harus belajar lebih banyak bersyukur. Tak elok memandang terus ke bawah sementara tak mungkin dikatakan meninggi jika bukan tidak ada pembanding bawah. Tak berarti melemah, memandang ke bawah sering membawa hati yang tenang. Becermin dari yang bawah diri ini lebih baik dari segi sudut mata. Tembokku keras dari semen, bukan dari papan atau seng berkarat. Ada dua jendela pelenyap pengap, ada banyak sirkulasi udara meski ibu kota panas. Kami mengontrak perbulan dengan harga setengah juta, ini tak apa juga dari pada menyicil dengan cara riba.

Dua malam ini menghabiskan satu dua jam di pasar. Malam pertama dikosan tanpa sehelai barang bawaan pun, kecuali tas travel dan rangsel dari kampung halaman. Pasar Jihong, untuk pertama kalinya aku kesana. Pertama yang dituju adalah kasur dan almari. Sepanjang jalan di Pasar Jihong lebih banyak yang jualan baju-baju yang kekinian, baik yang didalam toko atau di emperan, ada barang elektronik disana. Tapi kami belum butuh 😊 Tangan kami tak lepas bergandengan tangan, kami melepas jemari saat di depan eceran kelontong gerabah yang digelar di atas tikar. Ember, gantungan, gelas, sendok, garpu masing-masing 2 biji dan barang kebutuhan yang lain. Sengaja tak membeli mangkuk dan piring, lebih sering makan dibungkus kertas minyak dan dimakan berdua. Itu juga tidak mengurangi kenikmatan makanan yang kami lahap. Suamiku lebih pandai menawar harga, aku lebih memilih diam dan menyodorkan uang jika harga sudah disepakati.

Kasur dan lemari tak kami jumpai di Pasar Jihong Kemayoran. Aku melihatnya seperti pasar Tambak yang ada di Serang. Ketika malam justru pembeli berhamburan memenuhi jalan. Sampai menuju pulang, kami berhenti di tepat toko kasur yang hampir tutup. Meski kekurangan uang dalam dompet, encik penjual itu mau menerima kekurangannya usai menggesek ATM terlebih dahulu. Sambil dibawakan barang hingga sampai dalam kontrakan. Malam pertama tanpa guling, biar kami saling memeluk.

Pasar Johar Baru, menjadi malam kedua yang kami datangi berburu rak, cermin, jam dll. Perdebatan dimulai usai melihat guling antara perlu dan tidak perlu. Kami saling memandang, malu untuk berkata iya.
"Satu atau dua My?"
"Satu boleh gak By?, nanti gantian yah" aku mengurai senyum

                      ***

"Semua kemeja tak ada yang rapi bagian kerah" nada pelan itu seperti sambar petir. Aku menggosok dari kardus yang baru dibongkar lima hari lalu. Dari kontrakan yang lama saat ia masih membujang. Puluhan kemeja itu dianggap tak ada yang rapi.
"Yaudah gosok aja sendiri"
"My, kalau dibilangin ngelawan"
"Tapi tidak begitu pemilihan katanya, yang minoritas jadi mayoritas, jadi kesannya semua salah"
"Tapi memang begitu keadaannya koq"
"Apa sudah dicek satu persatu, bisa jadi ada yang rapi kemeja yang lain"
"Emang gitu koq, dulu hubby bisa menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk menyetrika sebuah kemeja. Terutama bagian kerah, lengan dan jahitan kanan kiri. Bagian yang pertama dilihat itu wajah. Dan bagian kerah paling dekat, jika kusut, ya sudahlah semua terlihat tidak rapi"
Bulir mata ini menderas tanpa terbendung lagi. Rasanya ingin membela diri lagi. Berada lingkungan keluarga besar perempuan dan merantau dilingkungan perempuan sangat jarang menyetrika baju lelaki. Baju berkerahku sangat sedikit, lagi pula detail bagian leher hingga dada tertutup uluran hijab. Sehari bersamanya membisu. Kami seperti patung dengan seribu bahasa. Tapi tanggannya masih menggenggam erat sat kami menyebrang jalan raya. Di meja kerja kami asik mencolek layar sentuh, ditemani kepulan asap rokok yang tiada putus. Aku tahu dia marah, aku juga kesal.

Kutarik tumpukan kemeja yang sudah tersusun menggunung itu. Satu demi satu kusertika kembali tanpa bicara. Kali ini aku absen tanpa ikut suami ke toko. Waktu yang tak sebentar menyelesaikan kemeja yang hampir semua kotak-kotak warna gelap itu.
"Hubby berangkat" ku ulurkan tangan dan mencium punggung tangannya
"Maafin Amy, By" kami berpelukan, dikecupnya ubun-ubun kepalaku
Kupandangi kepergiannya dari balik pintu hingga punggungnya sampai menghilang dari edaran pandang. Berlari menuju jendela, hal serupa yang kulakukan. Ku pandangi dari belakang lelakiku berjalan santai sambil membakar putung rokok tanpa sepengetahuannya.

 Menjadi istri yang bertitel sholihah sesuai syar'i, bagiku tidak semudah teori yang sudah kubaca. Diperintah tanpa ah, melayani tanpa keluh kesah. Entah itu berangkat dari rasa cinta atau tidak. Merangkak mengarungi bahtera perlahan menyesuaikan, tak selamany indah terjalin. Justru pertengkaran kecil itu yang membuat rindu, mengikat kuat rasa memiliki. Sedari Taman Kanak-kanak aku mengenalnya. Mengenal seutuhnya setelah mengikrarkan janji suci, tanpa pacaran. Ya, dia terkadang seperti bukan yang aku kenal sebelumnya. Sempat tak direstui sebab masalalunya yang terekam hitam dimata orangtuaku. Dia yang memintaku meninggalkan celana berganti rok atau gamis dan membuang kerudung mungil dan bersalin khimar yang menjulur lebih lebar, kalau bisa menutup pantat πŸ’—


                             *****

"Tumben hari ini sepi, tidak ada gerobag dangdut keliling bertubi-tubi" obrolanku mulai
"Emang biasanya?" Suamiku santai membalas
"Saat kita rebahan usai magrib saja biasanya susah tiga sampai empat potongan lagu dangdut berlalu"
"Mungkin mereka kapok, jarang ada yang mengulurkan tangan, kita aja gak pernah kan?"
"Tapi kita berada dilantai paling atas, apa sopan jika melempar receh dari balik jendela?"
"Maulah, mereka butuh duit buat makan"
"Gak setega itu juga cara memberinya, mereka mendapatkan rizki menginginkan dengan cara terhormat"

Musik berseliweran kencang telah menjadi pemandangan yang lumrah. Semacam hiburan gratis yang silih berganti. Entah berapa kilo meter mereka tempuh untuk menjajakan musik dan suara pas-pasanya. Bunyi gendang yang bertalut-talut dikemas dalam gerobag yang berisi salon, mesin disel dan keyboard elektrik. Ada yang mengedarkan ember bekas cat dari pintu ke pintu sambil membunyikan kecrekan. Mereka terbiasa dengan angkat rangan sebagai pertanda penolakan. Semangat mereka tercermin dari ketidakmenyerahan berjuang untuk menghidupi hidup. Untuk makan, biaya sekolah anak, bayar kontrakan dan membeli bedak lagi gincu πŸ‘„

Kampung Galur, kelurahan Johar Baru yang padat penduduk. Bertetangga dengan Kampung Rawa, kampung terpadat di Asia. Tak jauh dari tetangga, ukuran rumah ideal tak menjadi patokan hidup bahagia. Kamar 3x3 saja ditumpangi satu keluarga lengkap, ayah, ibu, kakak, adik, bahkan ada mertua atau sanak famili yang lain. Sudah tak terhitung semenjak bermukim disana, lelagi ada pengumuman dari towa masjid tentang berita duka. Sudah tak terhitung lelagi ambulan bersirine kencang wara-wiri tepat didepan kontrakanku. Kepadatan penduduk yang tak sangat mengakibatkan tingkat kematian yang cepat dan begitu pun kelahiran lebih cepat lagi.

Takut? Tidak. Lebih baik sendiri tanpa siapapun dari pada ada orang namun meresahkan. Dari balik jendela tanpa rasa takut kami melihat tawuran antar kelompok dini hari. Pernah juga kejar-kejaran polisi dengan bandar narkoba ditengah pekat malam. Melihat para warga yang tenang dan tidak panik membawaku ikut tenang juga. Pemandangan itu kerap ada dikawasan kampung itu, gang -gang bisu menjadi saksi darah muda itu menumpahkan emosinya kasar. Sampai beritanya masuk koran berulang, beberapa bulan lalu ada korban tawuran. Tawuran yang selanjutnya biasanya juga gegera balas dendam, nyawa dibalas nyawa. Bapak-bapak paruh baya hanya menonton dari kejauhan. Begitu pun suamiku, kegaduhan yang mengganggu tidurnya hanya ditengok sebentar kemudian terlelap lagi. Usai mendengar sirine polisi itu menguing, mereka kocar-kacir terpencar. Sambil menerobos kerumunan pemuda yang terlibat tawuran mengumpat kekesalan. Ihwal ini, aku mencocokkan polisi sebagai inspektur vijay dalam film India, yang datang usai pertempuran terjadi πŸ˜€

                                                                        ***
Baiklah, mengalah untuk menang. Tidak ingin kebencian ini timbul sementara kita tak pernah saling mengenal. Sejak kembali usai lebaran, statusmu berganti menjadi tetangga terdekat. Aku tidak bermaksud untuk sombong, namun suara gaduh dan tangis tengah malam hingga pagi berhasil membunuh ingin tidurku, jiwaku terbalut kalut. Tak cukup jendela itu ditutup rapat-rapat. Kalau pagi saja, biar musik cadas memutar kencang, biar kalah saing suara kalian yang saling membantah.

"Beberapa hari ini kita terdzalimi tetangga yah Bi" ujarku membuka percakapan pagi,
"Hehe, yang ada mereka yang merasa saling mendzalimi, suami mendzalimi istri dan begitu pun sebaliknya"
"Ada hak anak yang wajib dijaga di sana"
"Terkadang dalam kondisi emosi, mereka mengusung tinggi ego masing-masing dan melupakan kehadiran buah hati" suamiku membalas
"Sebagai tetangga juga kita harusnya dijaga, didalam hadits disebutkan (Tidak akan masuk surga tetangga yang tidak membuat tetangganya nyaman) "
"Sudahlah, bagaimana mau menghormati tetangga kalau orang terdekat saja diperlakukan demikian, (Sebaik-baik suami adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya (Alhadits).
"Berarti kita berbuat tergolong selemah-lemahnya iman dong Bi, ketika melihat kemungkaran hanya bisa mendoakan dan mendiamkan" cetusku
"My, mereka warga sini asli, sudah tahu bukan kebiasaan orang sini? Hubby khawatir jika ikut campur muka kita sudah dicatat dikepala mereka. Kita cari aman saja, kita numpang di ranah ibu kota"
"Baiklah Bi, toh tinggal menghitung hari kita bermukim dikotak lantai tiga ini" πŸ˜€

Barangkali benar, dimana pun tanah seringnya jika bumi sudah dipijak memilih diam menjadi jalan paling aman. Menuruti imam lebih baik, orang terdekat mana lagi akan melindungi diri kita jika hidup hanya berdua, aku dan suami. Memilih untuk pindah jadi pilihan yang tepat. Bukan perkara tetangga yang beradu emosi saja, tetapi tetangga yang lain ada yang membawa wanita ditengah malam kedalam kamar. Lalu, pagi hari jejak wanita itu lenyap. Mulanya alasan pindah tak kunjung dijumpai. Tespek minggu shubuh menunjukan garis merah dua. Segala puji bagi Allah, tiga purnama usia pernikahan rahim ini sudah dihuni makhluk yang manis itu. Dan menjaga janin untuk tidak capek naik turun tangga ini menjadi alasan.

Tuesday, 26 July 2016

Kirab Pengantin Dukuh Kweni

Kirab Pengantin Dukuh Kweni

Yuuhuuu kali ini aku benar menceritakan tentang prosesi mantenan ala desa Dukuh Kweni Kelurahan Adisana Kecamatan Bumiayu. Bukan pernikahan ala kerajaan atau royal wedding kayak di Backinghum Inggris. Pernikahan yang sangat sederhana tanpa menyebar undangan atau ulem-ulem dalam istilah jawa. Yang membuat spesial kali ini adalah pernikahan orang sekampung.

Sedikit tidak menyangka kalau jodohku berada di pantat rumah. Selisih se RT, aku di RT 6 dan lelakiku di RT 07, mungkin jika dataran rata jaraknya tidak lebih dari sepuluh meter saja. Mmmh bisa dikatakan tetanggaku idolaku atau suami lima langkah hehe gak papalah. Banyak yang berspeklulasi kami berdua saling menanti. Mhhh sama-sama memendam dan menahan cinta, lalu keduanya tersangkut ke orang lain. Yang benar, kami diperjalankan Allah di saat yang tepat.Tepat 25 April 2016, usai 26 Maret lalu dipinang. Sehingga aku memutuskan mahar yang sama dengan hari perjanjian suci sehidup semati, Rp 250.416 dibayar tunai. Syah! Halal :)

Proses yang begitu cepat menjadi bagian kejutan dalam sejarah hidupku. Awal konsep nikah sangat sederhana, tanpa perayaan besar dan bawaan yang seadanya, begitu pula dengan nominal mahar. Terlahir dari keluarga biasa menginginkan pernikahan yang benar-benar mengikuti sunnah Rasul. Berupaya keras menyampingkan adat dan hura-hura berharap berkah dan sedikit mengurangi kendala. Kembali, kami harus tunduk dan patuh dengan anjuran orang tua. Kami sadar dengan kepatuhan itu sama dengan menjaga perasaan beliau. Menjadi omongan orang kampung masih menjadi alasan momok jika tidak menuruti adat. Bisa dilihat dari bawaan, prosesi dan apa saja yang bisa diungkit menjadi sebuah keburukan, yang sudah dibumbui suudzan (:naudzubillah mindzalik).
Terlahir dari dua keluarga besar, sekarang rumah tangga kami seperti keluarga raksasa. Aku terlahir dari 9 saudara, terdiri dari 1 laki-laki dan 8 perempuan. Sedangkan suamiku terlahir dari 8 bersauda terdiri dari 7 laki-laki dan 1 perempuan. Emak sendiri terlahir dari 10 bersaudara, mamah mertua jugak terlahir dari rahim ibu beranak banyak, tepatnya ber-8 saudara dan mamah sebagai anak tertua. Bisa dibayangkan, tanpa mengundang banyak orang saja, isi rumah sudah dipenuhi banyak orang.

Judulnya mengikuti adat kampung desa Dukuh Kweni, kelurahan Adisana kecamatan Bumiayu, dari persiapan untuk seserahan hingga usai ijab ditunaikan. Mau tidak mau harus mengikuti tutur pitutur petuah orang tua. Dari pihak mempelai wanita diminta untuk mempersiapkan kemeja putih, celana hitam, songkok, sarung, benting (bengkung = kain panjang untuk mengencangkan perut usai melahirkan) yang diganti korset ☺, baju untuk mertua. Sedang untuk acara kirab (kunjungan mempelai wanita ke rumah mempelai pria dalam kondisi masih riasan pengantin) mempelai wanita membawa kasur, rantang yang berisi nasi dan lauk pauk lengkap. Sementara dari pihak lelaki mempersiapkan seserahan, pemberian untuk mempelai wanita. Pada umumnya semampunya, tetapi yang berwujud perlengkapan semua busana termasuk dalaman, mukena, perhiasan, kue-kue, beras, sepasang ayam. Semua itu dibawa rombongan keluarga yang dikemas rapi dan cantik. Mengingat kami memutuskan untuk hidup di Jakarta seserahan yang berupa gerabahan ditiadakan, termasuk kambing. Nantinya, usai hajatan usai kambing itu dipotong dan dikirim penganten ke saudara-saudara dari kedua pihak. Kosmetik pula ditiadakan, meskipun sudah ditawari aku menolak. Toh aku tak menyukai berdandan, harga sepaket make up saja sudah mahal. Honestly, takut memberatkan ☺ Semua bisa berubah berdasar kesepakatan kedua belah mempelai.

Memutuskan menikah di KUA menjadi alternatif yang menyenangkan. Selain tanpa dipungut imbalan, berbondong-bondong diiring warga tentu sesuatu hal yang menggembirakan. Tak perlu waktu lama menanti, tak sampai 30 menit prosesi ijab qobul berjalan tanpa halangan yang berarti . Kebetulan, ketua KUA sudah berteman dekat dengan adik ipar. Keluarga besar dan rombonhan tetangga ikut menyaksikan ikut heboh.


Kami digiring ke Kawedanan, sebuah gedung terbuka yang tak jauh dari KUA. Gedung terbuka yang biasa digunakan untuk kepentingan pemerintah kecamatan Bumiayu. Dengan banyaknya saudara yang ada, kami diminta berpose sesuai keinginan mereka. Berlatar belakang ukiran jepara berhasil mengumpulkan memuat keluarga besar dalam satu bingkai, dengan berbagai gaya dan tak terhitung berapa kali jepretan mata kamera.

Acara kirab sendiri diawali dengan tamu dari keluarga mempelai pria yang menjemput pengantin untuk ke rumah pengantin lelaki. Seperti acara sebelum seserahan, keluarga lelaki yang menjemput. Kami diiring dengan keluargaku sambil sepayung berdua dengan lelaki meski tak hujan dan tak begitu menyengat. Awalnya tanpa payung, berhubung omongan ibu-ibu yang bertubi-tubi tak terelakan lagi. Sepupuku mengambil payung cantik dari rumahnya yang tak jauh dari rumahku.
Proses seserahan dalam perjalanan dari calon mempelai pria ke wanita



Sesampainya dimulut rumah mertua, kami tak langsung memasukinya. Keluarga di dalam sedang mempersiapkan saweran (uang receh yang dicampur beras kuning dan permen kemudian disebar di halaman rumah dan jadi rebutan pengiring pengantin dan tamu kondangan). Ini yang disebut kirab atau ngirab. Tak lama ngobrol dan berfoto ria, aku dibawa ke kamar oleh mertuaku. Sedikit dandanan hijab ala rias pengantin dibongkar agar terlihat rambut. Perias mengambil bagian atas telinga, biasanya bagian pelipis, berhubung detail hijab bagian tsb sedikit rumit. Sisir dan minyak sayur dipiring kecil mertua bawa ke dalam kamar. Dengan membaca basmalah, sedikit rambut yang terlihat diberi minyak kemudian disisir manja. Ada ciuman gemas dan pelukan hangat berulang dari mamah mertua, sambil memberi amplop putih, "buat beli kosmetik" kata mamah.
Proses saweran sebelum memasuki rumah mertua




Aku bersama adik, kakak dan keponakan

Halal


Sampai sekarang, 3 purnama aku menjalankan rumah tangga tak satu pun jawaban yang jelas tentang makna dari kirab. Kata bu Lik Soliha (adik emak) "Ini simbol pertanda mamah mertua sudah tua, harus lebih dewasa lagi", berbeda dengan Lik Hikmah (adik mamah) " Biar malas hilang" sambil senyum sumringah. Sementara emak dan bapa sama-sama menjawab "itu mah adat wong kuno" sambil tertawa lebar. Emak menambahi, jika zaman dulu lebih lengkap. Ada tradisi sebelum malam pertama mertua membalikkan kasur pengantin dan mempelai wanita menadahi kotoran yang ada dengan bajunya. πŸ˜€

Lumayan seru mengikuti ritual menjadi pengantin adat sekampung. Tak ada pecah telur, tarik-tarikan ayam atau lempar-lemparan daun sirih. Tak ada aturan yang membelenggu semua berjalan mengalir tanpa halangan yang berarti. Ohya, ada satu yang ingin aku ceritakan tentang sarung BHS. Sebenarnya sarung katun tenun, karena harganya bisa dapat 5 biji dari sarung biasa jadi cara merawatnya berbeda. Dari Bu Lik, Mbah, Emak komplain saat sarung itu dicuci dan dijemur seperti sarung biasa. Harusnya sarung tsb cukup dikucek tanpa sabun dan dijemur membentang bagian bawah diberi pemberat. Wajar, dengan harga yang cukup menguras buat orang kampung wajar dengan perawatan yang sangat diperhatikan. Sarung ini dibuat dengan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dari benang sutera yang ditenun bisa sampai sepekan baru jadi.
Bersama keluarga besar dari suami

Thursday, 7 April 2016

Menguras dan Mengurus Andon di KUA


Mengurus Andon di KUA

Merencanakan menikah tentu dilanjutkan dengan proses mengurus persyaratan di kantor pemerintah. Menjadi warga yang baik sudah seharusnya mengikuti prosuder yang ada. Aku sendiri terlahir dan besar di daerah ngapak, Bumiayu. Seiring kebutuhan mencari pekerjaan saat itu disesuaikan dengan tempat tinggal. Yah, sekarang KTP, KK, Paspor menjadi warga Kota Serang, tepatnya Perumahan Puri Citra, kampung Pipitan.

Sekedar berbagi pengalaman saja, Senin 04/04 aku mengurus surat numpang nikah. Sebagai salah satu syarat yang diajukan ke Kantor Urusan Agama (KUA) agar bisa menikah di tempat yang diinginkan kedua mempelai. Rencana nikah di akhir April akan diselenggarakan.

Mengurus berkas persyaratan nikah itu gampang-gampang susah. Menjadi sedikit rumit tidak lain demi kenyamanan kita sebagai warga negara yang taat hukum dan nantinya akan terlindungi atas ikatan hukum itu. Hikmah salah satunya tidak menggampangkan urusan nikah, tidak cukup menikah syah secara agama saja. Melainkan syah secara hukum adat, negara dan agama itu sendiri. Begitu pula soal :maaf cerai. Yah, menikah berbicara surat dan kawin bicara menyalurkan urat hehe

Berikut berkas yang harus disiapkan untuk mengurus surat numpang nikah.
a. Fotocopy KTP
b. Fotocopy KK
c. surat pengantar RT & RW
d. Ijazah pendidikan terakhir
e. Bawa foto 2×3 2 lembar, 3 x 4 2 lembar (warna merah untuk tahun kelahiran ganjil dan biru untuk genap)
f. Bawa juga Fotocopy KTP orang tua (buat jaga-jaga daripada bolak balik)


Sesampainya di kelurahan yang sepi pengunjung, aku ditemani kakak ipar disambut ibu berseragam dan seorang bapak. Obrolan panjang itu menggelar banyak cerita dan diujung obrolan perempuan itu mengingatkan kami tentang (biaya) administrasi yang berbeda. Sebab, pada umumnya yang mengurus surat numpang nikah ( andon) pihak mempelai laki-laki, jadi harganya berbeda, menurutnya.

Aku dibawa masuk sambil mencocokkan data yang ada dengan pertanyaan seputar identitas itu. Petugas kelurahan itu mengetik berkas berikut:
>>Surat N1 ini berisi surat keterangan untuk nikah
>>Surat N2 ini berisi surat keterangan asal-usul
>>Surat N4 ini berisi surat keterangan tentang orang tua

Tidak menguras waktu lama, jarak mengetik berkas dan mencetak menjadi lembaran kertas. Yang menjadi mahal adalah tanda tangan lurah tidak bisa digantikan goresannya. Tidak ada yang berwenang, kecuali ya beliau dengan kesibukannya apel dan rapat.

Dengan kebijakan petugas kelurahan kami disarankan pulang dahulu. Lurah biasanya kembali sebelum dhuhur tiba. Kemudian kami bertukar nomor telpon untuk memudahkan komunikasi. Dan benar, beberapa menit sebelum adzan berkumandang panggilan dari petugas kelurahan.

Saat ditemui di meja tugas, nyatanya bukan fisik Bu Lurah. Melainkan sekdes (carik) yang berteman segelas kopi dan putung-putung rokok didalam asbak diruangan berpendingin. Kembali kami diingatkan tentang biaya administrasi dengan uraian yang panjang lebar. 450 ribu tarif yang dikenakan untuk surat andon. Jujur, itu membuat tertegun kaget bukan kepalang. Secara isi dompet hanya 200 ribu. Kakak iparku mencoba menawar, dengan keberatan yang sangat hanya bisa turun 50 ribu.

Begini penjelasannya carik yang berseragam itu, "petugas kelurahan tidak ada dan bukan PNS. Mereka yang bekerja posisinya hanya diperbantukan dan tidak ada gaji dari pemerintah. Beberapa tahun lalu ada, meski 3 bulan  sekali tapi lancar. Tetapi, dengan kepemimpinan yang sekarang dan UU desa belum membuat petugas kelurahan sejahtera. Posisi disini kelurahan bukan desa, jadi kita tidak termasuk dari dana desa itu. Iya saja, untuk membuat KK, KTP petugas bisa saja dibolehkan menandatangi berkas untuk diajukan untuk proses selanjutnya. Tapi, urusan nikah menjadi catatan penting dan tidak boleh sembarangan untuk bertanda tangan"

Blitz itu menyala saat memotret carik yang masih ngalor ngidul bercerita beserta pecahan uang ratusan ribu itu. Kami memendam geram masing-masing. Ada banyak pertanyaan dan hujatan yang ingin dilontarkan. Namun tertahan dan muka garang dan gelisah tak bisa disembunyikan. Sementara carik menerus menatapku curiga dan menerangkan panjang lebar. Dan Kakak Ipar ku mencoba menengahi dan menyikapinya dengan bijak.

Menurut keterangannya, "200 ribu itu sebagai pengganti upah transport, upah ngetik, tinta pena, kertas dan toner printer. Itu pun ia tak menelan sendiri, nanti akan dibagi ke petugas yang lain. Sedang 200 ribu sisa untuk petugas KUA, soalnya, nanti dari petugas Kasos KUA yang mengawal kami dari sini"  cukup mengembangkan sebaris senyum pertanda kami pun sepakat.

Sesampainya di KUA, berkas sudah lebih dahulu diserahkan ke petugas tata usaha oleh kasos yang mengawal tadi. Sambil menunggu berkas itu diproses, aku menanti proses wawancara perihal nikah dengan gaya santai. Dari tata usaha dilanjutkan berkas dilimpahkan ke penghulu. Beliau seorang yang bergelar haji, sambil menyeruput kopi, sesekali menyantap sepotong kue yang dicelup kekopi itu. Lelagi yang diingatkan soal biaya administrasi. Aku memanggil kasos itu, dan bisik ringan empat mata cukup mewakili.

Menyikapi peristiwa hari itu aku menarik perhatian yang cukup mengelus dada. Di ruang kantor depan sudah tertempel banner himbauan tidak memberi sumbangan berbentuk apapun terhadap petugas, kecuali yang diatur undang-undang. Ini tidak membahas soal ikhlas atau tidak ikhlas memberi. Memandang dari jauh soal perhatian pemerintah terhadap pelayanan masyarakat. Jika mereka benar tidak digaji hingga dengan cara memungut upah dari warga kecil itu hal yang memprihatinkan. Sementara pejabat tinggi dengan gaji dan tunjangan banyak menghidupi hidupnya bermegahan. Dari situlah korupsi itu terbentuk dan membudaya. Harusnya kesejahteraan bukan saja dilibatkan para petinggi tapi didalamnya termasuk pamong, pelayan masyarakat.

Masih ingat penuturan carik dan pengalaman pribadi waktu membuat KK. Membuat KK dan Ktp akan lebih cepat bila diserahkan kepada petugas, dengan syarat ada biaya yang ditentukan. Sementara mereka yang datang sendiri biasanya dibuat acuh tak acuh oleh petugas, baik dari kecamatan atau dinas kependudukan. Maka dari itu, banyak orang kembali ke petugas untuk mengurus urusan berkas kependudukan dan menyerahkan uang terimakasih.

Ini menjadi pekerjaan besar pemerintah yang menjaring para kepala daerah untuk memperhatikan lebih kesejahteraan pamong desa. Minimal meringankan biaya hidup yang serba mahal dan tidak membuat susah masyarakat kecil disekitarnya.




Saturday, 2 April 2016

Memutuskan Jodoh


Memutuskan Jodoh

Dititik mendekati ujung sabar ada jalan lain yang timbul ke permukaan. Mengulik dari kisah pribadi,  saya berharap ini tidak termasuk bagian dari riya. Berbagi saja, toh banyak orang yang merasakan apa yang saya rasakan namun belum mampu dituang dalam paragraf demi paragraf. Keresahan itu sudah mengendap lama dibenak hati dan pikiran. Yang masuk dari sorot pandang mata dan runcing telinga suasana sekitar. Ketika teman sebaya dipenuhi timeline mengumbar foto anak, beserta cerita tumbuh kembangnya, ketika obrolan tentang kebutuhan suami, membicarakan mertua, memusyawarahkan mudik, obrolan membandingkan harga minyak merk yang satu dengan yang lain dan lain-lain. Memilih diam dan berpura-pura tidak mendengar  sementara waktu sepertinya langkah yang baik, meski disitu ada pelajaran yang dibalut iri hehe (gue kapaan? Gue kapaan) sambil menggerutu

Awal tahun ini dimulai peperangan batin dan psikis yang cukup membuat terguncang. Ada balutan egois jugak, ketika adikku memilih untuk wisuda ditemani pacarnya. Seketika itu, sebagai kakak memutuskan untuk tidak menemani acara wisuda jika harus berbarengan dengan pacarnya itu. Walhasil adikku menyingkirkan lelaki itu dan saya bersama keluarga mendampinginya diacara menyematkan gelar sarjana. Tapi dilain waktu, masih dalam satu hari lelaki itu datang saat malam dan kembali datang disiang harinya. Saya envy, iyya. Lelaki itu datang bertubi-tubi didepan mata dan keluargaku saat kondisi rumah dalam renovasi yang masih banyak material dan debu. Menjadi kakak yang akan dilangkah adiknya untuk yang kedua kali rasanya berat. Ukuran ikhlas diri tidak semudah lidah tanpa tulang berucap. Bukan tanpa usaha untuk tegar dan mencoba tenang. Tapi gemuruh hati dan perasaan tidak bisa dibohongi. Bukan pula soal mitos tentang adat langkahan atau mengenal istilah pamali atau hal tabu. Ada banyak kegelisahan, ketakutan yang tak berdasar. Terkesan lebay? entahlah, posisi saat itu dalam gusar, jika ada bisikan setan itu masuk tentu sangat mudah menghasut.

Kemudian berganti hari, "Mba, mau dilangkah apa?" di sore yang tenang seakan menjadi mencekam. Kalimat itu seperti sambaran petir, padahal waktu lamaran dan nikah belum tayang dan terlaksana. Sebagai adik yang baik, harusnya mencoba bisa menjaga perasaan wanita, terlebih kakak kandungnya. Yang sangat sering berbagi suka duka dan keluar dari rahim yang sama. Ada letupan emosi "mobil" ujarku dengan cepat. "Mba, aku orang gak punya, calon ku juga sama orang gak punya, masak mobil?" Nada bicaranya sedikit tersendat ditenggorokan. Sambil berlalu,  saya masih saja nyinyir dengan ketidak berpihakan keadaan menurutku. Keadaan yang sama, tepat tiga tahun yang lalu. Adikku meninggalkan langkah dengan menelan ucapan tak terucap dan menahan tangis.

Ketika dihadapan masyarakat sebenarnya sudah biasa. Hanya saja bentuk khawatir dari orang tua yang menginginkan yang terbaik buat anaknya. Terkadang untuk mengungkapkan kasih sayang itu dengan cara mereka sendiri. Apa daya, harapan bisa dilayangkan oleh setiap makhluk yang bernapas, namun kembali pada ke Tangan Penentu.


Becermin dari rentetan peristiwa itu, rasanya tidak ingin mengalah dengan keadaan. Tabungan yang tak seberapa sudah lenyap untuk urusan rumah. Awal niat menabung untuk persiapan menikah. Kerudung dengan ukuran kecil dan berbahan paris saya sumbangkan kepada lembaga yang membutuhkan. Kebetulan dalam grup whatssapp ada yang membagikan info berbagi hijab. Begitu pula kemeja-kemeja yang masih laya k pakai itu disumbangkan juga. Argh, lega rasanya barang-barang yang dilemari tidak lagi penuh. Niatan hijrah melangkah kearah yang lebih baik sudah terlewati satu tahap. Kerudung perlahan berganti menjadi ukuran lebih lebat dan tentu menguras badget.

Tak cukup itu, disepertiga malam akhir terbangun dan mengadu. Tersedu sedan dengan bait-bait munajat mengharap disegerakan jodoh. Terurai rinci kriteria lelaki calon imam yang didamba usai salam. Lelaki sholeh menjadi prioritas. Saat hujan melebat, saay berbuka puasa, usai 5 waktu dan waktu mustajab lainnya selalu meminta, menyebut kriteria jodoh. Pernah menyebut seseorang jika ingat. Wujud ikhtiar dengan mengikuti grup pencarian jodoh di sosmed, mengadu dengan salah seorang ustad dan ditaarufkan dengan lelaki yang menurut rekomendasi beliau sholeh, namun tak berlanjut hingga tahap selanjutnya.

Jodoh takkan kemana, itu lah yang tepat menggambarkan saat ini. Lelaki yang tbuh kembang bersama diusia dini,  kembali mendekat. Untuk kedua kalinya mengajak menikah pada tahun 2014 silam. Proposal itu kutolak dengan alasan cicilan keberangkatan umroh masih panjang dan ihwal lain yang tak ku sebutkan. Awal Maret 2016, berulang kali mencoba yakin, dengan banyak pertimbangan. Beberapa kali pertanyaan kesiapan sejauh mana selalu saja terucap siap. "Aku tak punya tabungan" selorohku, "Aku juga tidak mempertanyakan tabunganku, kamu menjadi bagian dari hidupku saja lebih dari rasa syukur" jawabnya. Berkali-kali meminta mengerti akan keadaanku yang masih merasa menanggung biaya kuliah adik bungsuku dan beberapa urisan rumah yang lain. Hu um, aku memutuskan pencarian jodoh dan memutuskan pilihan.

Lelagi dia meyakinkanku dan mengajaknya pulang. Kembali ke tanah kelahiran menikmati suasana dipinang. Sampai tiba di 26 Maret, dia dan keluarga besarnya datang ke rumah. Meniupkan ruh bangkit dari gusar dan mengembangkan harapan untuk mengurai masa depan. Ternyata, lelaki itu sudah memendam suka denganku sejak di bangku SD. Lelaki yang menyebut-nyebutku dalam larik-larik doa. Lelaki biasa yang tidak terlalu tampan, penggemar sekaligus pengguna vespa dan gemar manjat gunung. Sholeh? Dari obrolan dan sikap kami mempunyai kesamaan beranjak dan bergegas hijrah untuk menjadi baik. Lelaki yang dulu dicap bandel bersalin menjadi lelaki dewasa yang berkepribadian bijak.

Rencananya akhir April ini mengetuk palu untuk berganti status menjadi pasutri. Dengan keterbatasan yang ada, sedikit diselimuti khawatir. Memanjat doa agar diberi kemudahan tiada henti diucap. Sebab, nyatanya lelakiku tidak banyak materi untuk menggelar resepsi. Pantas saja, diawal kesiapan itu tak mau lugas mengutarakan nominal uang yang ada. Sederhana saja dan dicukup-cukupi. Mungkin, jika lugas nominal itu disebutkan, aku sudah menarik diri dari kemarin. Dan tidak terjadi cincin itu melingkar dijari manisku. Ah, dasar memilih ka berhasil meluluhkah. Yang ada sekarang semoga rizki dari penjuru arah mata angin menghampiri. Mengiringi hari-hari hingga menjelang hari sakral dan terus mengiringi dikehidupan rumah tangga kami. Keputusan keluarga, kami mendahului pernikahan adikku. Meskipun adikku dilamar dahulu awal Februari lalu. Yakin, janji Allah tak ingkar. Jodoh datang disaat yang tepat menurut prasangka hambanya





Wednesday, 30 March 2016

Lamaran Meluluhkan Rasa


Lamaran Meluruhkan Rasa

15 menit sudah berlalu dari pukul 16.00 wib. Waktu yang dijanjikan tiba didepan istana tua orangtuaku. Sempat pikiran buruk menghantui isi kepala. Ternyata pesan seluler yang terlambat hadir sudah membuat pikiran buruk. Ups, ternyata bukan karena pesan mantan yang mencoba ingin kembali atau berubah pikiran ihwal lain yang tak kuketahui.

Dalam balutan doa usai salam,  aku bermunajat agar acara sore yang syahdu itu berlangsung kondusif. Menyambut tamu baiknya mempersiapkan untuk menjamu, menybutnya. Hawa dingin di kampung halaman membuat ku enggan mandi (aih). Dua kali air sudah mendidih, sekali untuk membuat teh, satu lagi untuk mengisi tremos. Persiapan menyedu kopi. Gelas-gelas bening sudah melingkar rapi diatas baki.

Ah, tamu-tamu itu tak kunjung tiba. Kebaya sederhana dengan kerudung simple membalut tubuh mungil ini. Sengaja sedikit disapu bedak agar tak terlihat pucat dan pilos. Mana ada lipstik atau melukis alis yang bakal menguras durasi. Masih saja menanti dengan menonton tivi dengan acara kompetisi itu. Tanpa lepas dari memantau seluler, berharap ada pesan dan kabar baik. Bunyi pesan, dan bertuliskan "Ada 7 orang lebih, sekarang otw"

Tarraaaa,  "Assalamualaykuuum" rombongan itu datang bersama bocah-bocah yang lincah. Seketika ada yang hilang dari otak ini. Kosong dan tidak tahu harus melakukan apa dahulu. Mereka dayang membawa buah tangan dan menaruhnya dimeja belakang. Beruntung adekku lebih berpengalaman. Dengan sigap dan cakap mengurus urusan dapur dan mendorongku untuk duduk manis diantara tamu yang hadir.

Kursi plastik tanpa sandaran kududuki. Semua kotak-kotak sofa dipenuhi raga dewasa sebagai saksi khitbah. Percis disamping bapa yang menjadi tuan rumah. Beberapa kali aku sempat mencuri pandang wajahnya. Sekali kami saling bertatapan, senyumnya mengembang begitu pula aku. Seperti hujan bunga disekitarku. Berkemeja kotak-kotak padu padan putih dan abu-abu tampak ia tampan saat itu. Niat baik itu mungkin yang menyembur diwajah yang berjenggot manja. Entah hehe seakan wajahnya mengajak buru-buru 'nafkahin aku maas', atau sekedar merayu tukeran tulang. Aku menjadi tulang rusuk dan dia menjadi tulang punggungku. Tidak ada syarat yang lebih utama menurut bapa sebagai syarat imam buat buah hatinya adalah seorang muslim, Islam tak hanya tercatat dalam KTP tapi mampu menghadirkan makna sholat dalam hidupnya.
Here we go 


Aku dan dia berteman sejak usia dini, usia pun tergolong seumuran. Tapi bukan masalah jika pun menghabiskan sisa umur hidup bersama. Sebab ayah dari calon lelakiku sudah tidur dengan tenang dialam berbeda, ada seseorang yang dituakan untuk mewakili dan menyambung lidah atas tujuan kedatangan keluarga besarnya. Seperti bentuk penegasan bahwa kami memang berangkat atas dasar ketidak paksaan dan saling suka sama suka, wali dari calon lelaki memastikan itu kepada kami. Sontak gemuruh tawa memenuhi ruangan tamu berdinding putih itu. Jawaban iya sembari senyum oleh, begitu pula aku menjawab 'enggak (enggak salah lagi) hikhiks.  Langkah selanjutnya setelah kami dipastikan melangkah berkomitmen dengan sepenuhnya sadar. Kami sekeluarga diingatkan, terfokus untuk aku. 'Calon lelakiku bukan orang kaya, orang miskin yang tidak punya harta, dengan paras yang biasa pula'  ujar bapa yang dituakan. 'Yang kaya adalah Allah, sang Pemilik alam semesta, semua manusia miskin' bapa menimpali. Aku kembali diminta dan meyakinkan diri untuk meluruskan hati untuk benar-benar menerima kekurangan yang ada. Aku merunduk sambil mengangguk, ada rasa terharu disana. Ada tatapan elang dari calon lelakiku yang sedikit melonggarkan nafas, ada kalimat hamdalah diucap serempak.

Beberapa menit sebelum kumandang magrib, tanpa kuketahui ada sesi menyematkan cincin. Calon mertuaku melingkarkan dijari tengah, mmmh sedikit kedodoran sih hehe. Kupeluk calon mertua yang dulu sekedar menyapa, nanti beliau jadi ibu aku. Ibu dari suamiku,kedudukannya sama dengan orangtuaku sendiri. Surga suami atas segala restu dari kebaikan ibu. Cincin sebagai pengikat dan tanda jadi. Ini berarti aku tidak bisa menerima pinangan orang lain karena sudah dipinang.


Dari banyak orang yang hadir, masih saja calon lelakiku mencuri perhatian. Sebelum kakinya benar-benar meninggalkan istana tuaku, tak lepas mata ini menyorot ke arahnya. Begitupun dia, sambil berlalu ia meninggalkan gelaran senyum seraya tatapan itu belum saja lepas. Heyy, kita belum halal dan akan disegerakan halal.





Ehm, ada kaan cincin itu meingkaar hehe 

Sunday, 20 March 2016

Menyoal Fesyen Kondanan


Menyoal Kondangan dan Fesyen Wanita

Hey wanita, jujur saja kalau sudah terima selebar undangan biasanya mendadak galau. Ihwal pertama yang ada itu soal baju yang akan dikenakan. "Pakai baju apa yah? " padahal biasanya wanita hobi mengoleksi baju. Bahkan terkadang rela bela-belain utang buat beli baju baru. Dandan sekonyong-konyong koder biar terlihat cantik. Kalau yang ngundang temen terdekat, hugh! Alamat jadi super duper heboh. Kalo yang pakai penutup kepala terus dibuat modifikasi kerudungnya, kayak hijabers diinstagram. Hayooo ngakuuuu hehe

Padahal yang paling memuat repot sendiri itu ya pola pikiran sendiri. Persiapan waktu yang panjang hanya dibayar waktu kurang dari sekitar dua jam dieksekusi. Belum tentu orang sekitar memperhatikan apa yang dikenakan. Pengangkat hajat pun akan sekedarnya menyapa ramah, selebihnya ada banyak hal yang diperhatikan yang lebih mengalihkan perhatian.

Beda dengan lelaki, cukup berbusana kemeja (blouse atau batik) padu padan celana jean atau celana kain saja sudah rampung. Tapi lain cerita jika lelaki akan kondangan dengan pasangan. Biasanya kudu mempersiapkan ekstra sabar. Wanita pesolek tentu akan lebih detil dengan riasan yang menyapu wajahya. Wanita yang bukan pesolek juga biasanya akan berdandan agar terlihat beda dari biasanya. Blush on, eye shadow, eye liner, lipstick, maskara, lensa, bulu mata dan pelengkap yang lain. Belum termasuk sepaket baju, tas dan sepatu yang matching.

Nah lho, kebayang kan ribet bin rempongnya wanita. Satu lagi penataan gaya rambut atau jilbab yang sesuai. Jangan sampai dibilang jelek lho apalagi dibuat nangis. Air mata yang membulir itu merusak polesan bedak, eye liner dan maskara yang non waterproof ikut meleleh juga. Walhasil riasan rusak, mata dilingkari bayangan hitam dari lunturan polesan tadi. Wah, sedikit seram kayak di film horor hehe

Tulisan ini terinspirasi dari penggalan cerita temen-temenku. Walaupun tidak semua demikian. Menjadi diri sendiri tentu akan lebih nyaman. Hakikat mengenakan busana itu menutup aurat. Semakin sederhana (tidak tabarruj) dengan menutup aurat semakin syar'i. Wallohu a'lam bishshowab :)


Thursday, 17 March 2016

Menjelang Kepala Tiga


Menjelang Kepala Tiga

Dikatakan cemas sebenarnya tidak,  hanya saja sedikit khawatir. Selama kurun waktu melebihi seperempat abad menikmati dan dinikmati persoalan hidup. Lepas dari seragam abu-abu putih sudah terlatih bergelut dengan dunia yang sesungguhnya. Belajar tidak bergantung dengan uluran tangan orangtua. Tertatih menghidupi diri, dari mengatur keuangan yang cekak, minus sampai kedodoran. Hingga jurus hemat, irit sudah sangat bersahabat.

Bahagia? Tentu bahagia. Masa masa seperti itu memupuk diri untuk terus berbenah. Menyesuaikan lingkungan yang baru dan gaya hidupnya. Semakin lemah prinsip semakin mudah ikut tergerus, sedang semakin kuat prinsip, semakin kuat berdiri dan menyusup rasa percaya diri. Beruntung,  aku berada di lingkungan yang masih bisa susupi dengan mudah. Lingkungan yang sederhana dan penuh canda tawa. Tidak terlarut dengan kebahagiaan itu. Soal gaji, tidak menjadi momok saat meraih pekerjaan. Meskipun dengan jalan ngutang ditempuh saat akhir bulan. Biasanya tidak sendiri, ada teman yang mensupport hehe (dasar mental karyawan)

Ada hal lain, di lingkungan yang bukan kampung biasanya tidak dekat dengan tetangga. Yah, aku sudah satu dasawarsa merintis karir. Dan ada banyak wanita karir yang tenggelam dalam kesibukkannya. Lupa menikah? Oh tidak. Jika sedikit trauma bisa jadi. Tinggal berjauhan dengan orangtua biasa teror nikah via ujung seluler. Penyebab teror makin memanas biasanya setelah tetangga kampung hajatan dan usianya lebih muda dariku. Hugh! kalau ortu sudah berbicara pakek nada baper rasanya pengen cepet-cepet matikan obrolan. Yang sering diocehin bab percakapan berikut "orang tua sudah sepuh, umur manusia tidak ada yang tahu. Biar plong ada yang bertanggung jawab dunia akherat atas dirimu" honestly bikin mrebes mili.

Setahun menjelang kepala tiga sudah tak terhitung cibiran kapan nikah. Benar memang tersalip teman-teman yang diberi kesempatan duluan. Sesungguhnya bukan soal balapan yang duluan yang menang, bukan. Ada banyak peran Tuhan dalam ihwal jodoh. Beberapa orang ada yang mengatakan kita yang memilih Tuhan yang merestui. Restu pertama didapati dari orangtua, keluarga besar kemudian kun fayakun Tuhan yang berkehendak. Bisa saja restu ortu didapati, tapi Tuhan berkata tidak. Jika semuanya merestui bersama semesta mendukung maka pernikahan itu terjadi.

Ohya, bicara tentang cibiran orang -orang yang mengatakan "Dasar pemilih, makanya susah" Nah, kalimat itu yang membuat raut wajahku sangat garang. Baik, semua orang mempunyai mimpi, mempunyai kriteria calon pendamping hidup. Mengadu kepada Pengatur alam dan seluruh isinya dengan detail calon usai 5 waktu ditunaikan, saat berbuka puasa, saat hujan melebat dan saat sepertiga malam. Hampir semua wanita dan laki-laki dewasa dan single mendamba pasangan yang baik akhlaknya, lebih fokusnya sholeh/sholehah. Bukan begitu? Sudah seharusnya sadar, Allah adalah sebaik-baik Perencana. Dalam catatan mendapatkan pendamping disegerakan bukan karena sudah ada jabang bayi atau sudah kena ciduk gerebeg warga hehe

Menyikapi masalah di atas pasti menyangkut emosi. Menggali perasaan bikin mewek, biadanya sebelum bobo, menyendiri, marah, susah makan, susah tidur, bikin mood boaster untuk menulis status bergalau-galau ria. Tidak cukup dengan menggelar bait-bait doa, melainkan bersama hati yang membuka diri untuk membangun cinta.  Yakin, janji Allah tidak pernah ingkar. Diciptakan makhluk yang berpasang-pasangan. Akan ada seseorang yang menyebut namaku acap kali doa dilangitkan. Yang mencintai dalam diam, namun tangga doanya kembali ke bumi memberkati. Yang berusaha memantaskan diri sampai benar ia menjadi cerminanku *^▁^* Menjadi teman hidup yang bersama-sama menuntun ketaatan untuk dekat dengan Sang Pencipta, hingga nanti bisa bergandengan di surga Nya.








Wednesday, 2 March 2016

Merangkak Berbusana Syar'i


Merangkak Berbusana Syar'i

Membenarkan soal penampilan menurut gaya hidup menjadi hak setiap orang. Setiap orang mempunyai ciri khas dalam mengenakan busana. Busana sendiri mencerminkan kepribadian pemakainya, meskipun terkadang penampilan hanya kamuflase dari kepentingan lain dari diri pemakai. Sebagai orang timur sejak kecil sudah dianjurkan untuk berbusana yang sopan, tidak senonoh. Sopan menurut agama dengan sopan ukuran adat dan negara akan berbeda. Sopan menurut agama Islam sudah tercantum dalam Qs. AL Ahzab:21.

Berbicara hijab Islam sangat tegas untuk mewajibkan bagi muslimah saat sudah baligh. Namun pada kenyataannya berbagai alasan membebani kaum hawa ini. Kaum yang diberi anugrah kecantikan sering lalai dengan kemolekan tubuh dan paras ayunya. Ada juga masalah siap dan tidaknya yang masih saja tak kunjung akur dengan hati. Konon katanya, sebelum raga yang tertutup akan menghijabi hati dulu, aih!

"Dih, kamu koq jalan-jalan pakai gamis? Emang gak ribet?" Kalimat itu pernah terlontar dari bibir sendiri , begitu pula beberapa teman disekitar. Di awal merangkak syar' i ada proses yang dinamakan dengan berdamai dengan hati. Dari proses pencarian busana yang sesuai selera, dari bentuk model, warna dan ukuran sangat berpengaruh. Tidak semua wanita yang mendapat hidayah menerima aturan Islam secara kaffah. Berhijab dengan abaya seperti wanita Arab adalah pilihan. Wanita muslimah di Indonesia sudah menjadi kiblat dunia soal fashion berbusana muslim. Mengingat design sudah tidak ketinggalan jaman dan tembus pasar internasional. Kembali ke pribadi masing -masing mengikuti aturan yang ada di alkitab atau terseret hijab yang mengikuti era. Dan sungguh diulang -ulang dalam ayat Al quran keistimewaan manusia dengan berakal, yang mampu membedakan baik dan buruk.

Dengan catatan masih dalam rel yang ada, seperti tidak ketat, longgar,  tidak transparan, tidak menyerupai laki-laki, menjulurkan jilbab hingga menutupi dada. Nah, yang belum saya sempurnakan yaitu memakai gamis yang tidak mencolok. Padahal warna baju terbaik untuk wanita adalah hitam sesuai Aisyah, istri nabi. Gamis yang ada dipasaran, lebih banyak  dikemas untuk kepentingan masyarakat umum, jadi yang tidak memakai jilbab pun bisa memakainya. Ada beberapa produk yang benar mendesign gamis untuk wanita berhijab, jadi potongan dan model sesuai syariah. Wajar, jika harga gamis tersebut sedikit mahal rata-rata diatas 150K, jika sepaket dengan hijab atau niqob bisa 200K.

Bisa dilihat,  kerudung yang ukuran lebar 100 - 105 meter bahan paris biasanya tak lebih dari 50K, jika ada merk ternama akan lebih mahal. Tapi jika kerudung syar'i dengan ukuran 115 - 130 meter bahan tebal dipasaran dijual dari harga 45-75K. Dari sini bisa diculik sedikit kesimpulan menuju ke surga yang mewah itu tidak murah. Dan semoga jalan menuju hijrah dari niat hingga aksi nyata ada banyak pahala didapati.

Pengalaman umroh tahun lalu, melihat wanita diseluruh dunia waktu itu. Kerudung dengan model yang beraneka ragam model,  bentuk dan jenis bahan hanya dimiliki oleh wanita Indonesia. Melihat abaya hitam juga beragam model dengan potongan lurus berhias benang emas atau bordir tetapi jenis bahan yang membedakan. Semakin bagus bahan dan potongan detail yang rumit akan semakin mahal.

Menjadi muslimah yang sesungguhnya bukan sekedar fisik yang tertutup auratnya, melainkan harus satu paket dengan akhlak yang meliputi hati, pikiran dan lisan. Menjadi pribadi yang aman untuk semesta dengan bekal yang ilmu,  Islam,  Ikhsan dan taqwa yang sebenar-benarnya. Menuju jalan yang lurus memang tidak mudah, lika - liku tentu akan dilewati. Bertahan istiqomah dalam kebaikan